AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Minat beli buku klik covernya
image

 

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Sains dalam Islam: Zoologi, Anatomi, dan Psikologi [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Zoologi (Ilmu Hewan)

Zoologi adalah salah satu cabang ilmu alam yang memelajari kehidupan hewan. Seperti pada ilmu hewan lainnya, para ahli zoologi Muslim melakukan penelitian terhadap fisiologi hewan-hewan, jenis-jenis dan tipologi hewan menurut kriteria tertentu—misalnya cara pertahanan hidup mereka—dan lain-lain. Tetapi berbeda dengan zoologi di Barat yang hanya membatasi diri pada aspek fisiologi hewan, para ahli zoologi Muslim melebarkan penelitian mereka pada aspek-aspek lain seperti filologis, religius, eskatologis, farmakologis, etik, bahkan literature dan filosofis.

Al-Jâhizh, yang telah meneliti dan mempelajari 350 hewan, melakukan penelitian bukan hanya terhadap pendeskripsian dan pengklasifikasian hewan ke dalam empat kategori menurut cara mereka bergerak, tetapi, seperti Aristoteles, ia juga banyak tertarik kepada psikologi hewan. Selain itu al-Jâhizh juga telah menjadikan zoologi sebagai sebuah cabang kajian agama, karena menurutnya tujuan mempelajari zoologi tidak lain daripada menunjukkan keberadaan Tuhan dan kebijaksanaan yang ada pada ciptaannya. 

Sementara yang lain meneliti hewan dari perspektif moral, karena, seperti halnya kitab Kalîlah wa al-Dimnah, kita tidak hanya tertarik untuk belajar tentang hewan tetapi juga belajar dari hewan. Berbagai pelajaran moral dapat kita petik dari kitab seperti di atas, yang merupakan ceritera hewan (fable) yang menunjukkan berbagai karakter hewan serta akibat dari tingkah laku mereka. Para ahli zoologi yang lain, seperti para filosof pada umumnya lebih tertarik pada aspek psikologis hewan sekalipun, seperti Ibn Sînâ, mereka juga melakukan studi yang mendalam tentang klasifikasi, habitat, anggota tubuh, serta perbedaan di antara mereka, sementara al-Qazwini mencoba membagi hewan menurut cara dan mekanisme pertahanan diri mereka.

Namun, yang paling komprehensif melakukan penelitian terhadap hewan adalah Kamâl al-Dîn al-Dâmîrî dalam bukunya Hayât al-Hayawân al-Kubrâ. Ia tidak hanya tertarik pada klasifikasi hewan, tetapi juga pada aspek filologis dari nama-nama hewan, status agama dan yuridis hewan menurut syari’ah, manfaat medis dan penggunaan magik dan makna mereka dalam penafsiran mimpi. Dari penelitian mereka muncullah karya-karya besar yang amat kaya, seperti Kitâb al-Hayawân oleh al-Jâhizh, ‘Uyûn al-Akhbâr oleh Ibn Qutaybah, Rasâ’il Ikhwân al-Shafâ’, Kitâb al-Syifâ’ karangan Ibn Sînâ, khususnya bab al-Hayawân, ‘Ajâ’ib al-Makhlûqât oleh al-Qazwînî, dan, seperti telah disinggung, Kitab Hayât al-Hayawân al-Kubrâ karangan Kamâl al-Dîn al-Dâmîrî. 

Anatomi (Tasyrîh)

Anatomi adalah cabang ilmu fisika yang mempelajari manusia dari aspek tubuhnya, sementara psikologi adalah studi manusia dari aspek jiwanya. Dalam tradisi ilmiah Islam, anatomi, biasanya dimasukkan ke dalam ilmu kedokteran dan dianggap sebagai “prelude” atau pengetahuan dasar bagi kedokteran, yang didefinisikan sebagai ilmu tentang tubuh manusia dillihat dari sudut sehat atau sakitnya.

Penelitian di bidang anatomi biasanya diarahkan pada pemerian dan penjumlahan berbagai bagian dari tubuh manusia, khususnya tulang, urat syaraf dan otot manusia. Dari hasil penelitian itu dikatakan, misalnya, bahwa tubuh manusia memiliki 248 potong tulang dengan penjabaran mereka yang cukup akurat. Demikian juga saraf pada umumnya digambarkan dengan cukup baik, sementara anatomi dan fisiologi yang berkaitan dengan otot tetap masih kurang memadai. Adapun tentang anatomi mata, menjadi fokus cabang ilmu kedokteran lain yang disebut opthalmologi dan jantung, seperti yang diberikan oleh Ibn al-Nafis, masuk ke dalam bidang kedokteran internis.

Meskipun begitu, seperti pada bidang botani dan zoologi, penelitian di bidang anatomi, tidak terbatas pada bidang medis, dan diteliti oleh ahli kedokteran saja, tetapi juga pada bidang non-medis seperti sufisme, teologi bahkan juga filsafat. Menurut para ilmuwan Muslim, studi tentang tubuh manusia adalah sangat penting untuk memahami kearifan Tuhan yang begitu nyata atau menonjol dalam diri manusia, yang merupakan ciptaannya yang sangat utama. Kelompok filosof Ikhwân al-Shafâ’ dalam Rasâ’il memberi begitu banyak perhatian pada simbolisme numerik dari bagian-bagian tubuh manusia dan paralelismenya dengan berbagai bagian dari kosmos. Demikian juga para Sufi seperti al-Ghazâlî dan Ibn ‘Arabî membahas secara ekstensif simbolisme anatomi manusia dan seorang filosof-teosofer seperti Mullâ Shadrâ, yang juga mendiskusikan secara panjang lebar tentang masalah ini dalam bukunya Mafâtîh al-Ghayb, atau juga al-Fârâbî yang mencoba menjelaskan teori masyarakat dengan simbolisme anatomi manusia.

Dari hasil penelitian para ahli di bidang anatomi dan fisiologi ini muncullah beberapa karya, di antaranya Mukhtashar dar ‘Ilm-i Tasyrîh (Manual Singkat Anatomi) karangan ‘Abd al-Majîd al-Baydhawî dan Tasyrîh-i Manshûrî oleh Manshûr b. Muhammad b. Faqîh Ilyâs, yang ditulis selama masa abad 13 dan 15. Sedangkan tentang jantung pemaparan yang mengesankan dapat dilihat dalam buku Ibn al-Nafîs, al-Syâmil fî Shinâ’at al-Thibbiyah dan Syarh Tasyrîh al-Qânûn yang merupakan komentar Ibn al-Nafîs atas bagian anatomi dari al-Qânûn fî al-Thibb, karangan Ibn Sînâ. 

Psikologi (Fî al-Nafs)

Psikologi atau ilmu jiwa adalah cabang ilmu-ilmu fisika, karena sekalipun pada dirinya jiwa bersifat immaterial, tetapi selama masa karirnya di dunia ia termasuk bidang fisika, sebagaimana jiwa tumbuhan dan hewan termasuk bidang fisika. Sedangkan setelah bercerai dengan materi jiwa dipelajari dalam salah satu cabang ilmu metafisika, yaitu eskatologi. Penyelidikan di bidang psikologi ini diarahkan pada daya-daya jiwa yang ada pada diri manusia, baik yang berbagi dengan tumbuhan (jiwa nabati) dan/atau dengan hewan (jiwa hewani) maupun daya-daya jiwa yang secara khusus dimiliki oleh manusia. 

Daya-daya nabati menyelidiki bagaimana sebuah organ bisa berkembang dari benih yang kecil menjadi sosok yang besar, dan karena apa, serta bagaimana tubuh manusia bisa berkembang biak. Dari sini disimpulkanlah bahwa ada tiga daya manusia yang dibagi dengan tumbuhan (jiwa nabati) yaitu tumbuh (growth), daya nutritive (nutritive faculty) dan daya untuk berkembang biak (reproductive faculty). 

Penyelidikan lain dalam psikologi ini diarahkan pada daya-daya yang dimiliki bersama dengan hewan yang menyebabkan kita bisa bergerak dan mengindera. Dari penelitian ini muncullah uraian yang komprehensif tentang indera dan gerakan yang dimiliki oleh manusia. Ibn Sînâ, misalnya mendiskusikan panjang lebar bukan hanya tentang lima indera lahir yang telah sama-sama kita ketahui, tetapi juga lima indera batin, yang didiskusikan berdasarkan penelitian-penelitian yang kritis, misalnya, bagaimana dari lima indera lahir diperoleh satu pemahaman utuh tentang sebuah benda; demikian juga diselidiki mengapa kita bisa mengingat bentuk dari benda-benda yang kita lihat, demikian juga yang kita pahami dan sebagainya. 

Dari penelitian ini disimpulkan adanya lima indera batin yaitu indera bersama (al-hiss al-musytarak), fantasi (khayâl), estimasi (al-wahm), imajinasi (mutakhayyilah) dan memori (al-hâfizhah). Sedangkan tentang gerak, diselidikinya dua macam gerak, yaitu gerak ke arah objek dan gerak menjauhi objek. Dari sini disimpulkan adanya dua daya gerak, yang disebut nafsu, yaitu nafsu syahwiyyah (syahwat), yang mendorong gerak kita ke arah objek, dan nafsu ghadhabiyyah (amarah) yang mendorong kita jauh dari objek. 

Tetapi penelitian psikologis yang paling penting tentu diarahkan pada daya yang khas dimiliki oleh manusia yang kemudian disebut akal (‘aql). Daya ini memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki hewan—apalagi tumbuhan dan batu-batuan—termasuk di dalamnya kemampuan mengabstrak konsep-konsep universal dan berbahasa. Dengan demikian manusia sering disebut sebagai al-haywân al-nâthiq (hewan rasional). 

Dari penelitian tentang jiwa manusia ini muncullah berbagai karya ilmiah tentang jiwa ini. Hampir semua filosof besar, seperti al-Kindî, al-Fârâbî, Ibn Sînâ, al-Ghazâlî, Ibn Rusyd dan lain-lain menulis tentang jiwa, baik dalam buku ensiklopedisnya maupun buku yang ditulis khusus tentang jiwa. Ibn Sînâ selain menulis bab tentang jiwa dalam al-Syifâ’ dan al-Najât-nya, juga menulis risalah khusus tentang jiwa, yaitu Ahwâl al-Nafs.

Demikian juga al-Ghazâlî menulis buku Ma‘ârij al-Quds fi Madârij Ma‘rifat al-Nafs. Sedangkan Fakhr al-Dîn al-Râzî, menulis Kitâb al-Nafs wa al-Ruh wa Quwwâhumâ, dan Ibn Rusyd menyampaikan pandangan-pandangan psikologinya dalam buku komentar atas Aristoteles, yaitu Talkhîs Kitâb al-Nafs.*** 

Mulyadhi Kartanegara adalah pakar Filsafat Islam

 

Sun, 10 May 2020 @06:54

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved