Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Ramadhan, Peristiwa, Lailatul Qadr, dan Covid19

image

Dalam Alquran disebutkan pada Bulan Suci Ramadhan,  Alquran diturunkan. Hanya saja hari dan tanggalnya tidak disebutkan dalam Alquran. Sedangkan dalam catatan sejarah bahwa Alquran yang turun pertama di Gua Hira itu terjadi bulan Rajab tahun 610 Masehi.

Saya percaya dan yakin Alquran benar, tetapi wahyu Alquran yang turun bukan yang pertama, tetapi (ada ulama yang menyatakan) keseluruhan Alquran. Sehingga setelah wahyu yang pertama turun sebagai deklarasi kenabian, lanjut dengan perintah Alquran untuk bangkit dan syiar Islam pada keluarga dekat Rasulullah saw kemudian keseluruhan Alquran diturunkan sampai kepada Baginda Nabi pada Bulan Suci Ramadhan. Itu yang saya pahami. Bisa jadi Anda punya informasi yang beda. Lantas, mengapa ada asbabun nuzul? Ini terkait dengan respons langit atas peristiwa historis yang dihadapi Nabi dan malaikat Jibril memberikan informasi kepada Nabi agar merespons dengan ayat-ayat tertentu yang relevan dengan situasi tersebut. Itulah yang saya pahami dan mungkin tidak benar. 

Peristiwa sejarah

Jadi, yang dirayakan malam 17 Ramadhan oleh jamaah di masjid dengan undang penceramah itu peristiwa apa? Ada riwayat yang menyebutkan malam 23 Ramadhan adalah Nuzul Alquran. Ini kalau tidak salah tercantum dalam Sirah Ibnu Hisyam dan Tarikh Thabari. Afwan, tidak sempat cek lagi. Mungkin berkenan yang ahli untuk mengkajinya biar saya tercerahkan. 

Dalam sejarah bahwa tanggal 17 Ramadhan terkait dengan hari bertemunya dua pasukan di Badar. Peristiwa ini disebut Perang Badar yang dimenangkan oleh sekira 313 pasukan Rasulullah saw melawan sekira 1000 orang kafir musyrikin Makkah. Menang karena turun bantuan malaikat sehingga musuh Islam menyangka pasukan berkuda dengan jubah putih adalah kaum Muslim Madinah. Jumlah kecil bisa mengalahkan jumlah besar karena keterlibatan Allah dalam peristiwa tersebut. Dalam peristiwa Badar itu kisah Hamzah bin Abdul Muthalib dan 'Ali bin Abu Thalib dikenal sebagai petarung hebat yang saat awal sebelum perang diadakan duel dengan pihak musuh. Pihak musuh yang berduel dengan dua jagoan Islam itu mati berkalang tanah. Kemudian terjadilah perang di Badar dan pasukan Rasulullah Saw menang. Dari peristiwa Badar itu kaum musuh tidak lagi menganggap enteng pada Rasulullah saw. 

Peristiwa lainnya di Bulan Suci Ramadhan, yang terjadi dalam sejarah adalah tragedi pembacokan kepada Ali bin Abu Thalib karamallahu wajhah. Terjadi pada 19 Ramadan 40 H/28 Januari 661 M. saat shalat subuh di Masjid Kufah, Iraq, dalam posisi sujud. Abdurrahman bin Muljam membacokan pedangnya pada kepala bagian belakang dan darah mengucur pada bagian wajah 'Ali. Dibacok dengan pedang beracun. Pelakunya seorang Khawarij. Kaum Khawarij ini dahulu pasukan 'Ali kemudian keluar dari barisan karena kecewa dengan tahkim yang dimenangkan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Kaum Khawarij menganggap 'Ali yang berkedudukan sebagai Khalifah Rasyidun tidak berhukum dengan Alquran sehingga layak ditumpahkan darahnya. Dalam catatan sejarah dicantumkan bukti historis terkait kaum Khawarij yang perilakunya mirip kaum ISIS (Islam State for Iraq and Syam) yang melakukan tindakan dehumanis di Timur Tengah. Mereka membunuh orang-orang Islam yang tidak setuju dengan pemahaman kaum Khawarij. 

Sebuah riwayat mengisahkan bahwa sebelum orang Khawarij itu melakukan pembacokan, ia tinggal di masjid. Ia tidur menelungkup badan karena menyembunyikan pedangnya. Saat subuh itu 'Ali bin Abu Thalib melewatinya. Kemudian membangunkan ia, 'Ali berkata: "Pada matamu terpancar niat jahat." Selanjutnya 'Ali pergi menuju mihrab untuk melakukan shalat. Dari riwayat ini sebetulnya orang Khawarij itu sudah diingatkan dan disadarkan tentang niat jahatnya. Namun, karena faktor benci dan target yang sudah dicanangkan maka hati nuraninya menjadi tumpul untuk sadar. 

Yang menarik saya, dalam Nahjul Balaghah bahwa Abdurrahman bin Muljam yang membacok 'Ali bin Abu Thalib karamallahu wajhah ini diperlakukan dengan baik atas perintah 'Ali. Sehingga keluarga 'Ali pun memberikan makanan, minuman, dan melonggarkan ikatan pada tangannya. Meski sudah benar-benar diketahui kelakuannya membahayakan jiwa manusia, masih tetap diperlakukan dengan manusiawi. Saya kira ini bagian dari akhlak Islami yang patut ditiru  dari Ahlulbait Rasulullah saw. Kemudian pada 21 Ramadhan diceritakan 'Ali wafat dan makamnya kini di Najaf, Irak. 

Lailatul Qadr

Sudah menjadi ketentuan bahwa pada Bulan Suci Ramadhan ada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Meski sebenarnya seluruh bulan Ramadhan itu mulia, tetapi saya kira penting diketahui untuk yang ingin mengkhususkan ibadah pada satu malam. 

Diriwayatkan Abu Yahya Abdullah bin Unais al-Juhanni, seorang pengembala dari suku Juhan menghadap Nabi Muhammad saw dan berkata: “Wahai Nabi Allah, aku ingin engkau memerintahkanku agar dalam satu malam Ramadhan aku datang ke Madinah dan memanjatkan doa.” Nabi mengatakan agar ia datang pada malam 23 Ramadhan. Hadis ini dikutip dari kitab Bihar Al-Anwar, jilid 99, halaman 20; dan Kitab Usud al-Ghabah, jilid 3, halaman 20. Dimuat pula dalam footnote buku Puasa Ramadhan Sebuah Perjalanan Spiritual karya Mirza Javad Agha Maliki Tabrizi (Penerbit Pustaka Hidayah) halaman 171. 

Seingat saya dalam buletin Al-Tanwir Yayasan Muthahhari (pernah) dibahas bahwa pada malam 23 Ramadhan dianjurkan untuk diisi dengan ibadah yang full secara perorangan maupun berjamaah. Ibadah yang dilakukan meliputi: 

(1) Setelah shalat Isya, lakukan shalat sunah dua rakaat (lailatul qadar). Rakaat pertama diisi surah fatihah dan surah al-ikhlas tujuh kali. Rakaat kedua pun sama. Selesai salam (terakhir) membaca istighfar tujuh puluh kali: astaghfirullaha wa atubu ilaihi. Ditambah dengan dzikir: Subhanallah walhamdulillah wala ilaaha illallaah wallahu akbar (seratus kali) dan shalawat: Allahumma shali 'ala Muhammad wa aali Muhammad (seratus kali). 

(2) Membaca al-Quran surah Al-Ankabut, Ar-Rum, Adh-Dukhan, dan surah al-Qadar (sebanyak yang mampu dilakukan). 

(3) Tawasul dengan Al-Quran. Buka mushaf al-Quran letakan pada kepala dan baca doa: Ya Allah aku bermohon kepada-Mu dengan bertawassul pada Kitab-Mu yang diturunkan dan pada apa-apa yang ada di dalamnya. Di dalamnya ada Nama-Mu yang Agung dan asmaul husna, dan apa yang ditakutkan dan diharapkan. Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Dan jadikanlah aku di antara orang yang Kau bebaskan dari api neraka. 

(4) Membaca doa jausyan kabir dan doa-doa serta dzikir lainnya; dan (5) berbuat baik dengan memberikan santunan (sedekah) untuk kaum mustadhafin dan anak yatim piatu maupun fakir miskin. Bisa berbagi makanan atau pun lainnya yang dapat membahagiakan mereka. 

Tentu aktivitas ibadah lainnya seperti qiyamulail dan shalawat serta istighfar bisa terus dilakukan. Yang terpenting mampu meluangkan waktu pada malam 23 Ramadhan dalam aktivitas ibadah dan doa. Meski tidak full semalam suntuk seperti saya. Maklum, sangat tidak betah dalam ibadah. Semoga saja malam 23 Ramadhan ini ada kemampuan untuk ibadah. 

Covid19

Ramadhan dari masa ke masa pasti berbeda. Saya yakin senantiasa ada peristiwa manusiawi yang dialami umat Islam sepanjang sejarah. Kini seluruh dunia, termasuk Indonesia, Ramadan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Wabah Covid19 mengubah segala rutinas Ramadhan dari keceriaan dan suka cita dalam kebersamaan berjamaah dari ibadah sampai buka puasa dan cerah ceria sambut idul fitri serta mudik yang khas Indonesia. 

Sekarang ini Ramadhan menjadi bersifat personal dan terbatasi dengan keluarga rumah saja. Meski dalam keterbatasan ekonomi, tetap semangat dalam ibadah. Jangan sampai faktor keterbatasan menjadi penghalang untuk ibadah yang bisa dilakukan secara personal seperti shalat, puasa, membaca Alquran, Shalawat, istighfar, dan doa-doa. Lakukan saja yang mampu dan dapat dilakukan. Tetap ikuti arahan pemerintah. Insya Allah, rezeki akan mengalir begitu saja kalau diri ini sabar dan berharap kepada Allah agar membantunya. Alquran surah Albaqarah ayat 45 menyebutkan agar memohon kepada Allah dengan sabar dan shalat, tetapi melakukan aktivitas itu berat kecuali bagi yang serius dan fokus (khusyuk). Tentu shalat bisa dilakukan, tetapi kadang amat susah. Saya memaknai ayat tersebut bahwa kita agar menguatkan diri dengan sabar lahiriah dan batiniah serta terus melakukan ibadah shalat dengan menyesuaikan situasi dan kondisi. Masa pandemi ini shalat masih bisa dikerjakan di rumah mesti tanpa berjamaah. Bisa ditingkatkan shalat pada sunah seperti shalat hajat meminta agar tercegah wabah dan cepat bebas negeri ini dari covid19 serta diiringi permohonan untuk dicukupkan rezeki kita beserta keluarga.

Selama ada yang bisa dikerjakan terkait dengan usaha-usaha perekomonian, bisa dikerjakan dengan tetap memerhatikan aspek keamanan dan kesehatan. Saya pun sama merasakan dampak seperti kebanyakan masyarakat "bawah" mengalami dampak masa social distancing. Ingat dengan firman Allah bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Al-Insyirah 6). Karena itu, kita harus optimis bahwa wabah dan dampaknya akan cepat berlalu.    

Saya ingat dengan peristiwa serba terbatas dan kemiskinan satu bani, yaitu Bani Abdul Muthalib, saat mengalami boikot bersama Rasulullah Saw. Bayangkan, mereka itu mengalami masa miskin dan tidak punya akses dari bani dan orang lain sekira tiga tahun. Sampai ada yang meninggal dunia, bahkan akhir dari masa boikot bahwa Abu Thalib dan Khadijah, yang merupakan penopang Rasulullah Saw pun wafat. Kondisi ditutup akses dari makanan dan minuman serta tidak diperkenankan berhubungan dengan kaum lainnya. Istilah sekarang lockdown. Dan tiga tahun menderita tersebut dapat berlalu dan kembali dapat pengakuan masyarakat Makkah. Tentu ada bantuan Allah dari berlalunya masa boikot tersebut dengan mengubah pendirian tokoh-tokoh Makkah yang simpati pada Bani Abdul Muthalib dan rayap yang memakan plakat perjanjian. Karena itu, hanya berharap kepada Allah saja kita semua agar cepat tuntas masa pandemi Covid19 ini. 

Insya Allah, barokah Ramadhan akan tetap mengalir pada umat Islam yang memanfaatkannya dengan kebaikan-kebaikan dan sikap tabah dalam menjalani social distancing yang ditetapkan pemerintah. Saya yakin wabah akan berlalu. Dan saatnya di bulan Ramadhan ini, umat Islam berdoa kepada Allah untuk kesehatan seluruh masyarakat dunia dan segera berakhir wabah Covid19. Aamiin Ya Robbal 'alamiin. *** (ahmad sahidin)


Wed, 13 May 2020 @00:41

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved