JUAL PRODUK ANDA

Anda bisa pasang IKLAN pada www.misykat.net dengan posisi banner atas, sisi kiri dan kanan. Kontak Chat WA: 0895-3755-29394

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Komunitas MISYKAT
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Sains dalam Islam: Klasifikasi Ilmu-Ilmu Kealaman dan Astrofisika [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Klasifikasi Ilmu-Ilmu Kealaman (Natural Sciences)

Perbincangan penting selain yang telah dikemukakan di atas adalah tentang klasifikasi ilmu, secara keseluruhan dan sains (ilmu-ilmu alam) pada khususnya. Tidak seperti pada masa sekarang, klasifikasi (ihshâ’ al-‘ulûm), sangat penting bagi para ilmuwan.

Begitu pentingnya sehingga hampir setiap ilmuwan besar seperti al-Kindî, al-Fârâbî, Ibn Sînâ, Quthb al-Dîn Syirâzî dan al-Ghazâlî mendeskripsikannya dengan panjang lebar dalam karya-karya mereka. Ilmuwan pada masa itu, boleh dikata sebagai generalis, yang memiliki pengetahuan yang komprehensif di hampir setiap disiplin ilmu yang berkembang. Klasifikasi ilmu sangat penting untuk bisa memahami secara komprehensif segala objek ilmu yang dapat manusia ketahui. Melalui klasifikasi ilmu ini juga kita bisa melihat hirarki ilmu dan hubungan di antara mereka. Mana ilmu yang merupakan pokok mana yang cabang. 

Klasifikasi ilmu merupakan kristalisasi dari kajian terhadap segala objek yang mungkin dapat diketahui oleh manusia. Berbeda dari yang mungkin berlaku dalam tradisi ilmiah di Barat, di mana objek ilmu hanya dibatasi pada objek-objek fisik, dalam tradisi ilmiah Islam, objek-objek ilmu tidak dibatasi hanya pada objek-objek fisik tetapi juga objek-objek non-fisik. Dan karena objek-objek ilmu tidak dibatasi hanya pada bidang fisik, maka klasifikasi ilmu juga meliputi ilmu fisika dan non-fisika, termasuk matematik dan metafisik. Oleh karena itu, maka klasifikasi ilmu dalam tradisi ilmiah Islam jauh lebih luas daripada yang ada di sistem ilmiah modern.

Secara umum ilmu dibagi ke dalam dua bagian besar, yaitu agama (syar‘iyyah) dan non-agama (ghayr syar‘iyyah), seperti yang dikatakan al-Ghazâlî (w. 1111). Atau seperti yang dikatakan Ibn Khaldûn, dalam bukunya al-Muqaddimah, ilmu-ilmu naqliyyah (transmitted sciences) dan ilmu-ilmu ‘aqliyyah (rational sciences). Ilmu-ilmu naqliyyah adalah ilmu yang disampaikan dari generasi ke generasi berdasarkan otoritas (simâ’i), yakni ilmu-ilmu yang dibentuk berdasar pada kajian tekstual berupa al-Qur’ân dan Hadis. Dalam tradisi ilmiah Islam, ilmu-ilmu naqliyyah ini telah menghasilkan berbagai disiplin ilmu agama, seperi ilmu-ilmu al-Qur’ân (‘ulûm al-Qur’ân), ilmu-ilmu hadîts (‘ulûm al-hadîts), ilmu fiqh dan ushûl al-fiqh (jurisprudence), ‘ilm al-kalâm (teologi), dan ‘ilm al-tashawwuf (mistisisme). Adapun ilmu-ilmu rasional dibagi oleh Ibn Klhaldun ke dalam ilmu-ilmu teoritis (al-‘ulûm al-nazhariyyah) dan ilmu-ilmu praktis (al-‘ulûm al-‘amaliyyah). Ilmu-ilmu teoritis dibagi ke dalam 3 bagian utama, yaitu fisika, matematika, dan metafisika. Sedangkan ilmu-ilmu teoretis dibagi ke dalam tiga disiplin ilmu yaitu etika, ekonomi dan politik.

Dalam bagian ini hanya akan dibahas disiplin-disiplin ilmu yang masuk ke dalam ilmu-ilmu fisika (al-‘ulûm al-thabî’iyyah) dan itu meliputi astro-fisik (al-samâ’ wa al-‘âlam), yang membahas tentang alam semesta fisik, meteorologi (al-âtsâr al-‘uluwwiy), yang membahas tentang objek-objek ilmu yang ada di antara langit dan bumi, fisika (al-kawn wa al-fasâd), yang membahas tentang materi alam fisik, minerologi (al-ma‘âdin) yang membahas tentang substansi mineral baik yang berupa cairan, batu-batuan dan logam-logaman. Minerologi ini disusul oleh botani, yakni ilmu yang membahas tentang tumbuh-tumbuhan dan zoologi, yakni ilmu yang membahas tentang hewan dalam berbagai aspeknya. Setelah ini kajian difokuskan kepada manusia, dan membentuk dua kelompok utama ilmu yaitu anatomi dan psikologi. Anatomi adalah ilmu tentang manusia sebagai makhluk fisik dan psikologi adalah ilmu tentang manusia sebagai makhluk mental. Dengan ini maka rangkaian disiplin ilmu fisika di akhiri.

Astrofisika

Marilah kita bahas satu-persatu disiplin ilmiah ilmu-ilmu fisika secara lebih terperinci, sebagai berikut: (1) Astrofisika adalah sains yang mempelajari properti dan fenomena alam termasuk b.tang-b.tang dan planet. Istilah yang sering dipakai oleh para ilmuwan Muslim untuk bidang kajian ini adalah al-samâ’ wa al-‘âlam (studi tentang langit dan alam semesta). Astro-fisika biasanya merupakan kajian pertama dalam kelompok ilmu alam. Hampir semua ilmuwan besar Muslim memiliki konsep astrofisika dalam karya-karya mereka. Di sini hanya akan ditampilkan satu teori saja, sebagai ilustrasi, yaitu teori astro-fisika Ikhwân al-Shafâ. 

Tapi sebelum kita beranjak lebih jauh ada baiknya kita bicarakan sedikit tentang perbedaan fundamental yang ada antara astro-fisika modern dan astro-fisika Islam. Dalam sains modern, astro-fisika meliputi seluruh alam semesta fisik yang dimulai dari dentuman besar (big bang) sampai perkembangan terkininya, dalam apa yang kemudian dikenal sebagai the expanding universe, atau alam semesta yang senantiasa berkembang dengan sendirinya tanpa pencipta. Meskipun begitu, alam semesta yang dijelaskan oleh fisika modern adalah alam semesta yang mati tanpa jiwa.

Berbeda halnya dengan sains modern, dalam astro-fisika Islam, alam dipandang sebagai makhluk hidup yang berjiwa. Ikhwân al-Shafâ’ mengistilahkan alam dengan manusia agung (al-insân al-kabîr atau the great man), di mana alam dipercaya sebagai benda tunggal yang memiliki jiwa tunggal yang mengalir ke seluruh bagian alam, sebagaimana jiwa manusia mengalir ke seluruh tubuhnya. Demikian juga alam fisik terhubung dengan sebab pertamanya yang bersifat immaterial, seperti Tuhan, akal universal dan jiwa universal, atau jiwa alam yang meresap dan mengalir ke seluruh bagian-bagiannya. Di sini terlihat betapa erat hubungan antara dunia fisik dan non-fisik atau metafisiknya. 

Tentu saja Tuhan adalah wujud pertama darimana seluruh alam berasal. Ia adalah pencipta alam semesta beserta isinya. Dan menurut Ikhwân al-Shafa’ yang pertama dicipta oleh Tuhan adalah akal, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Makhluk pertama yang dicipta Tuhan adalah akal.” Akal ini memiliki segala macam sifat keagungan sebagai makhluk pertama Tuhan. Dari akal universal ini muncullah apa yang kemudian disebut jiwa, yakni jiwa universal (al-nafs al-kullîyyah) yang meliputi seluruh bagian alam. Lalu ketika jiwa universal ini bertemu dengan tubuh mutlak, maka jiwa universal tadi terbagi-bagi menjadi jiwa-jiwa partikular (al-nafs al-juz’îyyah). Seluruh bagian alam, dari substansi mineral hingga manusia kemudian dikaruniai sebuah jiwa, yakni jiwa khusus untuk masing-masing entitas tersebut. Itulah yang dimaksud dengan jiwa partikular. Dengan demikian menurut Ikhwân al-Shafâ’ alam semesta yang biasa kita persepsi sebagai mati adalah alam yang hidup, dan karena itu harus diperlakukan sebagai makhluk hidup (living creature). 

Seperti pada bidang yang lain, kosmologi atau astrofisika juga tidak bisa dipisahkan dengan Tuhan. Ia adalah yang telah menciptakan alam semesta yang mereka definisikan sebagai “semua wujud spiritual dan material yang mengisi luasnya langit, yang merupakan penguasa kebinekaan yang meliputi benda-benda angkasa, bintang-bintang, unsur-unsur dan yang dihasilkan oleh mereka, hingga kepada manusia.” Meskipun begitu Ikhwân al-Shafâ’ percaya bahwa Tuhan tetap secara fundamental berbeda dengan alam. Alam dihubungkan dengan Tuhan melalui empat aspek yakni wujud, kelangsungannya dalam wujud, kelengkapan, dan kesempurnaannya. Akal universal mewarisi keempat keutamaan itu dari Tuhan dan mewariskannya kepada jiwa universal. 

Ikhwân al-Shafâ’ mengunakan simbolisme “cinta” seperti para Sufi untuk menunjukkan “daya tarik” antara Tuhan dan alam. Menurut mereka seluruh isi alam mencari dan mencintai Tuhan. Bahkan, Tuhan adalah satu-satunya “kekasih” (al-ma’syûq) dan satu-satunya objek yang dituju (al-murâd). Kerinduan yang merupakan sebab dari terwujudnya segala sesuatu dan hukum yang mengatur alam semesta. Melalui kerinduan kepada Allah-lah jiwa universal memunculkan orbit paling luar (falak al-muhîth). Kemudian falak muhîth berputar untuk membentuk orbit-orbit di bawahnya, terus begitu hingga mencapai orbit bulan.” 

Dalam sistem astrofisik Ikhwân al-Shafâ’ falak atau orbit yang ada di bawah falak muhîth adalah falak b.tang-b.tang tetap, Saturnus, Yupiter, Mars, Matahari, Venus, Merkurius, Bulan dan orbit Oksigen. Walaupun bumi berada di pusat, tapi merekapun menyadari posisi sentral Matahari, karena menurut mereka empat orbit ada di bawah matahari dan empat orbit lainnya di atas matahari. Inilah selintas sistem atau konsep Ikhwân al-Shafâ’ berkenaan dengan astrofisika (kosmologi).*** 

Sumber artikel dari grup facebook: Kuliah Filsafat dan Tasawuf dengan Prof Mulyadhi (09 Mei 2020)

Sat, 9 May 2020 @05:53

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved