AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Tanya Jawab Islam
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)

Diogenes: Filsafat sebagai Way of Life [by Jalaluddin Rakhmat]

image

Du müßt dein Leben ändern. 

- Rainer Maria Rilke

Di pantai selatan Laut Hitam, Turki, ada kota kecil. Sinop. Kota tua sekali. Di situ Perikles mendirikan pemerintahan demokratis  2444 tahun yang lalu. Anda bisa memutari kota kecil itu dengan berjalan kaki. Di tengah kota, Anda akan melihat patung orang tua yang memegang lampu. Di kakinya ada anjing. Di bawah kakinya ada tong besar. Dipahatkan pada tong itu DIOGENES.  

Pada tahun 2017 makin santer tuntutan dari orang-orang saleh yang bergabung dengan Yayasan Necmetin Erbakan untuk menghancurkan (atau halusnya, memindahkan) patung itu. Buat Diogenes dari Sinop, sejak ia makhluk hidup sampai berbentuk batu, diusir dari satu tempat ke tempat yang lain bukanlah hal yang baru. Diogenes lahir di kota Sinop, kira-kira 410 SM. Dia kemudian dijual sebagai budak dan meninggal di Korintus.   

Orang-orang Turki yang “saleh” itu tampaknya tidak bangga dengan peninggalan Helenistik, mercusuar peradaban yang pertama. Buat mereka Diogenes adalah penyembah berhala. Dahulu, penduduk Korintus mencintai Diogenes walaupuh mereka sering menjadi sasaran kritiknya. Pada patung yang mereka persembahkan untuk Diogenes, mereka ukirkan kata-kata ini: “Bahkan tembaga sekali pun akan menua karena waktu, tapi kemsyhuranmu, Diogenes, takkan lekang sepanjang masa (secara harfiah: seluruh Keabadian tidak akan mengambilnya).” 

Diogenes adalah tokoh kontroversial. Ia tidak meninggalkan tulisan apapun. Perilakunya ditinggalkan sebagai kenangan indah bagi para pecintanya sepanjang masa. Filsafatnya bukan dibaca dari tulisannya. Filsafatnya diketahui dari tingkah-lakunya yang diceritaakan sepanjang zaman.  

Diogenes (yang lain) dari Laertius, penulis sejarah filsafat yang pertama (?),  mengumpulkan cerita menarik tentang tingkah laku Diogenes dari Sinop. Ketika seseorang tidak berhasil mencari rumah baginya, Diogenes memutruskan untuk tinggal di tong keramik di dekat pasar Athena. Ia setiap hari berkeliling kota dengan ciri khasnya: rambut dan janggut yang gondrong, dua lapis jubah lapuk, tongkat untuk bertelekan, dan ransel.  

Pada suatu hari, ia mengejutkan orang banyak karena pada siang hari bolong, ia membawa lampu ke tengah-tengah pasar. Aku lagi mencari orang jujur, katanya. Pada hari yang lain, Alexander yang Agung mengunjungi Diogenes di Korintus. Kaisar yang bangga, berdiri tegak di hadapannya, memperkenalkan diri, “Aku Alexander, Raja yang Agung.” Dari dalam tong, dengan mencibir, Diogenes  menjawab, “Dan aku Diogenes si Anjing”.  Setelah itu ia terkenal sebagai “Diogenes the Cynic”, Diogenes Sang Sinik. Terjemahan namanya secara literal adalah “manusia yang datang dari Tuhan dan berperilaku seperti anjing.”  

Ia tidak dipengaruhi tekanan politik, ekonomi atau sosial. Tetapi  ia digelari l’uomo piû félice, manusia yang paling bahagia. Alexander sang Kaisar, dengan segala kekuasaan dan kekayaannya, ngiri dengan kebahagiaan Diogenes. Ia  berkata, “Sekiranya aku tidak menjadi Alexander, aku ingin menjadi Diogenes.”  

Jika Sokrates berkeliling di Agora dan mencerahkan pemikiran yang keliru dengan dialognya, Diogenes menyadarkan cara hidup orang yang salah dengan perilakunya. Ia tidak membantah ide dengan argumen; ia menolaknya dengan tindakan.  

Banyak filusuf Yunani yang mempersoalkan secara serius argumen Parmenides tentang tidak adanya perubahan atau gerak, seperti digambarkan dalam paradoks Zeno – Achilles dan kura-kura. Aristoteles dalam fisikanya menentang argumen Zeno dan membuktikan bahwa gerak dan perubahan itu real. Ketika Diogenes ditanya apakah gerak itu ada, ia segera bangkit dan ngeloyor pergi.  

Ketika ia ditanya mengapa orang suka memberi pengemis tetapi tidak suka memberi filusuf, ia manjawab, “Karena mereka berpikir bahwa pada satu saat mungkin mereka lumpuh dan buta, tetapi mereka tidak pernah berharap menjadi filusuf.”  

Seorang pemuda mengeluh bahwa ia tidak cocok untuk menjadi filusuf, Diogenes berkata, “Lalu mengapa kamu hidup, jika kamu tidak peduli bagaimana cara hidup yang baik.” Ketika disarankan orang untuk beristirahat pada usia tuanya, ia berkata, “Bagaimana jika sekiranya aku berlari di stadion, apakah aku harus melambatkan lariku ketika tujuan sudah dekat?”   

Kepada seseorang yang menyatakan hidup itu buruk, ia membetulkan pernyataan orang itu, “Bukan hidup itu sendiri yang buruk, tapi kamu menjalani hidup dengan buruk.” Ketika Diogenes ditanya orang mana ia menjawab, “Aku warga dunia.” Ketika ditanya siapa dia, ia menjawab singkat, “Aku Sokrates yang gila. A Socrates gone mad.” Konon, Socrates gone mad itu dikatakan pertama kali oleh Plato. Di situ ada penghormatan Plato kepada Diogenes karena menyamakannya dengan Sokrates. Tapi di situ juga ada kritik Plato kepada kegilaannya.  

Diogenes paling sering mengkritik teori idenya Plato. Ia lawan Plato paling tangguh. Beberapa kali keduanya bertemu. Plato digambarkan selalu kalah. Pada suatu hari Plato sedang memberi kuliah berkaitan dengan teorinya tentang ide, tentang esensi (Arab: mahiyah; Inggris: quiddity). Ia menunjuk ke sebuah cangkir di atas meja. Ada satu cangkir di atas meja. Tetapi sebelum ada cangkir ada konsep “kecangkiran.” Kecangkiran mendahului semua cangkir tertentu.  

“Aku melihat cangkir di atas meja, tapi aku tidak melihat kecangkiran”, tiba-tiba Diogenes menginterupsi kuliah. Dengan agak jengkel karena interupsi itu, Plato menukas, “Kamu bisa melihat cangkir karena kamu punya mata. Tetapi (sambil memberi isyarat dengan jarinya, menyentuh kepalanya), kamu tidak punya akal (intellect) untuk memahami kecangkiran.”  

Diogenes bangkit dan berjalan menuju meja. Ia memeriksa cangkir, melihat ke dalamnya dan bertanya, “Apakah cangkir ini kosong?” Plato mengangguk. “Di manakah “kekosongan” yang mendahului semua kosong” tanya Diogenes. Plato berfikir sejenak. Tiba-tiba Diogenes mendekati Plato, mengetuk kepala Plato dengan telunjukanya dan berkata, “Kekosongan ada di sini!”.  

Keapaan sesuatu (disebut esensi, “the whatness”, quiddity) diperoleh dengan mendefinisikannya. Ali dan Ani adalah orang-orang yang bisa kita lihat. Orang-orang itu konkret. Manusia itu abstrak. Manusia itu konsep, yang tidak bisa kita lihat. Ia hadir dalam benak kita sebagai definisi. Plato mendefinisikan manusia sebagai “binatang berkaki dua yang tidak berbulu”. Diogenes datang ke kelas Plato, sambil membawa ayam yang bulu-bulunya sudah dicabuti. “Inilah manusia menurut Plato,” ujarnya. Konon, sesudah itu Plato menambahkan “dengan kuku-kuku yang lebar dan rata.”   

Ia menggunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan pesan filsafatnya. Ia tidak membuka kelas filsafat. Ia tidak mendirikan mazhab filsafat. Tidak ada logika Sinik; tidak ada kosmologi Sinik. Walaupun diberitakan ia menulis banyak risalah, tidak ada satu lembar pun tulisannya yang sampai kepada kita. Banyak filusuf mutakhir menulis tentang Diogenes dan aliran Sinik dengan menafsirkan  perilaku Diogenes. 

Ia meninggal dalam usia 90 tahun. Konon, ia menahan nafasnya hanya untuk segera meninggal dunia. Menurut riwayat lain, ia digigit anjing yang menyertainya. Menurut cerita lain lagi, ia makan cumi dan sakit perut. Menurut yang lain lagi, ia berebut cumi dengan anjing-anjing tetangganya. Salah seekor di antara tetangganya itu gila dan menggigit Diogenes. Penyebab bisa macam-macam, tapi maut cuma satu. Banyak yang beranggapan bahwa ia memilih kematiannya. Mungkin ia kelelahan melawan segala hal yang duniawi selama hampir satu abad. Dan kalah.  

Misinya ialah menghilangkan segala hal yang duniawi. Hidupnya dimulai karena ia merusak mata uang negara ketika ayahnya dipercayai Raja untuk mencetak uang logam. Karena tindakannya merusak uang negara, ia diusir dari Sinop. Uang adalah berhala duniawi yang merusak kemanusiaan. Samuel Alexander mengumpulkan dialog-dialog Diogenes dan “meraciknya” menjadi drama yang mempesona. Ia memberi judul  bukunya Deface the Currency: The Lost Dialogues of Diogenes (2016). Merusak Uang menyimpulkan inti filsafat Sinik. Para penafsir manjadikan merusak uang sebagai simbol aliran Sinik. 

Alexander memulai tulisannya:  

Diogenes dari Sinope, filusuf Yunani, lahir pada 412 SM. Bapaknya, Hicesias, membuat uang sebagai penghidupannya. Diogenes muda dan ayahnya terlibat dalam skandal perusakan uang, sehingga mereka diusir dari Sinop. Mereka kehingan kewarganegaraannya dan semua profesinya. Mulailah karir filsafat Diogenes sebagai pengemis gelandangan.  

Menurut cerita, ketika Diogenes  diusir dari Sinop, ia bertanya kepada orakel di Delphi bagaima seharusnya ia hidup, ia menerima jawaban yang sederhana: paracharattein to nomisma, teka-teki yang diterjemahkan sebagai “rusakkan uang logam”,  ‘deface the currency’. Diogenes menafsirkan fatwa itu bukan hanya “merusak logam” itu saja, tetapi juga harus menghapuskan ‘koin tradisi’, yakni, menelanjangi ketololan, kepongahan, dan kerakusan konvensi masyarakat. Ia ingin mengubah nilai uang, dengan menunjukkan  bahwa uang sama sekali tidak penting untuk kehidupan dan masyarakat yang baik, tidak sebaik sepenting yang orang bayangkan.  

Dengan semangat itu, Diogenes menanggalkan kehidupan material- memilih miskin sebagai jalan hidupnya. Ia mengambil hidup seperti itu untuk memperlihatkan kepada dirinya dan kepada orang lain bahwa hidup yang penuh kebahagiaan tidak bergantung pada kekayaan material.  

Ia tidur di dalam tong keramik yang besar, sering disebut sebagai bak mandi, berpakaian compang-camping, hanya punya cangkir, tongkat, dan lentera. Ia menggonggong pada orang-orang yang sezamannya yang memilih hidup bodoh, rakus, tidak bebas. Karena itu ia mendapat gelar “anjing.” Sekali pun  perilakunya eksentrik, pada waktu ia mati 323 SM, ia diakui di Athena dan di luar Athena  sebagai filusuf besar, pada zaman para filusuf besar.  

Ia meninggal di Korintus di sebuah tempat yang bernama Craneum, atau tengkorak. Lebih dari tiga ratus tahun kemudian ada orang seperti dia berkata, “Janganlah kamu mengasihi dunia, dan apa yang ada di dalamnya.” Orang itu diseret dan disalibkan di Golgotha, artinya juga tengkorak.  

Seperti Yesus yang melarang mengasihi dunia, Diogenes menghancurkan uang sebagai lambang dunia dan sekaligus konvensi sosial. Ia menjalani hidupnya dengan menentang semua konvensi sosial. Ia memilih hidup bebas; tidak punya rumah, tidak punya istri, tidak punya apa-apa. Ia tinggal bertetangga dengan anjing-anjing dan hidup seperti mereka. Tetapi dalam Filsafat Helenistik, ia dibaptiskan sebagai Pendiri dan Teladan aliran Sinik. Kuon dalam bahasa Yunani artinya anjing, dan kynikoi berarti seperti anjing.***

Makalah KH Dr Jalaluddin Rakhmat untuk Kajian Filsafat sebagai Way of Life, sesi 1 Selasa 10/12/2019

 

Thu, 12 Dec 2019 @08:03

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved