Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Judulnya Kafir [by Aris Syariati]

image

Ketika kata Kafir dicuatkan kembali ke permukaan oleh Para Sesepuh Maiyah di Tulungagung seperti mbah Widji Paminto Rahayu, Bopo Wawan Susetya sebagai penjelas Identitas JIL dan Bopo Anang sebagai penghujat yang ikut menghujat posisi Dr Kyai Abdul Moqsith Ghozali yang pernah mengusulkan agar Kata Kafir dihapus dari Indonesia, maka saya harus ikut berkomentar sebagai Orang yang pernah studi di Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAIN Tulungagung ini.

Saya memahami quote yang terdiri dari beberapa kata itu banyak disalahpersepsikan oleh pembaca hanya karena kata itu ada dalam al-Qur`an, dicuatkan oleh seorang Cendekiawan Muda NU yang pernah bergabung di JIL, dan term kafir tlersebut harus tetap ada sebagai bahasa Indonesia yang diadopsi dari bahasa Arab, apalagi term (kata) tersebut terdapat dalam Al-Qur'an dengan banyak derifasi dari kafara, kuffār, kāfirūn, kafarū dan lain sebagainya.

Seringkali kita memang harus sadar sebagai orang Islam yang tinggal di Indonesia untuk harus terus belajar bahasa Al-Qur`an (Arab), Tafsir (memahami makna, angen-angen sak maknane, Jw), dari ahlinya. dan saya, sebagai Sarjana Tafsir, pernah mencoba melacak term ini dari sisi lughawi (bahasa), Konteks (ta'wil), dan kontekstualisasi (tafsir) atas term ini.

Mari kita mulai diskusi, kata Kafir pernah (dan masih) didefinisikan secara etimologis oleh Prof. Quraish secara mendetail. Beliau menjelaskan dengan mengacu pada Kamus Bahasa Arab apakah itu 'Mu'jām Maqāyis al-Lughah ibn Faris, Lisān al-'Arab Ibn Mandzur, Al-Munjid Louis Ma'louf, dll kata ini artinya menutup (mungkin dari sini bisa dipahami kata cover, koper, bahkan mungkin kuper itu diadopsi). Apa yang ditutup? biji tanaman entah padi, jagung, kedelai, dll. Orang Arab dari kalangan petani menggunakan kata ini sebagai bahasa budaya, untuk gejik (Jw). Prakteknya adalah menutup biji tanaman yang sudah dimasukkan ke dalam lubang yang di-_gejik tersebut. Saya tidak tahu kenapa biji harus ditutup dengan tanah kembali, dan itu menjadi Tradisi agrikultur (pertanian) yang bersifat common sense, saya belum pernah menemukan, bahkan di Jawa, biji yang harus terbuka atau mungkin ditutup dengan tanah secara ukur-ukur.

Sampai sini bisa dipahami? Lanjut. Kita mulai dengan membaca Surah Al-Kāfirun. Di dalamnya ada kata berbentuk Isim fa'il jama' yang diawali dengan al ma'rifat (yang pernah nyantri sampe jenjang tinggi di pesantren tradisional pasti akan langsung bisa menebak posisi, fungsi dan ruang cakupan term ini dengan cukup melihat lafadhnya). Saya tentu pernah nyantri seperti Gus Moqsith (Asembagus, adik kelas Mbah Tejo berarti), Gus Ulil Kajen Pati (menantu Abah Mustofa Bisri, berarti Gus Ulul Putu murid dari Mbah Tedjo).

Bahwa Allah (Tuhan sebagai Ilah) memerintahkan kepada Rasulullah utk berkata kepada orang kafir (jama'ah, komunis) dengan kadar bahasa yang plural "ingsun ora nyembah sesembahan (ما) sing siro sembah, semono ugo siro kabeh ora dadi wong kang nyembang sopo siro kabeh sing tak sembah, lan ingsun ora bakal dadi wong kang manembah opo sing wis siro sembah. Kanggo iro agomo iro, kanggo ingsung agomo ingsung.'

Di mana posisi kita? Kita juga meski Muslim, Yahudi, Nasrani, Sabi`in, juga berpeluang kafir juga mengacu pada ayat: nnalladzīna kafarū sawā`un 'alaihim a`andzartahum am lam tundzirhum lā yu`minūn. 

Sesungguhnya Orang banyak (Allah tidak menyebut agama di sini, otomatis bersifat definitif, bisa tersemat kepada kaum muslimin, nasrani, Kristen Katolik dan Protestan kalau di Indonesia, Yahudi, Ashkenazim kalau di Israel, Sephardim kalau di Afrika Utara, Majusi, Zoroaster kalau di Iran) sama saja (secara posisi) apakah telah diberi peringatan atau belum (tidak) diberi peringatan, tidak beriman.' Bahasane Gus Dur (Allah yarham),'Seneng ngafirké marang liyané, kafiré dewe gak digatèkné.

Maka saya setuju jika kata kafir diubah menjadi kata non muslim, jika masing-masing agama di Indonesia sudah menggunakan identitas agama masing masing, apakah Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu. Intinya, 'Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity) harus tetap terus dijaga di Bhumi Nuswantara Indonesia.***

Salam Kopi Robusta dan Cerutu Robusto.

Batan, 13 Maret 2020

Aris Syari'ati, Quranic Decoder

 

Fri, 13 Mar 2020 @19:36

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved