JUAL PRODUK ANDA

Anda bisa pasang IKLAN pada www.misykat.net dengan posisi banner atas, sisi kiri dan kanan. Kontak Chat WA: 0895-3755-29394

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Komunitas MISYKAT
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Sains dalam Islam: Pengertian dan Metode [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Pengantar

Assalamu alaikum wr wb. Belakangan hangat dibicarakan tentang hubungan antara sains dan agama, maka mulai hari ini saya ingin menyajikan sebuah wacana tentang Sains dalam Islam, selain untuk menambah wawasan, siapa tokohnya, apa bidang dan karyanya, serta sumbangannya terhadap peradaban Islam dan Barat; juga untuk dapat membedakan sains Islam dan yang lainnya. Juga adanya banyak salah faham terhadap sains Islam, karena dominasi epistemologi Barat/sekuler, menyebabkan diskusi semakin penting dan wajib dibaca oleh peminat sains (Barat maupun Islam). Semoga bermanfaat! 

Pengertian

Meskipun kata sains kadang dipakai dalam arti umum sebagai terjemahan dari ilmu, tapi khusus untuk diskusi ini, sains dipakai dalam arti ilmu-ilmu alam (natural sciences). Sains dalam arti ini meliput seluruh bidang ilmu yang berkenaan dengan objek-objek fisik, atau terkait langsung dengan fisik, sekalipun mungkin pada dirinya bukan fisik.

Sains masuk ke dunia Islam tidak terlalu lama setelah Nabi kita, Muhammad s.a.w. meninggal dunia. Ia masuk dari berbagai penjuru dunia, terutama India dan Yunani, melalui penerjemahan naskah-naskah ilmiah yang mereka cari dari berbagai tempat dan mereka simpan dalam koleksi mereka. Sebenarnya disiplin ilmiah yang pertama digemari oleh para penguasa pada masa itu adalah sains yang berilmplikasi praktis, seperti alkemi, astrologi dan kedokteran. Alkemi sangat penting bagi mereka (terutama para penguasa), karena bisa menghasilkan berbagai unsur kimia yang sangat diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti untuk pembuatan sAbûn, minyak wangi bahkan sebagai eliksir. Salah seorang penguasa yang dikenal mengabdikan dirinya pada studi alkemi adalah Mu‘âwiyyah b. Yazîd dari Dinasti ‘Ùmayyah, yang karena frustasi tidak jadi penguasa, memalingkan perhatiannya pada alkemi. Alkemi adalah ilmu terapan dari kimia, yang mencoba memanfaatkan daya-daya kimiawi untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia, sebagai pemakainya. 

Astrologi adalah sejenis ilmu yang sangat diperlukan oleh para penguasa, bahkan bisa sangat menentukan langkah-langkah besar apa yang harus diambil oleh mereka, terutama dalam keadaan yang genting, seperti mengadakan perang ataupun pengangkatan penguasa baru. Astrologi merupakan ilmu terapan dari astronomi, yang ingin memanfaatkan daya-daya astronomis yang dipelajari dari astronomi. Sekali pun status keilmuannya sering diragukan, tetapi penerapannya oleh para penguasa sangat meluas, termasuk penguasa yang terkenal rasional, seperti al-Ma’mûn. 

Tentu saja kedokteran sangat diperlukan oleh para penguasa, terutama untuk memelihara kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya agar pelaksanaan dan penyelenggaraan negara dapat dijamin. Tidak diragukan lagi bahwa semua penguasa pasti memerlukan disiplin ilmu yang satu ini. Dikatakan bahwa kedokteran merupakan cabang dari fisika, dan memanfaatkan pengetahuan ilmu fisik ini untuk kepentingan pemeliharaan kesehatan manusia.

Tetapi lama-kelamaan mereka semakin menyadari pentingnya ilmu teoritis dari mana ketiga ilmu praktis tadi bersumber. Maka dipejarilah kimia, astronomi dan fisika oleh para sarjana Muslim, atas dukungan penguasa, termasuk al-Kindî dan al-Razi (w. 313 H/925 M) dan generasi berikutnya oleh al-Fârâbî, Ibn Sînâ, Ibn Haytsâm (w. 430 H/1038 M) al-Bîrûnî (w. 432 H/1041 H). Berbagai karya kuno di bidang-bidang ini telah diterjemahkan dan diberi komentar, seperti the Element karya Euclid di bidang matematik dan Almagest karangan Ptolemius. 

Namun segera merekapun sadar bahwa ketiga disiplin ini merupakan cabang dari ilmu yang lebih luas lagi yaitu filsafat, yang dipahami pada saat itu sebagai sumber dari semua ilmu rasional (al-‘ulûm al-‘aqliyyah) yang oleh Ibn Khaldun dikontraskan dengan ilmu-ilmu agama (al-‘ulûm al-naqliyyah). Apa yang sekarang kita pahami sebagai sains, pada masa klasik dimasukkan sebagai ilmu-ilmu filsafat, karena filsafat biasanya menjadi basis rasional bagi sains-sains alamiah. Oleh karena itu, perkembangan sains tidak bisa dipisahkan dari perkembangan filsafat, dan nyatanya kebanyakan saintis besar adalah juga filosof. 

Metode

Adapun metode yang digunakan oleh para sarjana Muslim adalah apa yang mungkin disebuat sebagai metode eksperimental. Metode ini seperti dikatakan oleh A. Koslah, dalam bukunya Miracle of Islamic Science pertama kali secara sistematis digunakan oleh para ilmuwan Muslim, sedangkan kebanyakan pemikir Yunani hanya berspekulasi saja. Termasuk ke dalam metode eksperimental (tajrîbî) juga adalah metode observasi dan induksi yang dalam istilah Arab disebut istiqra’i. 

Metode ini digunakan secara luas oleh ilmuwan Muslim dalam berbagai bidang, seperti fisika, biologi (botani dan zoologi), optik, kedokteran, geologi, astronomi dsb. Ilmuwan-ilmuwan besar seperti al-Jâhizh, Ibn Sînâ, Ibn Haytsâm, al-Bîrûnî, Nashîr al-Dîn Thûsî melakukan eksperimen atau observasi langsung ketika mereka menulis karya-karya ilmiah mereka. Al-Jâhizh dikatakan telah melakukan observasi terhadap lebih dari 300 hewan ketika ia menulis kitab zoologisnya yang terkenal, Kitâb al-Hayawân, demikian juga Ibn Sînâ melakukan observasi langsung terhadap hewan-hewan yang ada di lingkungannya sebagai data yang ia pergunakan untuk menjelaskan kajian zoologis dalam karyanya yang terkenal al-Syifâ’. 

Demikian juga Ibn Haytham untuk pengkajian optiknya, melakukan eksperimen di ruang gelap, sehingga menghasilkan teori yang benar dan sampai sekarang masih berlaku tentang bagaimana kita bisa melakukan penglihatan langsung (direct vision), dan telah mengoreksi teori lama. Dan hasil pengamatan atau eskperimennya ini ia abadikan dalam karyanya yang agung, al-Manâzhir (the Optics). Yang tidak kalah penting juga adalah eksperimen yang dilakukan oleh al-Bîrûnî ketika ia berusaha untuk mengukur keliling dan diameter bumi. Dengan melakukan pengukuran lapangan di sebuah tempat di India yang diperkirakan merupakan tempat yang ideal untuk itu, digAbûng dengan pendekatan trigonometri, maka al-Biruni telah berhasil menentukan panjang keliling bumi pada abad kesebelas yang tidak begitu jauh berbeda dengan ukuran yang ditetapkan oleh sains modern. Keduanya hanya berselisih kurang dari dua ratus mil. 

Tentu saja metode eksperimental ini juga dilakukan di bidang-bidang ilmiah yang lain, khususnya kedokteran, farmakologi, astronomi dan juga geografi. Untuk itu umat Islam bersama para penguasanya mendirikan lembaga-lembaga ilmiah dan medis untuk mendukung penelitian di bidang ini. Dalam astronomi, puluhan bahkan mungkin ratusan observatorium telah didirikan dari abad ke sembilan hingga abad kesembilan belas, sebagai instrumen yang tepat bagi penelitian dan observasi astronomis. Demikian juga rumah sakit-rumah sakit didirikan, selain untuk melayani kesehatan dan mengobati masyarakat, juga adalah tempat yang efektif untuk memajukan ilmu kedokteran. Karena selalu ada ruang-ruang khusus untuk membicarakan secara intensif masalah-masalah kedokteran yang dihadapi. Bahkan sebagian rumah sakit memiliki sekolah medisnya sendiri. Adapun geografi dikembangkan dan diperbaiki dengan melakukan ekspedisi langsung ke berbagai negara. Bahkan Ibn Batutah melakukan perjalan panjang (rihlah) ke seluruh negeri yang dikenal saat itu, termasuk Rusia, India, Indonesia dan Cina. Dengan demikian geografi dikaji dan ditulis berdasarkan observasi langsung dan bukan hanya secara spekulatif atau teoretis. 

Dengan demikian kita menjadi sadar bahwa para ilmuwan Muslim, bukan hanya mengenal tetapi juga mempraktekkan dalam bidang yang luas metode eksperimen, seperti yang dilakukan di Barat, jauh sebelum ilmuwan-ilmuwan Barat mengenal dan menggunakannya. Dari pengunaan medode tersebut, di antara metode-metode lainnya, ribuan karya ilmiah telah mereka hasilkan dan memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap peradaban dunia. (bersambung) 

Sumber artikel dari grup facebook: Kuliah Filsafat dan Tasawuf bersama Mulyadhi Kartanegara (08 Mei 2020)

Fri, 8 May 2020 @07:18

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved