AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Minat beli buku klik covernya
image

 

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Sains Islam di Dunia Modern [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Pada saat ini bidang keilmuan didominasi oleh tradisi ilmiah Barat, sampai sedemikian rupa, sehingga ilmuwan-ilmuwan Muslim kadang tidak dapat mengenal lagi karya dan tradisi ilmiahnya sendiri. Di sekolah-sekolah umum, maupun agama, pelajaran sains diwarnai oleh teori-teori ilmiah Barat. Anak didik kita lebih fasih menyebutkan tokoh-tokoh ilmiah Barat daripada tokoh-tokoh Muslim, yang pada gilirannya telah menghilangkan rasa bangga sebagai seorang Muslim.

Ribuan ilmuwan Muslim tidak ada lagi dalam benak mereka digantikan oleh tokoh-tokoh besar dunia, seperti Darwin, Newton, Freud, Einstein dsb. Kecuali beberapa negera, pada umumnya negara berpenduduk Muslim terbelakang dari sudut ilmu pengetahuan.

Menyadari ketertinggalannya oleh Barat, maka beberapa kaum intelektual Muslim pada tahun 1977 berkumpul di Jeddah untuk merumuskan apa yang kemudian dikenal dengan istilah Islamisasi ilmu. Penggagas-penggagasnya adalah orang-orang yang punya komitmen untuk memajukan sains Islam di dunia modern atau mengembangkan ilmu yang cocok dengan paradigma Islami. Di anatarnya tokoh tersebut adalah Isma’il Farouqi, Syed Naquib Alatas, dan Sayyed Hossein Nasr. Berikut adalah gagasan utama mereka. 

Pertama, Syed Naquib Alatas. Tidak begitu pasti siapa yang pertama merumuskan dan menggunakan istilah Islamisasi Ilmu. Yang pasti bahwa Naquib Alatas, telah memiliki teorinya sendiri tentang itu. Baginya, Islamisasi berarti “pembebasan manusia dari tradisi budaya magis, mitologis, animistik dan nasional yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian dari kontrol sekuler yang mendominasi nalar dan bahasanya.
Untuk mengimplementasikannya, usaha Islamisasi harus melalui dua proses: (1) Dewesternisasi, yaitu menyingkiran unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat dari setiap cabang ilmu masa kini. (2) Islamisasi, yaitu dimasukkannya unsur-unsur dan konsep-konsep kunci Islam dalam setiap cabang ilmu saat ini yang relevan. Konsep ini kini tengah diimplementasikan di sebuah lembaga yang disebut ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civlization).
 

Kedua, Ismâ'îl Raji al-Farouqî. Beliau juga memiliki pemahamannya sendiri tentang Islamisasi ilmu. Bagi dia Islamisasi ilmu adalah sebuah upaya untuk mengarahkan pengetahuan, dengan memberikan definisi baru, menyusun kembali data, memikir ulang metode berfikir dan menghubungkan kembali data dan menilai kembali kesimpulan. Kemudian memrojekkan kembali tujuan-tujuannya sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin ilmiah ini akan memperkaya wawasan keislaman dan memberi manfaat pada cita-cita Islam. Untuk mengimplementasikan konsepnya ini, Isma’il Farouqi merumuskan 12 langkah Islamisasi ilmunya yang terkenal. (1) penguasaan ilmu-ilmu modern dan kategori-kategorinya; (2) melakukan survei terhadap disiplin-disiplin ini; (3) menguasai sains Islam dalam bentuk bunga-rampai. (4) menguasai warisan ilmiah Islam, dalam bentuk analisa, (5) menentukan relevansi khusus keislaman terhadap disiplin-disiplin ilmiah, (6) menguji kembali secara kritis disiplin-disiplin ilmiah modern, (7) menilai kembali secara kritis warisan Islam, (8) melakukan survei terhadap problem-problem yang dihadapi umat Islam, (9) melakukan survei terhadap masalah-masalah yang dihadapi umat manusia, (10) mengadakan analisis dan sintesis yang kreatif, (11) memasukkan kembali disiplin-disiplin ilmiah modern ke dalam kerangkan Islam dalam bentuk buku-buku daras, dan (12) menyebarkan sains Islam. Untuk mengimplementasikan ide-ide dan program-programnya, Isma’il Farouqi mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT). 

Ketiga, Sayyed Hossein Nasr. Pemikir besar lainnya yang berkontribusi kepada ide Islamisasi ilmu adalah Sayyed Hossein Nasr. Baginya Islamisasi ilmu berarti “menyatakan kembali prinsip-prinsip Islam yang tidak berubah dan aplikasi mereka kepada metode dan bidang-bidang ilmu yang diklaim sistem pendidikan dan pembelajaran Barat modern. Tetapi pendidikan Islam kontemporer dan otentik ini tidak akan membuang disiplin-disiplin ini, tapi tidak juga tunduk kepada teori-teori modern. Tetapi ia akan menaklukkannya dan menjadikannya sebagai milik sendiri. Menurut beliau, pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari sains sakral, karena segala sesuatu yang dapat diketahui selalu memiliki karakter religius yang mendalam, karena setiap jenis pengetahuan diciptakan oleh Tuhan. Ide-ide Nasr tersebar secara luas melalui karya-karyanya dan karya-karya murid setianya Osman Bakar dari Malaysia. Tetapi sejauh ini bulum ada lembaga khusus yang mengakomodasi dan mencoba mengimplementasikannya ke dalam agenda dan kegiatan yang riil. 

Meski begitu, di Indonesia usaha Islamisasi ilmu oleh Nasr (dan yang lainnya) telah diupayakan oleh Prof. Mulyadhi Kartanegara. Ia telah mencoba dalam beberapa karyanya untuk menafsirkan ulang pemahaman Islamisasi ilmu. Menurutnya, (1) Kata Islam di sini tidak boleh dipahami secara literal. Kata ini secara sederhana bermakna bahwa teori atau penemuan ilmiah yang dihasilkan tidak boleh bertentangan dengan prinsip atau ajaran dasar Islam. (2) Islamisasi ilmu harus diangkat pada level epistemologi, bukan semata pembenaran (justifikasi) melalui ayat al-Qur’ân atau Hadîts. (3) Islamisasi ilmu perlu dilakukan, karena banyak teori ilmiah modern yang secara nyata bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. (4) Islamisasi dimungkinkan oleh fakta bahwa sains tidak pernah akan benar-benar objektif. (5) Islamisasi ilmu hanyalah satu bentuk naturalisasi ilmu, yakni upaya ilmuwan Muslim untuk menyesuaikan ilmu-ilmu asing ke dalam paradigma dan pandangan dunianya sendiri. (6) Islamisasi ilmu dapat mengambil bentuk integrasi, yang meliputi integrasi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, integrasi objek-objek, sumber dan metode ilmiah. 

Untuk mengimplementasikan ide-idenya itu, Mulyadhi telah mendirikan dua akademi ilmiah, CIPSI (Center for Islamic-philosophical Studies and information) dan CIE (Center for Islamic Epistemology) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tujuan utma CIPSI adalah membangun tradisi ilmiah Islam, dengan kegiatan-kegiatan utama: (1) mengoleksi karya-karya ilmiah Islam, (2) menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, (3) mensortir bahan-bahan dari disiplin ilmu tertentu untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan terakhir (4) dengan bahan-bahan yang ada bertekad untuk membuat buku daras pada setiap disiplin ilmu yang mungkin. Adapun tujuan utama CIE adalah untuk melakukan reformasi kurikulum, dengan cara (1) melakukan kajaian-kajian ilmiah, (2) menyelenggarakan berbagai worksop dan (3) melakukan riset terhadap kurikulum yang ada di lingkungan UIN untuk kemudian direvisi dan disempurnakan. 

Teman-teman yang budiman, sekian presentasi saya. Kalau teman-teman setuju, setelah ini saya akan menyajikan satu subjek yang tidak kalah menariknya: Matenatika dalam Islam. Wassalam! ***

Mulyadhi Kartanegara adalah pakar Filsafat Islam

 

Wed, 13 May 2020 @05:56

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved