Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Jika Bayi Dilahirkan Berpengetahuan dan Hikmah Tangisan Anak

Jika Bayi Dilahirkan Berpengetahuan

Kalau bayi yang dilahirkan sudah dapat mengetahui dan berakal, niscaya ia akan mengingkari alam di saat kelahirannya. Ia akan selalu kebingungan karena sesat akal ketika melihat apa yang belum pernah diketahuinya. Datang kepadanya apa yang belum pernah ia lihat seperti rupa-rupa benda alam, binatang dan burung, dan sebagainya yang dilihatnya setiap saat.

Perhatikanlah hal itu, bahwa orang yang terpenjara di suatu negeri sementara ia berakal, maka ia seperti orang yang kebingungan. Ia tidak segera belajar bicara dan menerima etika seperrti anak kecil yang belum berakal. Kemudian, kalau ia lahir dalam keadaan berakal, maka ia akan mendapati kehinaan apabila melihat dirinya dikandung, disusui  dan dibalut dengan kain di dalam buaian. Ia memerlukan hal itu semua karena tubuhnya yang masih halus dan lunak ketika dilahirkan. Kemudian ia tidak mendapati baginya manis dan sakit yang biasa dirasakan anak.

Karena itu, ia keluar ke dunia dalam keadaan tidak memahami apa pun dan tidak tahu apa yang ada di sekitarnya. Ia mengenali sesuatu dengan otak yang lemah dan pengetahuan yang kurang. Kemudian sedikit demi sedikit pengetahuannya terus bertambah hingga menyenangi sesuatu, membiasakannya dan melakukannya terus-menerus. Maka dari sebatas memperhatikan, kebingungan berubah menjadi menggunakan dan mendorongnya untuk hidup dengan akal dan pikirannya, dan untuk mengambil pelajaran, ketaatan, kelalaian dan kemaksiatan.

Di dalam hal ini pun terdapat aspek lain. Kalaulah anak dilahirkan dengan akal yang sempurna, maka hilanglah manisnya mengasuh anak. Tidak ada artinya kedua orang-tua sibuk dengan kepentingan anak. Orang-tua tidak wajib mengajarkan kepada anak-anaknya untuk membalas kebaikan dan kasih sayang anak kepada mereka ketika mereka membutuhkannya. (2)

Kemudian anak-anak tidak mengasihi orang-tua dan orang-tua pun tidak menyayangi anak-anaknya, karena anak-anak tidak memerlukan asuhan dan perlindungan orang-tuanya. Maka ketika dilahirkan, anak berpisah dari orang-tuanya. Sehingga seseorang tidak lagi mengenali ibu dan bapaknya. Tidak ada lagi yang dapat mencegah pernikahannya kepada ibu, saudara perempuan dan mahramnya jika mereka tidak saling mengenali. Sedikitnya saja dari hal itu adalah keburukan. Bahkan lebih buruk dan lebih keji (akibatnya) jika anak dilahirkan dari perut ibunya dalam keadaan berakal. Ia akan melihat apa yang tidak halal baginya dan tidak baik untuk dilihat. Tidakkah engkau lihat bagaimana setiap ciptaan senantiasa diciptakan untuk tujuan kebaikan, dan lepas dari kesalahan yang kecil maupun yang besar. (3)

Hikmah Tangisan Anak
Ketahuilah, Wahai Mufadhdhal, hikmah tangisan anak. Ketahuilah bahwa di dalam otak anak terdapat cairan. Jika cairan itu tidak dikeluarkan, maka akan menyebabkan akibat yang fatal dan penyakit yang parah, berupa kehilangan penglihatan dan sebagainya. Tangisan mengalirkan cairan itu dari kepala sehingga akibatnya adalah badannya menjadi sehat dan penglihatannya normal. Bukankah sering terjadi anak memperoleh manfaat dari tangisannya, sementara kedua orang tuanya tidak mengetahui hal itu. Mereka berusaha untuk mendiamkan dan menenangkan anaknya ketika sakit agar tidak menangis. Mereka tidak mengetahui bahwa tangisan adalah lebih baik bagi anaknya dan lebih baik kesudahannya.

Demikianlah, bahwa di dalam segala hal terdapat manfaat yang tidak diketahui oleh orang-orang yang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan ketidaksengajaan (accidentally). Kalaulah mereka mengetahui hal itu, mereka tidak akan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang bermanfaat disebabkan mereka tidak mengenalinya dan tidak mengetahui sebabnya. Setiap hal yang tidak diketahui oleh orang-orang yang ingkar, diketahui oleh orang-orang yang arif. Banyak hal yang terbatas bagi makhluk, diketahui ilmu Pencipta Yang Maha Suci dan Maha Tinggi kalimat-Nya.

Adapun air liur yang keluar dari mulut anak, maka itu adalah keluarnya cairan yang jika dibiarkan di dalam tubuhnya, niscaya menyebabkan hal yang sangat berbahaya. Seperti orang yang engkau lihat dipenuhi cairan, maka akibatnya adalah kebodohan, kegilaan dan sebagainya berupa penyakit-penyakit yang mematikan seperti kelumpuhan (paralysis), perot (pencong, mencong,–wry, distorted) mulut , dan lain-lain. Maka Allah menjadikan cairan itu keluar melalui mulut anak ketika masih kecil agar ia tetap sehat ketika mencapai usia dewasa. Allah memuliakan ciptaannya dengan sesuatu yang tidak mereka kenali dan menaruh kasihan pada mereka dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Kalaupun mereka mengetahui ni‘mat-Nya kepada mereka, niscaya hal itu akan melalaikan mereka dari kemaksiatan kepada-Nya yang tiada henti. Maha Suci Dia, betapa agung keni‘matan-Nya dan memberikannya kepada yang berhak dan yang lainnya dari ciptaan-Nya. Maha Tinggi Dia dari apa yang dikatakan orang-orang yang batil.***


Footnote
1.      Yakni jika sesuatu tidak berkaitan dengan sebabnya. Sebagaimana ketersusunan dan keteraturan yang sempurna ini dihasilkan dari sebab. Pengaturan dalam berbagai hal merupakan sebab bagi perbedaannya. Ini bertentangan dengan keputusan para ahli terhadap apa yang mereka lihat dalam pengaturan berbagai hal, dan mencela mereka. Siapa yang menjadikannya tanpa kajian dan berpikir. Kemungkinan yang dimaksud adalah bahwa naluri menetapkan pertentangan akibat berbagai hal. Mungkin juga dapat dibentangkan penjelasan terhadap hal itu. Jika ketidaksengajaan mendatangkan manfaat, haruslah ada lawannya yaitu pengaturan yang salah. Dan ini lebih buruk lagi. (Dari Ta‘līqāt-ul-Biḥār).

2.      Yaitu, agar anak berbuat baik dan mengasihi orangtua ketika mereka memerlukannya di saat sudah tua dan lemah, sebagai balasan terhadap jerih payah mereka dalam mendidik anak-anaknya.

3.      Sebagian penjelasan yang indah dari Imām a.s. mengenai kejadian manusia dan pertumbuhannya berdasarkan tahapan-tahapannya adalah cukup menurut hukum akal. Bahwasanya baginya ada Pencipta yang menciptakannya berdasarkan ilmu, hikmah, perencanaan dan pengaturan. (Dari buku al-Imām ash-Shādiq karya Syaikh Muḥammad Ḥusain al-Muzhaffar, juz I, hlm. 171).


Sumber buku “Mengurai Tanda Kebesaran Allah” (judul asli تَوْحِيْدُ الْمُفَضَّلِ TAUḤĪD-UL-MUFADHDHAL, Imla al-Imam Abi Abdillah ash-Shadiq, ‘ala al-Mufadhdhal bin Umar al-Ju‘fiy). Penerjemah oleh Irwan Kurniawan. Penerbit PUSTAKA HIDAYAH. Diketik ulang oleh Said (Rico Akbar)

Thu, 26 Mar 2020 @12:49

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved