JUAL PRODUK ANDA

Anda bisa pasang IKLAN pada www.misykat.net dengan posisi banner atas, sisi kiri dan kanan. Kontak Chat WA: 0895-3755-29394

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Komunitas MISYKAT
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Catatan Singkat tentang Hayya ala Khairil Amal [by Muhammad Bhagas]

image

Pada hari Sabtu, 9 Mei 2020, kemarin dalam kajian redaksi azan pada masa awal Islam (abad ke-1 H sampai abad ke-3 H) via Zoom yang diselenggarakan IJABI Muda, ada Ustadz Mustamin Al-Mandary bertanya mengenai literatur yang menyebutkan pengakuan Umar bin Khaththab bahwa dialah yang melarang hayya 'ala khairil 'amal. Karena kemarin saya tidak sempat tampilkan buktinya di layar, maka pagi ini dibuatkan postingan khusus. 

Ini jawabannya. Pengakuan 'Umar itu dinukil oleh Sa'duddin al-Taftazani (712 H - 793 H), ulama fiqih Syafi'i dan teolog besar Asy'ari, dalam kitabnya berjudul Syarah al-Maqashid, jilid 5, halaman 283: 

و قد كان معترفا بشرعية المتعتين في عهد النبي صلى اللّه عليه (وآله) و سلّم على ما روي عنه أنه قال: ثلاث كن على عهد رسول اللّه صلى اللّه عليه (وآله) و سلّم أنا أنهى عنهن و أحرمهن، و هي متعة النساء، و متعة الحج، و حي على خير العمل.

“Dahulu keabsahan dua mut'ah dikenal pada zaman Nabi Saw berdasarkan apa yang diriwayatkan dari 'Umar, ia berkata: Ada tiga hal di masa Nabi Saw yang kemudian aku melarangnya yaitu nikah mut'ah, haji tamattu, dan hayya 'ala khairil 'amal.” 

Sebenarnya, Al-Taftazani menukil itu dalam rangka menjawab soal mut'ah. Tentu ia jawab dengan pendapat masyhur di kalangan Sunni. Poin yang menarik adalah: 

Pertama, awalnya Al-Taftazani mengakui tiga hal ini (termasuk hayya 'ala khairil 'amal) merupakan masalah ijtihadiyyah. Ijtihadiyyah itu bukan ushul, tapi masalah furu' yang padanya terbuka pintu ijtihad bagi ulama/tokoh yang berkompeten dalam bidang itu. Jadi, apa maksudnya? Al-Taftazani menganggap memang demikianlah ijtihad 'Umar yang dianggap berkompeten, wajar-wajar saja. 

Kedua, Al-Taftazani tidak mendha'ifkan apalagi menilai palsu riwayat yang dinisbatkan pada 'Umar. Jadi, secara tidak langsung ia ikut mengakui hayya 'ala khairil 'amal memang dikumandangkan pada masa Nabi Saw. 

Ratusan tahun sebelum al-Taftazani, keterangan semakna telah disampaikan oleh Yahya bin al-Husain al-Rasi (245 H - 298 H), pemimpin pertama Zaidiyyah di Yaman, dalam kitab al-Ahkam fi al-Halal wa al-Haram, jilid 1, halaman 70: 

وقد صح لنا أن حي على خير العمل كانت على عهد رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يؤذن بها، ولم تطرح إلا في زمن عمر بن الخطاب، فإنه أمر بطرحها. وقال: أخاف أن يتكل الناس على ذلك منها

“Bagi kami, telah shahih bahwa dahulu hayya 'ala khairil 'amal dikumandangkan pada masa Rasulullah Saw. Dan redaksi itu tidak pernah dipotong (dihapus) kecuali setelah dimulainya zaman 'Umar, sebab dialah yang memerintahkan untuk menghapusnya. Ia berkata: Aku khawatir manusia bergantung atau bersandar sepenuhnya pada shalat.” Maksudnya, 'Umar khawatir karena redaksi itu bermakna shalat adalah amal yang terbaik (khairil 'amal) sehingga menyebabkan umat Islam tidak lagi melakukan jihad/usaha-usaha lain, cukup bergantung pada shalat.

Bahwa 'Umar berijtihad seperti itu tidaklah sekedar opini ulama klasik, tetapi berdasarkan riwayat-riwayat bersanad lengkap di kalangan mereka. Salah satunya tercatat dalam kitab berjudul al-Adzan bi Hayya 'Ala Khairil 'Amal karya Abu 'Abdillah Muhammad bin 'Ali al-'Alawi (367-445 H), seorang ahli hadits dan faqih Zaidiyyah asal Kufah. Pada halaman 133, ia menukil perkataan Imam Zaid bahwa pada masa Umar-lah redaksi adzan itu dilarang. Pada halaman 111, ia menukil dari ayahnya Zaid, Imam 'Ali Zainal 'Abidin as, bahwa 'Umar khawatir manusia terhalangi dari jihad, maka ia memerintahkan mereka untuk tidak mengumandangkannya lagi. 

Dan yang paling menarik, pada halaman 104 ada riwayat dari anaknya 'Umar yang mengakui ijtihad bapaknya itu. Syamsuddin al-Dzahabi itu seorang murid Ibnu Taimiyah. Dalam Siyar A'lam al-Nubala', juz 17, halaman 637, menilai penulis kitab tersebut “tsiqah” (terpercaya) dan menggelarinya “hafizh”. Selain itu, al-Hafizh al-Shuri (w. 441 H) yang juga ulama besar di masanya berguru pada penulis kitab tersebut. 

Riwayat-riwayat mengenai sebab dihapusnya juga tercatat dalam sumber Syi'ah Imamiyah, yaitu kitab 'Ilal al-Syara'i' karya Syaikh Shaduq, halaman 368. Saya kira cukup sampai sini. Sepakat atau tidak, kembali pada masing-masing kita. Bagi yang tidak sepakat, anggap saja ini khazanah, wawasan perbandingan untuk saling memahami, bukan menghakimi. Terima kasih. *** 

Muhammad Bhagas adalah Pemerhati Kajian Mazhab


Wed, 13 May 2020 @06:22


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved