Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Sayyid Fadhlullah: Tentang Buku, Hak Cipta, Penulis, dan Penerbit

image

Soal 1: Apakah hak cipta mempunyai tuntutan material? Apakah mencetak diizinkan tanpa memperoleh kewenangan penulis atau penerbit mengingat yang belakangan mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan persetujuan penulis yang pada tahap-tahap awal perjanjian, lebih-lebih uang yang ia belanjakan untuk persiapan (penerbitan) buku? 

Jawab: Mempertimbangkan hak-hak para penulis dan penerbit berhak atas penerbitan maka mencetak tidak diizinkan tanpa memperoleh izin mereka. Dalam arti umumnya, suatu buku mempunyai suatu pertimbangan finansial yang berbeda dari keyakinan umum yang biasa berlaku pada waktu sebelumnya. Keyakinan lama ini menyatakan bahwa nilai finansial suatu buku terletak pada salinan asli yang pengarang miliki. Sebagai konsekuensinya, mencetak salinan (copy) yang dimiliki oleh penerbit tidak dipandang sebagai pelanggaran atas kekayaan intelektual seseorang, karena ini tidak mewakili suatu pelanggaran atas properti pengarang karena yang ia miliki tak lain hanyalah salinan.

Sebaliknya, pandangan baru yang logis menganggap bahwa nilai finansial suatu buku berada pada aspek kualitatifnya, yang berarti bahwa mencetak suatu buku tanpa suatu izin merupakan pelanggaran atas hak pengarang atau penerbit itu. Maka pihak mana pun yang melakukan pekerjaan seperti itu dianggap sebagai pencuri, perampas, dan pelanggar sebab uang yang terkait kepunyaan suatu pihak tertentu. Demikian juga, pertimbangan ini berlaku bagi semua hal yang orang-orang bijaksana anggap membawa nilai finansial dalam kualitas mereka selain keberadaan fisik mereka seperti penemuan dan semacamnya.

Sesungguhnya, semua ini bersumber dari landasan yang sangat padat dan baku yakni nilai finansial dari uang berbeda sejalan dengan variasi pertimbangan logis yang benar-benar berkembang, dalam cara memandang berbagai hal yang bersesuaian dengan perkembangan situasi ekonomi yang akan, secara alami menuntut baru. Tidak ada sesuatu yang benar-benar menunjukkan bahwa kita harus berpegang teguh pada pola lama dalam situasi atau masalah-masalah, terutama mengenai nilai finansial dari uang karena isu tertentu ini berubah dan tumbuh selaras dengan kebutuhan yang di atasnya pandangan dan pertimbangan didasarkan. Tentu saja, apa yang tidak punya nilai finansial mungkin memperoleh karakteristik ini seperti uang kertas. Apa yang memiliki nilai ini mungkin hilang jika pertimbangan yang sebelumnya bisa lenyap efektif seperti mata uang dihapuskan. ***

Soal 2: Kadang-kadang lembaga-lembaga penerbitan mencetak salinan-salinan itu lebih dari yang disetujui dengan pengarang dan kadang-kadang mereka mencetak lebih dari satu edisi tanpa memperoleh izin dari pengarang. Apakah mereka secara hukum dibolehkan untuk melakukan hal seperti itu? 

Jawab: Tidak. Mereka tidak dibolehkan karena ini menunjukkan suatu pelanggaran atas antara pengarang dan penerbit di satu sisi. Dan ini merupakan pelanggaran atas hak-hak pengarang untuk mempunyai karyanya yang diterbitkan seperti yang ia harapkan di sisi lain. Itu benar-benar merupakan sesuatu yang sebelumnya telah kami bicarakan ketika kami berkata bahwa pengarang tidak hanya memiliki copy yang dicetak atau ditulis yang asli yang bukunya ia punyai, melainkan sebaliknya ia memiliki buku itu sepenuhnya dan semua detil penyalinan yang mungkin tercakup. ***

Soal 3: Apakah pengarang mempunyai hak kepemilikan atas buku-buku mereka yang dicetak pada lebih satu penerbit pada saat bersamaan, tanpa bergantung apakah lembaga-lembaga penerbit ini ada di dalam negara-negara berbeda ataukah bukan, dan tanpa bergantung apakah persetujuan yang pertama meliputi suatu syarat yang berlawanan dengan penerbit ataukah tidak? 

Jawab: Dalam kontraknya dengan berbagai penerbit, seorang pengarang harus paham betul mengenai detil ini. Jika mereka tidak punya reservasi atau permasalahan, maka kontrak dianggap sah. Akan tetapi, jika mencetak dan menerbitkan kontrak meliputi syarat untuk menolak penerbitan materi yang sama oleh penerbit lain, maka dalam hal ini, pengarang tidak dibolehkan untuk mempunyai bukunya yang dicetak dan yang diterbitkan oleh perusahaan penerbitan lain berdasar pada ungkapan, "Orang mukmin menghormati ikrar yang sudah mereka ucapkan.” *** 

 

Sumber: Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005. 

Tue, 3 Dec 2019 @12:23

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved