Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Filsafat Ilmu Fikih Perspektif Ibnu Sina [by Nano Warno. Ph.D]

image

Filsafat fikih bertujuan untuk menguliti  hakikat, struktur, metode, dalil-dalil, fondasi, dan tujuan fikih. Filsafat fikih adalah investigasi  nalar untuk melihat fikih dari luar (outside). Fikih sebagai bagian dari ilmu keislaman telah menancapkan pengaruhnya yang luar biasa di mayoritas komunitas kaum muslimin dari mazhab manapun. Karena itu tidak heran fikih menjadi ladang rebutan para ulama baik tradisional dan juga modern untuk mengambil bagian dan peran dalam ilmu tersebut.

Secara sosiologis dan empiris, fikih  memiliki dimensi yang lebih luas dari ilmu-ilmu lain.  Ia menghadirkan kedekatan dengan umat, memobilisasi umat, menjadikan umat relawan-relawan yang aktif dalam berbagai kegiatan ekononomi, sosial, politik dan sebagainya.  Katakanlah fikih adalah ilmu yang sangat efektif untuk meluaskan jaringan dengan berbagai tingkatan umat  dan sekaligus mengukur kepatuhan umat dalam tingkat yang sangat maksimal dan empiris. 

Dari sisi metode, fikih memiliki dasar yang disusun oleh ushul fikih.Dan jika dilihat dari aspek paradigma (mabadi), fikih juga memiliki paradigma (yang menurut saya yang  awam ini) salah satunya adalah hak ketaatan atas hamba kepada Tuhan (haq thaat), hak ketaatan ini menjadi hak di atas kewajiban karena seorang hamba tidak memiliki status apa pun, baik ontologi, epistemologi, axiologi dan hak apa pun. Dalam praktiknya ketaatan ini tidak hanya berlaku untuk yang diketahui oleh sang hamba, bahkan yang diduga dan yang tidak diketahuipun ia harus mendahulukan asas ketaatan. Tuhan selalu memiliki aturan untuk setiap dimensi kehidupan.  Ini mirip dengan teori wujud Ibnu Sina. Wujud sang hamba dalam perspektif Ibnu Sina adalah wujud mumkin yaitu ada tapi tidak ada. Meskipun ia sudah diciptakan ada tapi status ontologisnya tetap mumkin belum wajib. Adanya sangat bergantung kepada wujud wajib. Status mumkin itu tetap disandangnya sampai kapan pun.

Yang kedua postulat yang diyakini oleh seorang fukaha adalah  adanya ikhtiyar bagi si hamba. Si hamba atau mukalaf memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Karena ada pahala dan siksaan. Paradigma itu bersanding dengan nilai yang mengiris metode.

Metode adalah irisan dari paradigma dan nilai. Paradigma dan nilai menentukan jenis metode. Nilai juga ditentukan oleh paradigma dan menyelaraskan diri dengan metode. Misalnya jika paradigmanya adalah  materialisme, atau positivis maka  metode yang dipilih adalah observasi, dan nilai validitasnya adalah ukuran, statistik, angka dan sejenis.

Mereka yang meyakini bahwa ada wujud-wujud yang gayb, seperti ruh, malaikat, jin, Tuhan, alam mitsal, alam akhirat, tentu tidak akan menggunakan metode  kaum saintis, namun akan menggunakan metode burhan, atau kasyaf ala sufi. 

Jika fikih paradigmanya adalah hak taat (haq tha’at), asma Ilahi sebagai shahibu  al-shari’, nomos, aspek lahiriyah, utilitarianisme (maslahat), tidak ada siksaan tanpa penjelasan (qubh ‘iqab bila bayan),  maka tentunya akan menggunakan metode yang sesuai dengan paradigma tersebut.

Ibnu Sina dalam praktik filsafatnya lebih banyak berbicara tentang metafisika, karena semangat zamannya (zeitgeist). Namun filsafat sebagai filsafat adalah murni sebuah nalar untuk merenungkan, merefleksikan hal-hal yang penting (konsep i’tibari) tidak hanya entitas-entitas real (wujud hakiki) saja. Saya mengikuti klasifikasi Dr Ali Reza Qaiminiyan yang membagi ilmu, termasuk filsafat menjadi dua aspek yaitu (1) aspek  ilmu per se yaitu penemuan (inkisyaf) dengan beragam metode dan (2) ilmu sebagaimana yang dipraktikan atau diaktualkan oleh ilmuwan tersebut. Dari aspek (2) seorang ilmuwan dibatasi cakrawalanya oleh zeitgeis, keterbatasan-keterbatasanya dirinya dan sebagainya. Dari aspek kedua ini Ibnu Sina adalah aplikasi dari filsafat peripatetik yang mungkin saja banyak mengandung kekurangan-kekurangan karena itu Ibnu Sina mendefinisikan filsafat dengan menambahkan indikasi ‘sebatas kemampuan manusia’. 

Sebagai sebuah filsafat murni atau katakanlah nalar murni maka menurut saya tidak hanya dibatasi oleh demonstrasi rasional (burhan) saja. Sementara memang belum ditemukan metode berpikir yang lebih sofisticated dari demontrasi rasional (burhan). Dan isunya juga bisa meluas tidak hanya masalah-masalah klasik, universal dan abadi tapi bisa juga  masalah kontemporer, partikular dan temporer. Yang penting analisanya menggunakan metode burhan, meski pun bisa saja disampaikan via bahasa retorika, puisi, cerita, simbol dan sebagainya. *** 

Nano Warnp, Ph.D adalah dosen STFI Sadra Jakarta


Thu, 19 Mar 2020 @06:28


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved