AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Minat beli buku klik covernya
image

 

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Marifat al-Quran (22): Dua Jalan yang Lurus [by Kholid Al-Walid]

image

Ada dua jalan yang diperkenalkan Alquran. Jalan pertama bersifat horizotal dan yang kedua bersifat vertikal. Untuk yang pertama Al-Quran mengenalkan istilah "Shirath al-Mustaqim" dan istilah ini tidak kita jumpai pada kitab-kitab suci sebelumnya:

قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ەۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS 6:161)

Pada ayat ini al-Qur'an menggunakan juga istilah "Hanif" yang memiliki makna mengerahkan daya untuk berada pada jalan yang lurus. Karena lawan kata tersebut adalah "Janif" yang bermakna usaha ke kiri dan ke kanan dalam berjalan. Ketika orang tersebut mampu tetap di jalan yang tengah keadaannya disebut "Hanif".

Seseorang yang keluar dari jalan yang lurus tersebut al-Qur'an menyebutnya:

وَاِنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ عَنِ الصِّرَاطِ لَنَاكِبُوْنَ

"Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar telah menyimpang jauh dari jalan (yang lurus)." (QS 23:74

Salah satu syarat dalam jalan yang lurus adalah keimanan pada kehidupan akhirat. "Shirath al-Mustaqim" adalah jalan tengah yang berada di sisi kanan dan kirinya jalan yang menyimpang.

Imam Ali bin Abu Thalib ra menyampaikan “kiri dan kanan adalah kesesatan dan jalan yang berada di tengah adalah jalan yang bersamanya ada kitab suci dan jejak kenabian.”

Dalam bagian lain al-Qur'an menyebutkan jalan yang lurus dengan istilah Shirath al-Sawiya:

قُلْ كُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوْاۚ فَسَتَعْلَمُوْنَ مَنْ اَصْحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدٰى ࣖ   

"Katakanlah (Muhammad), “Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah olehmu! Dan kelak kamu akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus, dan siapa yang telah mendapat petunjuk.” (QS 20:135)

Shirath al-Sawiya, yaitu jalan besar yang memiliki petunjuk yang jelas dan berada dalam keseimbangan tidak cenderung ke kanan atau ke kiri.

Dan al-Qur'an menjelaskan tentang ini:

اَفَمَنْ يَّمْشِيْ مُكِبًّا عَلٰى وَجْهِهٖٓ اَهْدٰىٓ اَمَّنْ يَّمْشِيْ سَوِيًّا عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup yang lebih mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS 67:22).

Ini adalah gambaran al-Quran dalam kontek jalan yang bersifat horizontal, sedangkan jalan  kedua yang bersifat vertikal:

كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْۙ وَلَا تَطْغَوْا فِيْهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِيْۚ وَمَنْ يَّحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِيْ فَقَدْ هَوٰى

“Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Barangsiapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh, binasalah dia.” (QS 20:81)

Kata "Hawa" yang diterjemahkan sebagai binasa dalam arti sesungguhnya adalah terjatuh ketika dalam keadaan naik. Ketika seseorang mendapatkan kemurkaan Allah SWT maka dirinya akan terjatuh pada tempat yang hina. Dalam upaya manusia untuk dapat naik al-Qur'an mengajarkan untuk berpegang pada tali Allah SWT:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ

"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." (QS 3:103)

Berpegang teguh kepada tali adalah jalan naik menuju ke atas dan keburukannya adalah keterjatuhan bukan kanan dan kiri seperti pada jenis yang pertama.

Demikian juga ketika al-Qur'an membicarakan kata "Kalimat al-Thoyibah", yaitu jalan naik menuju Allah SWT:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًاۗ اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهٗ ۗ

"Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya." (QS 35:10)

Sekiranya kita ingin selalu berada di jalan yang lurus dan ruhaniah kita naik pada derajat yang mulia di sisi Allah SWT maka al-Qur'an adalah pelita yang menuntun manusia. ***  

Kholid Al Walid adalah Dosen STFI Sadra Jakarta


Fri, 15 May 2020 @11:33

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved