Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Tauhid Mufadhdhal: Sebab Pendiktean kepada Al-Mufadhdhal

image

Sebab Pendiktean kepada Al-Mufadhdhal

Al-Mufadhdhal berkata: Maka aku keluar dari masjid dalam kesedihan dan memikirkan bencana yang menimpa Islam dan pemeluknya dari kelompok ateis ini. Aku menemui Tuanku (Imam Jafar as). Ketika melihatku sedang berduka, Beliau bertanya: “Apa gerangan yang terjadi padamu?” Maka aku ceritakan apa yang aku dengar dari dua orang pengikut ajaran Dahriyyīn (4) dan jawaban yang aku berikan pada keduanya.

Beliau berkata: “Wahai Mufadhdhal, pasti aku sampaikan kepadamu tentang kebijakan Pencipta Yang Maha Agung dan Maha Suci nama-Nya dalam penciptaan alam, binatang buas, binatang melata, burung, singa dan seluruh yang bernyawa dari kelompok binatang, tumbuh-tumbuhan, (5) pohon-pohon yang berbuah, pohon-pohon yang tidak berbuah dan berbiji, sayur-sayuran, serta dedaunan yang dapat dimakan dan yang tidak dapat dimakan. Semua itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Mengenali-Nya menenangkan hati orang-orang yang beriman dan membingungkan orang-orang yang ingkar. Datanglah kembali kepadaku besok pagi.”

Pertemuan Pertama

(Al-Mufadhdhal berkata:) Maka aku keluar darinya dengan perasaan senang dan bahagia. Malam itu terasa amat panjang bagiku karena menanti apa yang beliau janjikan kepadaku. Ketika hari esok tiba dan memasuki waktu pagi, maka aku minta izin untuk masuk menemuinya. Aku berdiri di hadapannya. Maka beliau memerintahkanku duduk. Aku pun duduk. Kemudian beliau bangun menuju satu kamar yang kosong. Aku pun ikut bangun. Beliau berkata: “Ikutilah aku.” Maka aku mengikutinya. Beliau masuk ke kamar itu. Aku pun ikut masuk di belakangnya. Beliau duduk dan aku pun duduk di sampingnya. Beliau berkata: “Wahai Mufadhdhal, jika aku adalah kamu, maka aku akan merasakan malam ini begitu panjang, karena menunggu apa yang aku janjikan kepadamu.”

Aku menjawab: “Tentu, wahai Tuanku.”

Beliau berkata lagi: “Wahai Mufadhdhal, Allah SWT itu ada tanpa ada sesuatu sebelum-Nya. Dia kekal tanpa ada akhir bagi-Nya. Bagi-Nya segala pujian atas apa yang dikaruniakan kepada kami, dan syukur atas apa yang dianugerahkan kepada kami. Dia telah mengkhususkan kami dengan ilmu beserta seluruh ketinggiannya dan kedudukan tinggi dengan seluruh kemuliaannya. Dia memilih kami dari seluruh ciptaan dengan ilmu-Nya. Dia menjadikan kami sebagai para muhaymin (6) atas segenap makhluk dengan hikmah-Nya.”

Aku bertanya: “Wahai tuanku, bolehkah aku menuliskan apa yang engkau jelaskan.” Aku telah menyiapkan alat-alat tulis itu.” Beliau menjawab: “Lakukanlah, wahai Mufadhdhal!”

Ketidaktahuan Orang-orang yang Ragu terhadap Sebab Penciptaan dan Maknanya

Orang-orang yang ragu tidak mengetahui sebab dan makna penciptaan. Pemahaman mereka sempit untuk mengkaji manfaat dan hikmah pada apa yang diciptakan Pencipta Yang Maha Suci dan yang Dia ciptakan berupa berbagai ciptaan-Nya yang ada di daratan, lautan, lembah dan ngarai (chasm,gorge). Dengan kesempitan ilmu, mereka menuju kekufuran. Dan dengan kelemahan nalar (logical reasoning), mereka keluar menuju pendustaan (lying) dan kedurhakaan (rebelliousness). Hingga mereka mengingkari penciptaan segala sesuatu. Mereka menganggap hal itu tercipta tanpa kesengajaan (delibererateness,doing something on purpose), tiada penciptaan, pengaturan dan kebijakan (wisdom, policy) dari Pengatur dan Pencipta. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan. Allah memerangi mereka di mana saja mereka mengingkari kebenaran. Di dalam kesesatan dan pengingkaran, mereka seperti orang buta yang memasuki sebuah rumah yang telah dibangun dengan sebaik-baiknya dan sebagus-bagusnya. Dihampari rumah itu dengan kasur (mattress) yang sangat baik dan mempersonakan. Di dalamnya tersedia perlengkapan (supply) makan dan minum, pakaian serta segala hal yang diperlukannya. Segala sesuatu ditempatkan pada tempatnya dengan tersusun rapi. Mereka mulai menoleh ke kanan dan ke kiri. Mereka mengelilingi rumah itu ke depan dan ke belakang. Tetapi penglihatan mereka tertutup. Mereka tidak dapat melihat bangunan rumah itu dan apa yang tersedia di dalamnya. Kadang-kadang salah seorang di antara mereka merusakkan sesuatu yang telah tersimpan pada tempatnya dan tersedia bagi kebutuhannya. Tetapi ia tidak mengetahui arti semua itu, untuk apa disediakan dan mengapa dijadikan seperti itu? Maka ia  mencaci (scorn,jeer at, ridicule, swear at) dan mencerca (deride, censure, reprimand, revile) rumah itu dan pembuatnya. Demikianlah ihwal pengingkaran mereka. Mereka mengingkari penciptaan dan buktinya. Maka ketika otak mereka kosong dari pengetahuan sebab dan ‘illat sesuatu, mereka mulai mengelilingi alam ini dalam kebingungan. Mereka tidak memahami apa yang sempurna penciptaannya, bagus buatannya dan baik keadaannya. Kadang-kadang salah seorang di antara mereka bergantung pada sesuatu yang tidak diketahui sebabnya dan tidak dipahami kebutuhan terhadapnya. Tetapi ia segera mencaci dan menyifatinya dengan kemustahilan dan kesalahan, seperti orang yang dihadapkan kepadanya al-Manāniyyah (7) yang kufur dan ditampakkan secara terang-terangan kepadanya yang ingkar, yang murtad dan durhaka, serta yang lainnya dari ahli kesesatan yang menyibukkan diri mereka dengan ketaatan pada tuhan mereka dengan hal-hal yang mustahil. Maka layaklah bagi orang yang Allah karuniai dengan makrifat, petunjuk agama dan taufik-Nya untuk mengkaji keteraturan dalam penciptaan makhluk, dan bergantung pada apa yang diciptakan baginya berupa keteraturan yang serasi dan perhitungan yang pasti dengan dalil-dalil yang menunjukkan pada Pencipta semua itu. Hal itu adalah agar ia memperbanyak pujian kepada Allah, Maulanya atas hal itu. Dan hendaklah ia menjaga dan memperbanyaknya, karena Dia Yang Maha Agung nama-Nya berfirman: “Sesungguhnya jika kalian bersyukur (atas nikmat-Ku), niscaya Aku tambahkan kepadamu (kenikmatan-Ku). Tetapi jika kalian kufur (atas nikmat-Ku), maka azab-Ku sangatlah pedih.” (14:7).

Catatan

4). Yaitu ateis yang berpendapat bahwa alam ini ada secara azali dan abadi. 

5). Al-‘Athaf-ut-Tasyrīkiy di sini mengungkapkan pendapat Imām Shādiq a.s. mengenai tumbuh-tumbuhan, dan bahwasanya ia memiliki ruh. Dengan kata lain, tumbuhan itu memiliki daya reaksi terhadap rangsangan (iritabilita) dan gerakan. Ini belum terungkap dalam kajian ilmiah kecuali pada akhir abad ke-18 Masehi. Orang pertama yang berpendapat bahwa tumbuhan memiliki reaksi terhadap rangsangan, menjadi layu oleh racun dan mati jika terkena arus listrik, adalah Bisha, seorang fisiolog Perancis, wafat tahun 1802 M (‘Ajā’ib-ul-Khalq, Zaydan, hlm. 193). Teori ini ditegaskan dengan adanya sebagian bunga yang mekar pada siang hari dan kuncup di malam hari (at-Tārīkh-uth-Thabī‘iy, hlm. 625). Seorang ilmuwan India, Alser Jafadas Buz, menemukan sebuah atat untuk mengetahui gerakan tumbuhan dan rangsangan terhadap pengaruh dari luar seperti bangun dan tidur. Ilmuwan ini mendirikan sebuah lembaga yang besar di Kalkuta untuk mengkaji gerakan tumbuhan dan reaksinya terhadap panas, dingin, gelap dan terang. Beberapa pasal di dalam at-Tārīkh-uth-Thabī‘iy karya Doktor Ya‘qub Sharuf, hlm. 49 – menjadi terkenal adanya sebagian tumbuhan yang memangsa serangga dan binatang kecil lainnya, terdapat pula bunga yang dapat tertawa dan menangis – pada edisi ke-1020 tahun ke-26 majalah al-Halāk. Ditulis juga di situ pembahasan mengenai tumbuhan yang malu, yang berukuran menakjubkan, yang berbentuk teko, yang memangsa lalat, perkawinannya dan sebagainya. Dan di dalam mukadimah buku Kāzhim al-Muzhaffar (Dunyā an-Nabāt), dicantumkan satu pasal mengenai tabiat tumbuhan dan gerakannya. 

 6). Muhaymin adalah orang yang dipercaya, amanat dan jujur. 

 7). Al-Manāniyyah atau Al-Mānawiyyah adalah sahabat-sahabat seorang hakim di Persia. Māniy bin Fātik, yang muncul pada zaman Sābūr (raja kedelapan dari Dawlah Sāsāniyyah). Madzhabnya adalah campuran antara Majusi dan Kristen. Akidahnya ini diikuti oleh banyak orang. Sebagian besar dari mereka hidup pada periode awal Dinasti ‘Abbāsiyyah. Kemudian pemikiran-pemikiran mereka tersebar ke Eropa dan beberapa daerah di Asia. Māniy adalah seorang rahib di Harān, lahir sekitar tahun 215 M. Ia dibunuh oleh Bahrām bin Harmuz. Lihat al-Milalu wan-Nihal karya asy-Syahristāniy, juz II, hlm. 81; Murūj-udz-Dzahab, juz I, hlm. 155; al-Fihrist, hlm. 456; Ma‘rab Syāhnāmeh, juz II, hlm. 71; Al-Farqu Bayn-al-Firāq, hlm, 162 dan 207; al-Atsār-ul-Bāqiyyah karya al-Bayrūniy, hlm. 207; Tārīkh-ul-Fikr-il-‘Arabiy karya Ismā‘īl Mazhhar, hlm. 39; dan Ḥurriyyah al-Fikr karya Salamah Mūsā, hlm. 55. 

Sumber buku “Mengurai Tanda Kebesaran Allah” (judul asli تَوْحِيْدُ الْمُفَضَّلِ TAUḤĪD-UL-MUFADHDHAL, Imlā’ al-Imām Abī ‘Abdillāh ash-Shādiq, ‘alā al-Mufadhdhal ibn ‘Umar al-Ju‘fiy). Penerjemah oleh Irwan Kurniawan. Penerbit PUSTAKA HIDAYAH. Diketik ulang oleh Said (Rico Akbar).


Fri, 6 Mar 2020 @10:16

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved