Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

(Ulasan buku) Bukhari dan Muslim, Ambil dari Periwayat Syiah

image

Benarkah Imam Bukhari dan Imam Muslim menuliskan hadis yang diriwayatkan oleh guru-guru mereka yang bermazhab Syiah? Ya. Malah ribuah jumlahnya. Sebuah penelitian sangat serius membuktikan bahwa sedikitnya kedua tokoh kolektor hadis ternama (Imam Bukhari dan Imam Muslim) menerima riwayat hadis yang dibawakan banyak ulama dari berbagai beraliran (mazhab) seperti Syiah, Qadariyah, Khawarij, dan lainnya.

Penelitian disertasi itu, di antaranya membuktikan bahwa dalam “Sahih Bukhari” terdapat 2.854 hadis yang diriwayatkan oleh 56 ulama bermazhab Syiah dan dalam “Sahih Muslim” ada 3.871 hadis yang diriwayatkan 74 ulama Syiah.

Temuan itu merupakan hasil riset Dr. Alwi bin Husein, yang belum lama ini diterbitkan dalam sebuah buku setebal 747 halaman dengan judul, “Periwayat Syi’ah dalam Kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.” April 2019 silam Alwi lulus sidang doktoral pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Ciputat) dengan predikat Cum Laude. Tidak kurang dari enam guru besar menjadi penguji disertasi Alwi, yakni Prof. Dr. Jamhari, Prof. Dr. Zaitunah Subhan, Prof. Dr. M. Suparta, Prof. Dr. M. Atho Mudzhar, Prof. Zulkifli, PhD dan Prof. Dr. Iik Arifin Mansurnoor.

Alwi merujuk disertasinya pada kedua kitab hadis sahih (‘sahihain’) itu, kemudian menelisiknya, antara lain melalui sejarah penulisan matan (konten) dan sanad (periwayatan) hadis Nabi saw yang termaktub pada berbagai kitab ‘Rijal Al-Hadis‘. Di antara kritikus hadis Sunni yang dijadikan referensinya termasuk Al-Dhahabi, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Hajar, Al-Suyuthi, dan banyak lagi lainnya (lihat di bawah).

Di antara kesimpulan penting, selain yang di atas adalah bahwa hadis mulai (baru) dikodifikasi pada abad kedua hijriah (2 H), sehingga konsekuensinya:

Ada kalanya bisa muncul keraguan pada sebagian peneliti tentang autentisitas (keaslian) sebuah riwayat yang disampaikan secara lisan (oral history) dari generasi ke generasi sebelumnya.

Karena hadis bergerak melalui berbagai era pergolakan politik sistem kekuasaan, serta aneka aliran teologi dalam Islam, bisa saja ada peluang bagi pihak-pihak tertentu untuk menyisipkan riwayat (yang dinisbatkan seolah-olah bahwa itu ucapan Nabi SAW), demi memperoleh keuntungan pribadi atau melanggengkan kekuasaan (politik) mereka.

Di antara ketelitian para kolektor hadis (seperti Bukhari dan Muslim) dalam menulis hadis dari sisi periwayatnya, mereka tidak mendasarkan periwayatan pada aliran (mazhab) yang dianut perawi hadis itu, tetapi keduanya lebih memilih untuk meneliti karakter sang pembawa riwayat itu. Di antara karakter yang penting yang menjadi syarat utama untuk diterimanya sebuah riwayat hadis adalah Thiqah (sangat dipercaya), Akurat (dhabit), Adil (‘adalah) dan Jujur (shaduq atau sidiq).

Penelitian Dr. Alwi dilakukan dengan menelusuri mata rantai sanad pada kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang disandingkan dengan berbagai kitab Rijal al-Hadith klasik Suni karya banyak tokoh ahli hadis ternama, di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H, atau sekitar 855 M); Abu Dawud (wafat 275 H); Al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H); Ibnu Khaldun (w. 636 H); Imam al-Dhahabi (w: 748 H); Ibn Hajar (w. 852 H, atau sekitar 1449 M); Imam al-Suyuti (w. 911 H) dan lainnya. Juga dari ulama hadis kontemporer seperti Al-Albani (w.1420 H) dan Shuaib al-Arnaut (w. 1438 H). 

Sebagaimana ditulis di atas, penelitian membuktikan adanya para periwayat hadis bermazhab Syiah yang narasinya dimuat dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Para periwayat itu terbagi dalam berbagai jenis kelompok Syiah, mulai dari Syiah biasa (ringan), Syiah berlebihan (ghuluw/mufrit shadid/jalad/muhtaraq), hingga Rafidah (sejenis sempalan Syiah yang ekstrim).

“Banyaknya periwayat bermazhab Syi’ah dan periwayat dari mazhab lain dalam kedua kitab Sahih (Sahihain) itu menunjukkan keunggulan dan intelektualitas Imam Bukhari dan Imam Muslim,” kata Dr Alwi.

Tentang Imam Bukhari dan Imam Muslim

Imam Bukhari, bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail ibn Ibrāhīm ibn al-Mughīrah ibn Bardizbah al-Ju‘fī al-Bukhari. Bukhari, yang juga salah seorang guru Imam Muslim adalah seorang keturunan Persia yang lahir di Bukhara pada 194 H. Bukhara sendiri adalah sebuah kota antik yang ribuan tahun lalu berada di bawah kekuasaan kekaisaran Persia (Iran) kuno. Sesudah berabad-abad berada di wilayah Persia, kini kota bersejarah itu masuk wilayah negara Uzbekistan. [Tokoh lain yang lahir di Bukhara, misalnya adalah Ibnu Sina (980–1037 M).]

Sempat berkeliling ke berbagai negara, pada sekitar tahun 864 (250 H) Imam Bukhari menetap di Naisabur, Iran, tempat ia berjumpa dengan Imam Muslim, salah seorang muridnya. Berhubung tekanan politik, Bukhari pindah ke Khartank, di dekat Samarkan, Uzbekistan dan wafat di situ pada 256 H (870 M).

Adapun  Imam Muslim, yang bernama lengkap Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi lahir pada tahun 204 H, dan wafat pada 261 H, dalam usia 55 tahun. Beliau dimakamkan di Naisabur, propinsi Khorasan, Iran. ***

Sumber https://syafiqb.com/2020/01/15/bukhari-muslim-ambil-hadis-syiah/

 

Wed, 11 Mar 2020 @20:56

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved