AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Minat beli buku klik covernya
image

 

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Sains dalam Islam: Interkoneksi Ilmu dan Mencari Jejak Ilahi [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Interkoneksi Ilmu

Akibat kesaling-terhubungan antara satu disiplin dengan disiplin lainnya, maka penjelasan ilmiah sebuah bidang tidak bisa diisolasi dengan ketat dari bidang lainnya. Ini juga bisa dilihat dari penjelasan-penjelasan ilmiah yang diberikan para ilmuwan Muslim dalam bidang sains, seperti fisika, biologi, psikologi dan bahkan sosiologi.

Sebuah fenomena alam, seperti peredaran planet, dihubungkan misalnya oleh Ikhwân al-Syafâ’ dengan jiwa universal (al-nafs al-kullî), yang dipandang sebagai jiwa alam semesta yang bertanggung jawab atas pergerakan alam dan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Mereka mengatakan, sebagaimana anggota tubuh kita tidak akan bisa bergerak kecuali ada jiwa di dalamnya, maka demikian juga menurut mereka, alam semesta, beserta bagian-bagiannya, tidak mungkin bisa bergerak kecuali ada di dalamnya kekuaran immaterial yang disebutnya jiwa universal.

Jiwa universallah yang mempertahankan struktur kosmos tetap berdiri kokoh seperti sekarang. Kalau jiwa universal ini kembali ke sumbernya yaitu Allah, maka alam semesta akan kehikangan soko-gurunya dan pasti akan ambruk. Dan apabila ini terjadi maka itulah yang dinamakan kiamat kubra. Di sini jelas, betapa ilmu fisika bisa saja diterangkan dengan memakai teori-teori metafisika ketika memang diperlukan. Hal ini tentu tidak berlaku dalam teori fisika modern, yang harus hanya membatasi penjelasannya pada hal-hal yang empiris dan terlarang untuk menghubungkannya dengan sesuatu yang bersifat supernatural atau metafisik.

Bukti lain dari keterlibatan unsur metafisika dalam penjelasan sains dapat ditemukan dalam penjelasan yang diberikan Ikhwan al-Shafa’ berkenaan dengan hewan-hewan bahwah tanah. Mereka mengatakan bahwa ada makhluk yang hidup selamanya di permukaan tanah, dalam arti tidak pernah muncul ke permukaan Bumi, yang tidak memiliki indera penglihatan (mata). Tapi dalam menjelaskan fenomena biologis yang menarik ini, Ikhwân al-Shafâ’ mengaitkannya dengan tindakan Tuhan, yang tentu saja berada di luar lingkup ilmu-ilmu fisika. Menurut mereka, Tuhan memang telah menciptakan hewan tersebut seperti itu, sesuai dengan kebijaksanaan dan kearifan-Nya. Kearifan-Nya mencegah-Nya untuk menciptakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Kalau Ia ciptakan mata baginya, maka dapat dipastikan bahwa mata tersebut tidak akan berguna, malah sebaliknya akan mendatangkan mudarat. Tidak mungkin Tuhan melakukan itu semua, karena itu akan melanggar kebijaksanaan atau kearifan-Nya.

Mencari Jejak Ilahi (Vestigia Dei)

Sains, menurut Sayyed Hossen Nasr, tidak dituntut oleh para ilmuwan Muslim hanya sekedar untuk memenuhi rasa ingin tahu saja. Ia dikaji oleh mereka dalam rangka mencari jejak-jejak ilahi (Vestigia Dei). Karena tidak seperti ilmuwan sekuler, para sarjana Muslim mengkaji alam sebagai ayat-ayat Tuhan. Al-Jâhizh dalam pengantar buku zoologinya, al-Hayawân, mengatakan bahwa zoologi baginya adalah cabang ilmu agama. Karena tujuan utama pengkajiannya adalah untuk menunjukkan keagungan Tuhan yang terdapat dalam makhluk hidup ini.

Ikhwân al-Shafâ’ mengaitkan rasa sakit yang dirasakan oleh hewan dan manusia sebagai tanda kasih sayang Tuhan. Karena, kata mereka, kalau tidak ada rasa sakit, padahal ia terluka parah, maka hewan atau manusia tersebut akan segera meninggal dunia. Melalui kearifan-Nya maka Allah menciptakan rasa sakit pada manusia, agar ia dapat mencegah terjadinya malapetaka yang lebih besar lagi. “Kalau kita tidak memiliki rasa sakit, maka ketika kaki kita terbakar oleh lilin yang kita pasang di bawah tempat tidur, kita akan mendapatkan kaki kita hangus dan terluka. Tapi dikatakan bahwa Tuhan tidak akan menciptakan rasa sakit tersebut pada tumbuh-tumbuhan, karena kalau itu terjadi maka akan terjadi penderitaan yang luar biasa pada tumbuhan, karena mereka tidak bisa pindah tempat ketika tersengat sinar matahari. Ini juga adalah tanda-tanda kebesaran-Nya.

Ibn Sînâ dalam salah karya zoologisnya mengatakan bahwa alam tidak tercipta sia-sia. Ia melihat bahwa unsur-unsur makhluk hidup bekerja sama untuk mewujudkan manfaat terbesar bagi makhluk hidup. Di dalam setiap makhluk hidup, menurutnya, bahkan di dalam setiap anggota tubuhnya terdapat manfaat, meskipun kadang luput dari perhatian kita. Baginya alam yang ada ini adalah yang terbaik, yang tidak mungkin lagi tercipta yang lebih baik lagi dari ini. Sungguh dalam alam kehidupan yang kita pelajari terdapat ayat-ayat yang sangat jelas menunjukkan keagungan Tuhan sebagai sebaik-baiknya Pencipta. Dengan ini jelas kiranya bahwa alam merupakan medan kreatifitas Tuhan, di mana kehadiran-Nya dapat dirasakan di mana-mana dan di segala tingkat maujudat (eksistensi).

Para sarjana Muslim tidak pernah merasa ragu untuk mengkaitkan segala fenomena alam yang mereka teliti dengan keagungan, kehadiran dan kekuasaan Tuhan. Bahkan ada sarjana yang mengatakan bahwa Tuhan adalah sebab pertama bagi apapun yang ada di dunia ini, dan menjadi pra-syarat bagi keberadaan mereka yang beragam.***

 Sumber artikel dari grup facebook: Kuliah Filsafat dan Tasawuf dengan Prof Mulyadhi (09 Mei 2020)

 

 

Sat, 9 May 2020 @05:40

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved