Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Agama dan Pancasila

image

Soal hubungan antara Agama dan Pancasila sebetulnya sudah selesai sejak lama. Hitungan kasarnya: berapa umur NKRI seumur itu pula hubungan baik antara keduanya. Para pendiri bangsa ini dulu dengan elegan memetakan hubungan ciamik antara keduanya. Maka itu, jika kemudian ada beberapa gelintir anak negeri yang membenturkan antara keduanya, mereka itu bisa dibilang "terlambat lahir" atawa "anak kemarin-sore" dalam hal wawasan kebangsaan.

Setiap kita lahir menggendong aneka-rupa takdir yang gak bisa ditampik. Saya gak bisa menolak kenyataan lahir di Bumi Pertiwi sebagai orang Sunda, Muslim, cowok (ganteng 😎), berpostur pendekar (pendek-kekar). Pada setiap orang berlaku takdir ijbari tersebut. Tinggal ganti saja nama negara, suku, agama dan jenis kelaminnya. Bumi Nusantara yang kemudian terumus dalam bingkai NKRI dianugerahi Tuhan aneka keragaman. Menampik keragaman sama dengan menampik anugerah itu.

Sadar akan keanekaragaman itu, seperti telah disinggung, para pendiri bangsa berdaya-upaya merumuskannya dalam satu frame yang sifatnya mewadahi sekaligus menaungi. Dalam berbangsa dan bernegara, keragaman tidak untuk diberangus, tapi diakui seraya digali potensi-potensinya sehingga alih-alih jadi sumber perpecahan harus jadi sumber kekuatan buat melangkah bersama menuju kemajuan dan keluhuran martabat sebagai sebuah bangsa besar.

Di antara keragaman itu yang paling krusial untuk dirumuskan dalam bingkai negara-bangsa (nation state) adalah agama. Kita bukan negara sekuler yang "merumahkan" agama agar gak ikut-ikut ngurus negara. Tapi juga bukan negara agama yang menjadikan ajaran (dan ujaran) agama tertentu jadi dasar negara. Pancasila menengahi antara keduanya. Dimana-mana, penengah bukan musuh siapa pun. Ia adalah jembatan bagi para pihak untuk dapat bersatu di titik yang disepakati.

Intinya, Pancasila bagi bangsa yang majemuk ini merupakan titik-temu (common-platform; kalimah sawa') yang mengambil sari-pati seluruh agama yang dianut oleh anak-anak bangsa. Tunjuk satu sila dalam Pancasila, akan ditemukan ideal-moralnya dalam agama apa pun. Ini alasan paling telak mengapa organisasi apa pun dalam bingkai NKRI harus berlandaskan Pancasila. Logika silangnya, kalo ogah ber-Pancasila silakan keluar dari bingkai itu!

Bahkan idealnya, semua penganut agama di negeri ini, dalam hal mereka taat menjalankan agamanya masing-masing, ketaatan itu harus pula memberi sumbangsih bagi rekatnya persatuan-kesatuan dan kemajuan bangsa. Senggaknya, ketaatan ritual tidak menimbulkan keretakan kohesi bangsa besar ini. Untuk yang terakhir ini, toleransi diyakini dapat meredam potensi keretakan.

Lalu kapan agama bisa jadi musuh Pancasila? Gak bakal! Kecuali agama yang nafas universalnya dikerdilkan menjadi alat kepentingan sesaat kelompok tertentu yang menganggap diri paling berhak atas negeri ini. Agama bisa jadi musuh Pancasila manakala agama tidak dikendalikan oleh nalar kebangsaan dalam aras kebersamaan dan penghargaan akan nilai-nilai universal yang mempertemukan semua pemeluk agama bergandeng tangan dalam semangat senasib-sepenanggungan seraya menatap hari esok dengan mata optimisme tentang bangsa besar nan beradab.

Justru agama dan Pancasila punya musuh bersama: kesenjangan, ketidakadilan, kebodohan, intoleransi, radikalisme, separatisme, krisis identitas dan lainnya banyak lagi. ***

Abad Badruzaman
Yogyakarta, 13-02-2020

 


Tue, 18 Feb 2020 @14:12

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved