AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Minat beli buku klik covernya
image

 

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Al-Qummi dan Tahrif Al-Quran

image

Berikut ini sedikit perbincangan tentang Taufik Adnan Amal bahwa (ulama Syiah) Al-Qummi meyakini tahrif Alquran. Pernyataannya didasarkan pada sumber orientalis, yang ditulisnya pada buku Rekonstruksi Sejarah Al-Quran. Kemudian menjadi perbincangan di WhatsApp Group Misykat (6/5/2020). 

Dengan cepat, pernyataan di atas direspons oleh Aris Syariati, seorang aktivis juga pengkaji studi Alquran. Beliau menulis: 

"Saya tidak punya kapasitas untuk melakukan kritik (naqd) atas Pen-tahrif-an Al-Qur'an yang dianggap selalu menjadi isu yang terus menerus digoreng oleh Saudara Sunni atas Syiah. Biar ini menjadi tugas filolog (muhaqqiq) kontemporer. Kritik Kodifikasi (tradisi literasi) ala Wansbrough di mana dia menganggap bahwa Alquran baru dikodifikasi 200 tahun pasca wafat Rasulullah. Harusnya menjadi pijakan kita untuk meneliti missing link yang berlangsung selama dua abad ini, untuk menggugurkan pandangan Wansbrough. 

"Sementara ketika Al-Qur'an harus dikodifikasi dari pilihan mushaf Sahabat Nabi, saya membangun asumsi, jangan jangan, justru peran Imam Ali (behind the scene) lebih banyak dengan melakukan bargaining dengan Utsman yang waktu itu, sebagai Khalifah memilih Zaid bin Tsabit dkk sebagai penulis wahyu. Wallahu a'lam." 

Selanjutnya muncul pemerhati mazhab, Muhammad Bhagas, dengan komentar panjang dan meluas pada isu syubhat:

 "Taufik Adnan Amal itu tidak paham metode atau validitas Tafsir al-Qummi yang berdampak pada isinya. Ayatullah Ja'far al-Subhani dalam kitab Kulliyat berpendapat bahwa tidak semua isinya dapat diterima karena bercampur antara riwayat tsiqah dan yang bukan, jadi penisbatannya pada al-Qummi tidak tepat.

 "Selain itu, ada pula pendapat bahwa Tafsir al-Qummi tidak dapat dijadikan hujjah secara mutlak karena rawi yang menjadi awal sanad kitab ini: Abul Fadhl 'Abbas bin Muhammad bin Qasim bin Hamzah, itu tidak ada di kitab-kitab rijal sehingga statusnya tidak jelas. Bahkan muqaddimah dari tafsir itu bukan milik al-Qummi, melainkan dari rawi majhul yang meriwayatkan darinya. Ini salah satu penyebab orang menuduh al-Qummi meyakini demikian. 

"Jangan kira yang mengklaim tahrif itu tidak membaca karya-karya Syi'ah yang klasik dan kontemporer. Nashir al-Qifari, Ihsan Ilahi Zhahir, Muhammad Malullah, 'Abdurrahman bin Sa'id Syatsri dan sejenisnya, mereka semua membaca sumber-sumber Syi'ah. Jadi, mempelajari sumber primer suatu mazhab itu bukan jaminan seseorang menghasilkan kesimpulan objektif mengenai mazhab tersebut. 

"Kajian-kajian yang membantah syubhat itu harus lebih digaungkan dibanding kajian yang memperkenalkan kebenaran mazhab. Pada tataran awam, syubhat yang diterima itu masih seputar: tahrif, mencaci sahabat, shalatnya cuma 3 kali, menuhankan Imam 'Ali as, Syi'ah menyembah batu, Syi'ah menyembah kuburan dan sejenisnya. Pada tataran peneliti, syubhatnya lebih tinggi kualitasnya seperti Hisyam bin al-Hakam mujassimah, para imam berjumlah 13 berdasarkan sumber primer Syi'ah, Tafsir Abul Jarud mu'tamad di kalangan Syi'ah, dan lainnya. 

"Jangan dulu terlalu jauh melangkah soal kajian orientalis, modernis dan revisionis, jikalau literatur dan kaidah-kaidah mazhab yang kita anut belum dipahami dengan baik. Buktinya tidak sedikit yang bingung mau jawab apa kalau dihadapkan pada isu tahrif yang merujuk pada Tafsir al-Qummi. 

"Itu baru syubhat dari kelompok Sunni dan Wahabi. Belum ditambah syubhat dari orang-orang yang menisbatkan keyakinannya pada sumber-sumber kita seperti kelompok Ahmad Hasan. Saya sampai kumpulkan lebih dari sepuluh kitab yang khusus membantah mereka, termasuk karya Syaikh 'Ali Aalu Muhsin." 

Komentar cukup bernas lagi muncul dari Ustadz Candiki Repantu. Beliau menulis: 

"Teringat saya sudah pernah nulis kasus al-Qummi ini ketika membahas buku MUI tentang Syiah dan situs Misykat sudah mempublikasikannya. 

"Misalnya Al-Qummi dituding meyakini tahrif karena di dalam pengantar tafsirnya ketika beliau menjelaskan pilihan kandungan Alquran, di sana terdapat tiga kandungan yang dianggap keyakinan tahrif yaitu ketika Al-Qummi menyebutkan bahwa Alquran itu: (1) sebagian hurufnya menempati posisi huruf yang lain, (2) sebagian ayatnya berbeda dengan apa yang diturunkan Allah, dan (3) sebagian ayatnya mengalami tahrif. 

"Umumnya para pembaca yang tidak mengenal perpektif Syiah tentang Alquran akan menarik kesimpulan yang keliru tentang para ulama Syiah. Para ulama tersebut dianggap meyakini tahrif Alquran (dalam hal ini tahrif lafadz/teks, bertambah ataupun berkurang). Padahal tidak demikian. Tahrif dalam Syiah diakui hanya menyangkut tahrif maknawi dan tahrif qiraat, yang tentu tidak merusak orisinalitas tekstual Alquran. 

"Kalau soal karya Taufik Adnan Amal itu ya dimaklumi saja. Kalau dibilang tendensius terhadap Syiah, saya rasa juga cukup beralasan. Sependek yang saya ingat, karya tersebut ditulis untuk mengukuhkan Mushaf Utsmani dari perspektif kajian historisnya. Di dalamnya, nyaris beliau sama sekali tidak menghargai data-data para ulama dan penulis Syiah. Bahkan memandang berbagai laporan Syiah adalah kebohongan dan rekayasa. Dia lebih tertarik pada data orientalis daripada data ulama Syiah."

Masya Allah, perbincangan yang menarik dan menambah pengetahuan keislaman. Dialog dengan sudut pandang keilmuan memang layak dikedepankan tanpa langsung cap sesat.

Insya Allah, perbincangan menarik seputar isu keagamaan yang syarat dengan argumentasi dan sumber akan dimunculkan dalam situs ini untuk merangsang daya kritis dan mengembangkan wacana Islam ilmiah di Indonesia. Terima kasih. *** (Ahsa)


Fri, 15 May 2020 @11:41

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved