AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Minat beli buku klik covernya
image

 

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Sains dalam Islam: Meteorologi, Fisika Dasar, Mineralogi, Botani [by Mulyadhi Kartanegara]

image

 

Meteorologi

Kajian tentang pengaruh benda-benda langit (al-âthâr al-‘uluwiy), atau yang mungkin kita istilahkan dengan meteorologi, adalah studi tentang apa yang ada antara orbit bulan dan permukaan Bumi. Kajian ini meliputi orbit-orbit yang ada di antara bulan dan bumi. Jadi, bukan hanya tentang perubahan cuaca, angin, puting beliung, hujan, salju, halilintar, kilat dsb., tetapi juga bintang-bintang berekor, meteor, komet, dan peristiwa-peristiwa lain yang saat ini mungkin masuk ke dalam bidang astronomi.

Menurut ilmuwan Muslim yang tergabung dalam kelompok Ikhwan al-Shafa’, angkasa cterdiri dari tiga lapis (orbit),

(1) orbit tertinggi atau ether (falak atsîr) yang panas karena adanya kontak dengan orbit bulan,
(2) orbit tengah atau zamharîr yang sangat dingin, atau yang sekarang mungkin disebut lapisan ozon, dan
(3) orbit paling rendah atau nasîm (oksigen), yang temperaturnya sedang.
 

Mereka menjelaskan secara terperinci tentang pengaruh laut dan air lainnya terhadap kelembaban udara dan juga pengaruh atmosfir terhadap bumi. Mereka juga berbicara tentang ketergantungan panas di udara dan pada permukaan bumi pada intensitas dan sudut jatuhnya sinar matahari. Mereka menunjukkan perbedaan temperatur yang ekstrim antara kutub dan daerah khatt al-istiwâ dan validitas observsi mereka.

Mereka kemudian menjelaskan tentang fenomena meteorologis seperti hujan, salju, angin dan sebagainya. Mereka percaya konsepsi yang organik dan terpadu dari alam semesta yang mereka teliti, tidak mungkin hanya merupakan imajinasi manusia belaka terhadap alam semesta, tetapi bahwa semua manifestasi alam ini menunjukkan kesatuan sistem perintah dan Penciptanya 

Fisika Dasar

Selain kedua disiplin di atas, para ilmuwan Muslim juga menulis tentang apa yang mungkin kita sebut fisika proper atau fisika. Di sini para filosof dan ilmuwan Muslim mendiskusikan topik-topik yang relevan terhadap disiplin tersebut seperti, tentang materi, bentuk, ruang waktu dan gerak. 

Menurut mereka materi adalah substansi yang memiliki bentuk, sedangkan bentuk adalah rupa yang memiliki susbstansi. Semua benda alam berbeda bentuknya bukan dari segi materinya. Misalnya pisau, pedang, kapak, gergaji, mereka berbeda bentuknya bukan materinya, karena materinya sama, yaitu besi. 

Materi terbagi ke dalam empat macam. Materi barang-barang produksi, materi alami, materi segala sesuatu, dan materi awal. Materi barang-barang produksi adalah setiap benda yang digunakan sebagai bahan dasar oleh pembuat barang-barang produksi, seperti kayu yang digunakan oleh para tukang kayu, besi yang digunakan para pandai besi, semen dan air yang digunakan oleh ahli bangunan. 

Materi alam adalah unsur-unsur yang empat, dan materi dari segala sesuatu adalah benda mutlak yang menjadi bahan bagi segala benda di alam, seperti planet, bintang-bintang, unsur-unsur, dan semua yang ada sejauh ia adalah benda-benda alam. Adapun materi awal adalah substansi sederhana yang hanya bisa dinalar tapi tak bisa diinderai. Substansi ini adalah bentuk wujud per se, yakni zat (huwiyyah). Bila zat ini memiliki kuantitas tiga dimensi, panjang, lebar dan tinggi, maka ia disebut benda mutlak. Tetapi kalau zat ini memiliki kualitas bentuk, seperti lingkaran, segi tiga, segi empat, dsb. dinamakan benda khusus. 

Ruang menurut sebagian besar filosof adalah tempat menetapnya sebuah benda. Ada juga yang berpendapat bahwa ruang adalah tempat kosong yang memuat benda tiga dimensi. Dalam arti ini ruang disamakan dengan substansi tempat menetapnya aksiden. 

Waktu adalah kumpulan tahun, bulan, hari dan jam yang bisa dimengerti dalam hubungannya dengan peredaran siang dan malam, atau berotasinya bumi. Gerak adalah bentuk yang dicipta jiwa dalam benda. Gerak ada dua jenis, gerak susbstantial seperti gerak api, dan gerak aksidental, seperti gerak air, udara dan tanah. 

Mineralogi

Penelitian di bidang minerologi atau ilmu tentang benda-benda mineral: batu-batuan atau logam, diarahkan pada distribusi, identifikasi dan sifat-sifat dari benda-benda mineral itu. Di samping aspek-aspek kuantitatif, ilmuwan-ilmuwan Muslim juga meneliti aspek kualitatif dari benda-benda mineral tersebut. Itulah sebabnya. maka di samping berat dan ukuran, penelitian minerologis juga diarahkan pada warna, kecemerlangan, teksture dan bentuk dari sebuah batu. Juga diteliti peranan batu-batu tertentu dalam menenangkan jiwa atau menimbulkan rasa senang atau keadaan psikologis lainnya. 

Seorang Sufi seperti Ibn ‘Arabi membuat satu fasal tersendiri dalam bukunya Tadbîrât al-Ilâhiyyah, tentang kualitas/sifat esoterik dari batu-batuan. Al-Kindî menulis dua buku tentang berbagai jenis batu-batuan berharga dan sebuah Risalah tentang Berbagai Jenis Batu-batuan dan Permata. Tetapi kitab yang paling penting di bidang ini adalah Kitâb al-Jamâhir fî Ma’rifat al-Jawâhir (Buku Tentang Pengetahuan Tentang Batu-batuan Berharga), yang ditulis oleh Abû Rayhan al-Biruni. Di dalam kitab ini al-Biruni mendekati kajian dan objeknya ini bukan hanya dari aspek minerologis, tetapi juga filologis, fisik, medis dan bahkan filosofis. Kitab lain yang ada kajian tentang minerologi ini adalah Rasâ’il Ikhwân al-Shafâ’ yang mengabdikan satu risalahnya untuk minerologi, dan Kitâb al-Mursyîd yang ditulis Muhammad b. Ahmad al-Tamîmî, yang merupakan kitab utama tentang mineral, batu-batuan dan logam dan dikutip oleh banyak pengarang yang datang berikutnya. Dan satu lagi yang patut disinggung adalah kitab al-Syifâ’ karangan Ibn Sînâ, yang membagi mineral ke dalam batu-batuan (ahhjâr), belerang (kabarît), garam (amlah) dan larutan (dzâ’ibât). 

Botani

Botani adalah cabang ilmu alam yang berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan. Penelitian botanik biasanya diarahkan pada bentuk (morfologi), klasifikasi tumbuhan, fisiologi, deskripsi bagian-bagiannya, pertumbuhan, dan juga daya-daya khusus yang membedakan tumbuhan dengan benda-benda mineral. Dari penelitian ini ditemukanlah tiga daya yang secara khusus dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan, yaitu kemampuannya untuk tumbuh (growth), mencerap makanan (nutritive faculty) dan berkembang biak (reproductive faculty). 

Selain daya-daya khusus (properties), genesis dan morfologi, penelitian juga diarahkan pada apa manfaat tumbuhan sebagai bahan makanan bagi manusia (nutrisi), dan apa pula manfaatnya sebagai bahan alami pengobatan (medis). Dari penyelidikan yang pertama, muncullah ilmu pertanian (‘ilm al-fillahah) yang memfokuskan diri pada bagaimana membudidayakan (cultivate) jenis-jenis tumbuhan tertentu untuk kepentingan konsumsi manusia, atau untuk tujuan pertamanan, hiasan rumah dan istana, atau hutan lindung. Sedangkan dari penyelidikan yang kedua, tentang manfaat medis dari tumbuhan muncullah salah satu cabang ilmu kedokteran yang dikenal sebagai farmakologi. Ilmu ini menyelidiki manfaat dan bahaya (racun) dari tumbuh-tumbuhan tertentu bagi kesehatan dan pengobatan tubuh manusia, dan bagaimana dari berbagai tumbuhan yang telah diekstrak esensinya diracik sejenis obat tertentu, tentunya melalui berbagai percobaan (tajribât). Dan obat-obat yang telah teruji (mujarrabât) itulah yang kemudian dipakai oleh para dokter untuk menyembuhkan pasiennya. 

Banyak karya yang telah dibuat sebagai hasil penyelidikan botani ini, antara lain Kitâb al-Hudûd, karangan Jâbir b. Hayyân (822), Kitab al-Nabât wa al-Syajar, karangan Abû Sa’îd al-Ashmâ’î, Kitab al-Nabât, karangan Abû Hanîfah al-Dinawârî, Kitab al-I’tibâr oleh ‘Abd al-Lathîf al-Baghdâdî. Sedangkan beberapa kitab berkaitan dengan farmakologi antara lain adalah Firdaws al-Hikmah karangan ‘Alî Rabbân al-Thabarî, dan Kitab al-Jâmi’ li-mufradât al-Adwiyyah wa al-Aghdziyyah karangan Ibn Baythâr dari Andalus. Adapun kitab al-Syifâ’ oleh Ibn Sînâ melihat tumbuhan dari perspektif ilmiah dan filosofis.***

 Sumber artikel dari grup facebook: Kuliah Filsafat dan Tasawuf dengan Prof Mulyadhi (09 Mei 2020)

Sat, 9 May 2020 @06:05

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved