JUAL PRODUK ANDA

Anda bisa pasang IKLAN pada www.misykat.net dengan posisi banner atas, sisi kiri dan kanan. Kontak Chat WA: 0895-3755-29394

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Komunitas MISYKAT
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Marja (dalam Ahlus Sunnah dan Syiah)

image

Ada bahasan yang menarik dari Syeikh Ali Jumuah di kitab Al-Fatawa al-'Ashriyah. Beliau mengatakan bahwa 95% kandungan Al-Quran dan Hadis adalah nilai-nilai akidah dan akhlak, sedangkan sisanya yang 5% adalah penjelasan tentang hukum (fiqih). Dari 5% ini para ulama mampu membahas sekitar 1.200.000 pembahasan yang ada di kitab fikih. Dari jumlah yang begitu besar ini, ada sekitar 100 permasalahan yang masyhur dan sering menjadi bahan perbedaan pendapat dan kefanatikan. 100 permasalahan itu seperti hukum musik, cukur jenggot, siwak, isbal, dan lainnya. Sementara sisa pembahasan fikih yang 1.200.000 yang lain tidak lagi dipelajari.

Mungkin saja kita (sebagai golongan tertentu) sepakat dalam 1.200.000 pembahasan fikih ini, kecuali pada 100 masalah yang telah kita bahas dan jelaskan pendapat serta dalilnya sesuai sudut pandang kita. Namun mengapa kita terus membicarakan 100 masalah ini dan menjadikannya tolak ukur atau parameter kita dalam menghukumi dan menguji orang-orang? Setiap kali kita bertemu dan berbicara dengan orang, kita menanyakan salah satu permasalah dari 100 masalah ini kepadanya, sehingga kita bisa menentukan sikap, apakah dia satu jalan dan pemikiran dengan kita, atau dia adalah lawan kita, ataukah dia biasa-biasa saja? 

Ini kita lakukan tanpa mempedulikan bahwa perbedaan ini hanyalah sekitar 1% dari 1.200.000 pembahasan yang ada. Dan sebenarnya, 1.200.000 pembahasan ini merupakan 5% saja dari Islam, yang mana 95% nya mendidik kita untuk menjadi manusia, sebagai anak Adam yang telah Allah muliakan.

Karena itu kami menyukai dan mendukung salah satu tradisi yang masih eksis dalam mazhab Imamiyah, yaitu konsep "Marja". Dimana tidak semua orang bisa menjadi “Marja”, tapi setelah punya ilmu mencapai level tertentu lalu mereka ikut ujian untuk kemudian mendapatkan gelar “Ayatullah”, nah mereka lah yang nantinya menjadi rujukan berfatwa, tidak sembarangan orang mendapat gelar ini, bahkan orang yang punya pengaruh besar dan orator ulung sekalipun tidak bisa mendapatkan gelar ini, jadi fatwa tidak bisa dikeluarkan semua orang, jumlah mereka saat ini hanya sekitar 50 orang di dunia. 

Nah bagaimana dengan Mazhab Ahlus sunnah? kenyataan hari ini siapa saja yang pandai berbicara dan punya pengaruh di masyarakat bisa bicara hukum seenaknya, bahkan baru satu bulan berhenti jadi artis sudah berani bicara ini halal itu haram, kapan belajarnya? Apalagi di zaman medsos, semua berani bicara ini halal itu haram, bahkan sampai pada tingkat menyalahkan fatwa majelis ulama yang di dalamnya banyak para pakar. Hei ini gila, kamu harus menghormati ilmu seseorang, dokter agar bisa buka praktik butuh belajar beberapa tahun, ulama agar bisa berfatwa juga sama, kamu tiba-tiba datang berani ngomong ini halal itu enggak, bahkan menyalahkan pakar yang sudah belajar bertahun-tahun, kalau kamu lakukan hal yang sama dalam ilmu kedokteran pasti akan dikriminalkan. 

Tapi apakah Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak punya tradisi itu? Menurut Ustadz Fauzan Aceh, Alumni Suriah, tentu saja ADA. Tapi sayang tinggal sejarah kecuali di sebagian tempat, dulu di Damaskus ada ujian tertentu untuk mencapai gelar "Allamah". Mereka lah yang nantinya menjadi rujukan. Damaskus yang menjadi rujukan keilmuan dunia saja pada tahun 60-an hanya punya 4 orang yang bergelar Allamah, merekalah yang pantas memakai surban putih khas Damaskus. Mereka adalah Syeikh Zainul Abidin at-Tunisi, Syeikh Hasan Habannakeh, Syeikh Bahjat Baitar, dan satunya “maaf lupa”.  

Untuk mencapai level ini mereka akan di uji dengan menghafal semua ilmu hasil dan furu'nya dan semua ilmu alat dengan semua dalil-dalilnya dan istidlalnya. Dan jarang yang bisa mencapai level ini karena kadang orang kuat di satu bidang lemah di bidang lain, ada yang kuat di fiqh, tapi tidak begitu kuat di hadis, dan seterusnya. Padahal kita tahu pada zaman itu Damaskus punya ‘Alim besar level dunia, Syeikh Abdul Karim Rifaii, Syeikh Salih Farfur, Syeikh Mustafa Sibaii, keluarga Hilwani atau ulama seperti Dr. Al-Buthi, Dr. Wahbah Zuhaili, Dr. Mustafa alkhin, bahkan Syeikh Nashirudin al-Albani juga ada di Damaskus pada zaman itu. Mereka semua tidak ada yang mendapat gelar Allamah, karena perlu standar tinggi untuk itu. Makanya dulu di Damaskus kalau ada seorang ‘Alim dan menguasai ilmu agama dengan baik mereka hanya mengatakan talib ilm jayyid paling banter dapat panggilan al-ustaz, lah sekarang? Semuanya al-Ustaz, Allamah, Fadhilatu Syaikh, Muhadis zaman ini, ulama besar! Makanya jangan heran banyak fatwa aneh yang cuma berdasarkan emosi sesaat. 

Apakah tradisi ini hanya di Damaskus? Tidak, ini adalah tradisi yang di impor dari Madrasah Nizamiyah dan kemudian diganti oleh Jami al-Azhar. Keduanya adalah pusat pengkajian khazanah keilmuan Islam dan ilmu umum pada masanya. Di Jami al-Azhar dulu mengenal pemberian gelar berjenjang dan sangat sulit mendapatkannya, al-Ustaz, al-Alim, lalu al-Imam. Itu semua sebelum gelar-gelar seperti Duktur atau Profesor muncul dan Jami al-Azhar berubah menjadi Jamiah al-Azhar. sebenarnya tidak ada masalah penggunaan Doktor atau Profesor di Jamiah al-Azhar, karena mungkin level Doktor atau Profesor di Jamiah al-Azhar setingkat dengan gelar al-Ustaz zaman jami al-Azhar. 

Yang menjadi masalah adalah membuat orang awam tidak bisa membedakannya, karena banyak yang bergelar sama bukan alumni al-azhar dan tidak selevel al-Azhar Syarif. Disini menjadi masalah, dan akhirnya kalangan bawah menganggap semua yang bergelar Profesor Jurusan Agama sama saja dari segi keilmuan, bahkan lulusan Amerika sekalipun yang bahkan sebagian gurunya non muslim. Ilmu islam didapatkan dari non-muslim? Ok, jika yang diambil adalah metodenya, tapi tetap mereka tidak berhak berfatwa. Makanya sudah seharusnya kita harus waspada terhadap fatwa-fatwa yang muncul di medsos, tidak semuanya level ulama al-Azhar. Jangan tertipu oleh gelar seseorang untuk saat ini. Karena gelar bisa di dapat dengan mudah. 

Salah satu manfaat dari bermarja’ atau taklid pada persoalan fiqih adalah, kita bisa menyibukkan diri pada 95% kandungan Al-Qur’an dan Hadis yang telah lama kita abaikan, seperti akidah, akhlak, adab, filsafat, pengetahuan ketuhanan, Irfan, dan seterusnya, yang kesemua ini dituntuk berpikir mendalam. Soal fiqih dan hukum-hukum Islam kita serahkan dan rujuklah pada yang ahlinya. Dan ini, menurut kami, lebih banyak menghemat waktu kita (terutama yang bukan pelajar agama dan ingin menjadi mujtahid/mufti) dari perselisihan, perdebatan fiqih, dan saling menyalahkan.  

Sebagai kririk internal Sunni, Syeikh Dr. Usamah al-Azhari pernah berkata, "Salah satu sebab kenapa Syi'ah (Imamiyah) lebih maju dibandingkan Ahlussunnah dalam pembangunan dan perkembangan Ilmu Kalam dan usaha tajdidnya, adalah kerana mereka tidak sibuk membahas perkara-perkara cabang (khilafiyyah)." ***

Wallahu a’lam bisshawab.

Diambil dari Face book Adi Abdulrohman

 

Mon, 30 Dec 2019 @10:56

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved