Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Seni Kematian (Art of Dying) menurut Ibnu Sina [by Nano Warno]

image

Isu kematian manusia adalah hal yang paling ditakuti oleh sebagian besar manusia. Kematian juga merupakan misteri yang paling besar yang sulit ditolak oleh siapapun. Keberadaan tuhan mungkin saja bisa diinkari tapi kematian hampir mustahil diingkari.  Para filsuf sejak awal sudah membicarakan tentang kematian. Plato contohnya percaya bahwa filsuf sejati adalah orang yang tidak takut akan kematian. Farabi dalam kitabnya al-Jam bayna Ray al-Hakimayn mengatakan bahwa seorang filsuf akan bahagia dengan mencicipi kematian.  

Di era modern, kematian juga tak kalah menariknya dan menjadi isu yang terkait dengan eksistensi. Heidegger percaya bahwa kematian itu seperti alarm yang ingin mengingatkan keterbatasan manusia. Kematian juga adalah rahasia yang paling besar, yaitu bukti bagi af’al Allah swt dimana perbuatan-Nya tidak ada yang sia-sia. 

Kaum teolog yang menggangap kematian itu hanyalah wasilah saja (ghayat bil ‘ardh) untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Efek dari pandangan ini tidak melihat signifikasi dalam kematian. Menurut ulama teolog, kematian adalah solusi untuk tidak membiarkan kezaliman terus eksis , agar dunia tidak penuh dengan populasi manusia,  agar orang salih tidak terus menerus bekerja keras dalam ibadah yang tiada hentinya. 

Teologi memang hanya untuk menjustifikasi (iqna’) dan bukan untuk menyingkap (discovery)  maka tidak ada penjelasan yang komprehensif tentang misteri kematian alami. Kematian adalah peristiwa yang bukan untuk dirinya tapi demi yang lain.    

Jika teologi melihat dari aspek teleologis maka Ibnu Sina melihat dari aspek kausalitasnya. Menurut Ibnu Sina yang juga didukung oleh kedokteran klasik mengatakan bahwa sebab kematian alami adalah hancurnya badan, atau lebih jelasnya karena sebab-sebab yang terjadi terkait dengan mijaz .   

Pandangan yang lain yang melihat sebab dari kematian alami adalah hancurnya badan, bagi Ibnu Sina badan itu seperti rumah bagi jiwa, ketika rumahnya hancur,maka jiwa tidak betah lagi dan meninggalkan badan. Namun pendapat ini tidak bisa membedakan antara sebab (‘ilat) dan wasilah, Ibnu Sina akan berpandangan bahwa yang menyebabkan terbunuhnya adalah pisau itu, padahal pisaunya hanyalah alat saja, pembunuh yang sebenarnya adalah orang yang membunuh itu. 

Kedua pandangan ini mewakili pandangan mainstream dari para pemikir islam, dan itu juga yang diterima oleh orang awam. Persepektif ini menjadikan kematian bisu, tidak menampilkan jejak-jejak lain seperi kosmos dan wujud yang sesungguhnya menjadi payung bagi segala yang terjadi di alam ini.  Kematian menjadi direduksi sekedar peristiwa alamiah biasa, yang tidak mengandung rahasia yang merentang lebih luas ke berbagai dimensi alam. Hal seperti itu tidak bisa menjelaskan perjalanan jiwa yang merentang dalam berbagai alam. 

Psikologi Kematian

Ibnu Sina menulis sebuah risalah dengan judul seperti dibawah ini : 

الشفاء من خوف الموت و معالجة داء الاغتمام به للشيخ الرئيس‏

Penawar takut mati dan penyembuh kesedihan.

Menurut Ibnu Sina perasaan takut itu hanya menyergap  mereka yang tidak memahami arti kematian Ibnu Sina membuat ilustrasi kematian (yang saya terjemahkan secara bebas) seperti  seseorang yang harus menganti baju lama dengan baju yang baru dan bersih (dalam teksnya secara verbatim ‘saat jiwa harus meninggalkan instrumennya). Karena pada saat kematian jiwa tidak lagi membutuhkan tubuh.  

Menurut Ibnu Sina jiwa adalah substansi (jawhar) yang tidak memiliki lawan (dhid) misalnya manusia tidak ada lawan manusia. Substansi ruhani jiwa tidak akan lenyap dan hancur, yang lenyap dan hancur hanyalah aksiden-aksidennya. Adapun yang menduga bahwa kematian itu mendatangkan rasa sakit yang dahsyat yang berbeda dengan rasa sakit akibat penyakit yang pernah dideritanya, maka itu adalah sangkaan yang palsu. Karena rasa sakit itu akibat persepsi dan persepsi hanya dimiliki orang yang hidup, yang hidup itu karena pengaruh jiwa. Adapun tubuh yang mati tidak tidak memiliki rasa lagi, karena rasa dimiliki oleh jiwa.

Sementara yang takut menghadapi kematian karena takut akan siksa yang akan menyertainya setelah kematian dan dan itu dari satu sisi merupakan pengakuan bahwa perbuatan  buruk akan mendapatkan siksaan dan juga pengakuan akan Hakim Adil yang akan membalas perbuatan dosanya. *** 

NANO WARNO adalah doktor filsafat lulusan STFI Sadra Jakarta

 

Tue, 17 Mar 2020 @08:40

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved