Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Tauhid Mufadhdhal: Perbincangan Ibnu Abil-Awjaiy dengan Sahabatnya

image

Perbincangan Ibnu Abil-Awjaiy dengan Sahabatnya

Muḥammad bin Sannān (1) meriwayatkan: Menyampaikan kepadaku Al-Mufadhdhal bin ‘Umar. (2) Dia berkata: “Suatu hari setelah ‘Ashar, aku duduk di Rawdhah antara kubur dan mimbar. Aku memikirkan tentang apa yang Allah s.w.t. khususkan kepada Sayyidinā Muḥammad s.a.w. berupa kemuliaan dan keutamaan, serta apa-apa yang Dia karuniakan berupa anugerah kepadanya, yang kesemuanya tidak diketahui oleh kebanyakan umat. Mereka tidak mengetahui keutamaan dan kedudukannya yang agung serta martabatnya yang tinggi. Aku pun demikian, hingga suatu saat aku menemui Ibn Abil-‘Awjā’(3).

Ia duduk, sementara aku mendengarkan perkataannya. Ketika majelis itu sedang berlangsung, tiba-tiba datang seorang sahabatnya. Orang itu datang dan duduk di sampingnya. Ibnu Abil-‘Awjā’ berkata: ‘Penghuni kubur ini telah sampai pada keagungan kesempurnaannya dan memperoleh kemuliaan dengan seluruh perangainya, serta mendapat kehormatan (honor)dalam seluruh iḥwālnya.” Maka sahabatnya itu berkata kepadanya: “Ia seorang ilmuwan yang menginginkan martabat teragung dan kedudukan tertinggi. Ia memperolehnya dengan mukjizat-mukjizat yang melampaui akal, tiada padanya impian (dream, vision,wish), dan hati tidak mampu menyelami ilmunya dalam lautan pikirannya. Maka kembali orang-orang yang terhalau, dan mereka bersedih hati. Ketika orang-orang berakal, orang-orang fasih dan para khatīb memenuhi seruannya, manusia masuk ke dalam agamanya dengan nama syariatnya. Dengannya ia memanggil para pemimpin yang berani di seluruh negeri dan tempat yang menerima seruannya. Sebabnya adalah kalimatnya. Tampaklah padanya ḥujjahnya di daratan dan lautan, di lembah dan di gunung-gunung. Pada setiap siang dan malam, lima kali disebut berulang-ulang di dalam adzān dan iqāmat, agar setiap saat diperbarui sebutannya dan supaya dikenal iḥwālnya.”

Maka Ibnu Abil-‘Awjā’ berkata: “Biarkan sebutan Muḥammad saw., akalku menjadi bimbang (worried, anxious) dan hilang pikiranku tentang iḥwālnya. Ia menyampaikan kepada kami tentang sebutan asal yang kami tuju. Kemudian ia menyebutkan permulaan segala sesuatu. Ia mengira bahwa itu terjadi dengan ketidaksengajaan (accidentally). Tiada penciptaan dan tiada pengaturan (arrangement, control). Melainkan segala sesuatu terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur. Atas dasar ini dunia selalu ada dan akan tetap ada.”

Perbincangan Al-Mufadhdhal dengan Ibnu Abil-‘Awjā’

Al-Mufadhdhal berkata: Maka aku tidak dapat menguasai (have control over one’s feelings) diriku karena kemarahan dan kemurkaan (fury, rage, anger). Lalu aku berkata: “Wahai musuh Allah, engkau mengingkari agama Allah. Engkau mengingkari Pencipta Yang Maha Suci, yang menciptakanmu dalam bentuk yang sebaik-baiknya, yang memberikan kepadamu rupa yang sempurna, dan yang mengubah iḥwālnya hingga sampai pada batas tertentu.”

“Kalau engkau merenungkan dirimu, dan sanubarimu (one’s inner self) mengatakan yang benar padamu, niscaya engkau dapati dalil-dalil Rubūbiyyah dan bukti-bukti penciptaaan tegak (uphold) pada dirimu. Kesaksian-Nya dalam ciptaanmu adalah jelas. Dan bukti-bukti kebenaran-Nya bagimu adalah benar-benar tampak.”

Ia berkata: “Wahai Fulān, jika engkau termasuk ahli kalam, maka kami akan berbicara padamu. Jika kuat ḥujjahmu, maka kami akan mengikutimu. Jika engkau bukan dari kelompok mereka, maka aku tidak akan berbicara padamu. Jika engkau termasuk sahabat Ja‘far bin Muḥammad ash-Shādiq, tidaklah demikian engkau berbicara pada kami. Tidaklah dengan dalil seperti dalilmu, beliau mengadu argumen dengan kami. Beliau mendengar pembicaraan kami lebih dari yang engkau dengar. Tiada perkataan kotor dalam pembicaraan kami. Tidaklah melampaui batas dalam jawaban kami, karena beliau sangat lembut dan tenang. Beliau adalah orang yang berakal dan cerdas. Ketidaktahuan tidak pernah menyentuhnya. Tidak pula kecerobohan (indecency,impropriety) dan ketergesa-gesaan (hastiness) menghampirinya. Beliau mendengarkan perkataan kami, memperhatikan dan membahas ḥujjah kami. Hingga apabila kami mencurahkan alasan kami dan kami kira telah dapat meyakinkannya, beliau membantah ḥujjah kami dengan perkataan yang sederhana dan penjelasan yang ringkas, yang mematahkan ḥujjah dan memutuskan alasan. Kami tidak mampu menjawabnya. Jika engkau termasuk di antara sahabatnya, maka berkatalah seperti perkataannya.” *** 

Catatan

 1). Ia adalah Abū Ja‘far azh-Zhāhiriy. Al-Kasyiy menyebutkan ihwalnya yang menunjukkan pujian yang besar dan juga celaan. Disebutkan bahwa ia meriwayatkan dari sumber-sumber yang dipercaya dari ahli ilmu yang adil. Semua riwayat-riwayat itu cacat dan memiliki kelemahan. Tetapi kebanyakan ahli hadits menguatkan dan mempertahankannya, dan mencela ahli hadits yang melemahkannya. Kesepakatan para ulama menunjukkan bahwa riwayat itu memiliki kekuatan. Syaikh al-Mufīd menyebutnya sebagai orang kepercayaan Imām al-Kāzhim a.s., ahli wara‘ ahli ilmu dan ahli fiqih dari pengikutnya. Sebagaimana Syaikh, di dalam al-Ghaybah, memasukkannya ke dalam wakil-wakil yang dicintai, yang tidak menyimpang. Bahkan mereka mengikuti ajaran para Imam. Dan di dalam al-Khilāfah disebutkan bahwa ia adalah seorang yang buta. Ia wafat pada tahun 220 H. 

 2). Riwayat hidup al-Mufadhdhal ditulis secara terpisah di dalam al-Muqaddimah. 

 3). Ia adalah ‘Abd-ul-Karīm bin Abil-‘Awjā’, pengasuh Ḥammād bin Salamah, berdasarkan penuturan Ibn-ul-Jawziy, dan termasuk murid al-Ḥasan al-Bashriy. Al-Baghdādiy menyebutkan bahwa ia adalah penganut paham Mānawiyyah yang percaya pada penitisan (perpindahan jiwa – reinkarnasi) ruh dan cenderung pada madzhab paham madzhab Rāfidhah. Al-Baghdādiy menyebutkan juga bahwa ia adalah penganut paham Qadariyyah. Pernyataan seperti itu dikutip juga di dalam Syarḥ Sīrah Māniy, Wasīlah lid-Da‘wah, dan Tasykīk-un-Nāsi fī ‘Aqā’idihim. Ia berbicara mengenai ta‘dīl dan tajwīr, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Bayrūniy. Dari sini jelaslah bahwa Ibnu Abil-‘Awjā’ adalah seorang zindiq, dan terkenal dengan sebutan itu. Ia sering terlibat perdebatan dengan Imām Shādiq a.s., dan Imām a.s. selalu mematahkan argumen-argumennya. Ia dipenjarakan oleh penguasa Kūfah, Muḥammad bin Sulaymān. Kemudian ia dibunuh pada zaman al-Manshūr, pada tahun 155 H. Ada juga yang mengatakan bahwa ia dibunuh pada tahun 160 H pada zaman kekuasaan al-Mahdiy. Ihwalnya disebutkan di dalam Tārīkh-uth-Thabarī, juz III hlm. 375 cet. Leiden; Fihrist Ibn-in-Nadīm, hlm. 338; al-Farqu Bayn-al-Firāq, hlm. 255 cet. Muhammad Badr; Dā’irat-ul-Ma‘ārif-il-Islāmiyyah, juz I hlm. 81; Iḥtijāj-uth-Thabrasiy, hlm. 182-183 cet. Najaf; dan Maqūlah-nya al-Hind, hlm. 123. 

 

Sumber buku “Mengurai Tanda Kebesaran Allah” (judul asli تَوْحِيْدُ الْمُفَضَّلِ TAUḤĪD-UL-MUFADHDHAL, Imlā’ al-Imām Abī ‘Abdillāh ash-Shādiq, ‘alā al-Mufadhdhal ibn ‘Umar al-Ju‘fiy). Penerjemah oleh Irwan Kurniawan. Penerbit PUSTAKA HIDAYAH. Diketik ulang oleh Said (Rico Akbar).

https://hatisenang.com/aqidah/buku2-aqidah-syiah/tauhid-mufadhdhal-mengurai-tanda-kebesaran-allah/


Fri, 6 Mar 2020 @10:09

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved