JUAL PRODUK ANDA

Anda bisa pasang IKLAN pada www.misykat.net dengan posisi banner atas, sisi kiri dan kanan. Kontak Chat WA: 0895-3755-29394

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

Komunitas MISYKAT
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Zakat dan Distribusinya

image

Berikut ini kami tayangkan tanya jawab tentang zakat yang disampaikan oleh KH Dr Jalaluddin Rakhmat dalam buku Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer, terbit tahun 1999 (Penerbit Mizan Bandung, halaman 79-86). Besar kemungkinan ada yang berubah untuk konteks sekarang, sehingga perlu tabayun (kepada yang bersangkutan) bagi pembaca yang ingin meminta kejelasan. Di dalam tanya jawab ini memuat kewajiban zakat bagi anak, syarat membayar, zakat kepada non-Muslim, zakat uang dadakan, dan zakat untuk orangtua. 

1

Soal: Apakah bayi yang berada di dalam kandungan juga sudah terkena kewajiban zakat fitrah?

JAWABAN: Bergantung pada mazhab apa yang Anda anut. Dalam kitab Nailul Authar, ada perinciannya. Itu sebetulnya perbedaan dalam menafsirkan hadis bahwa yang harus membayar zakat fitrah itu kabir juga shaghir, yang besar maupun yang kecil. Dan katanya bayi dalam kandungan itu termasuk yang kecil. Karena itu, kata sebagian mazhab, bayi yang berada dalam kandungan itu sudah terkena kewajiban zakat fitrah (yang dibayarkan oleh orangtua—redaksi). ***

2

Soal: Dalam ibadah-ibadah Islam, seperti shalat, zakat, dan haji disyaratkan baligh. Tetapi, di dalam zakat, anak kecil sekalipun terkena kewajiban zakat. Mengapa terjadi perbedaan itu?      ‚Äč

JAWABAN: Tidak semua hukum Islam itu disyaratkan baligh. Syarat itu juga bermacam-macam, ada syarat sah dan ada syarat wajib. Semua hukum Islam salah satu syaratnya ialah baligh. Tetapi, syarat sahnya tidak disyaratkan harus baligh. Qurban, misalnya, boleh dilakukan oleh anak-anak. Berqurban itu sah, tidak harus menunggu baligh. Zakat fitrah dikenakan kepada setiap orang, termasuk anak-anak. Tetapi, itu bukan berarti bahwa anak-anak yang harus membayarnya, orangtualah yang membayarnya. Ibadah haji misalnya, tidak wajib bagi anak-anak. Syarat wajibnya adalah baligh, tetapi syarat sahnya tidak harus baligh. Jadi, kalau anak-akan melakukan ibadah haji maka ibadah itu pun sah. ***

3

Soal: Seandaianya saya bertugas di daerah yang penduduknya semua non-muslim, apakah zakat fitrah saya dibayarkan kepada fakir miskin yang non-muslim atau kepada saudara-saudara Muslim sejawat yang sudah tidak termasuk miskin lagi atau dikirim (via rekening atau wesel—redaksi) ke daerah lain? 

JAWABAN: Sebetulnya kalau memungkinkan untuk dikirimkan, lebih baik. Dahulu pada zaman Umar bin Khaththab ra pernah ada suatu daerah yang kaya raya dan mereka Muslim, zakat mereka dikirimkan ke daerah yang miskin. Tetapi kalau sulit, zakat itu berikan kepada orang miskin non-muslim juga tidak apa-apa. ***

4

Soal: Kalau saya mendapatkan rezeki yang tidak terduga-duga, berapa persen yang harus dizakatkan? Adakah batas-batas nisabnya? Kepada siapa saya harus menyerahkannya? Siapa yang berhak menerimanya?

JAWABAN: Kalau Anda mendapatkan rezeki yang tidak terduga-duga itu namanya kelebihan dari rezeki Anda yang biasa-biasa. Tiba-tiba Anda mendapat rezeki nomplok. Zakat yang harus dikeluarkan dari rezeki yang datang tidak melalui usaha susah payah ialah seperlimanya atau 20 persen. Adakah batas nisabnya? Tidak ada.
 
Pokoknya, kelebihan itu harus harus dikeluarkan seperlimanya. Tetapi, kalau kelebihan itu juga diperoleh dengan mengeluarkan tenaga, ada ongkos angkut, membayar orang yang membantu kita, maka ongkos semua itu harus dibayarkan dahulu atau dikurangi dahulu, baru sisanya dikeluarkan seperlima.
 
Kepada siapa harus menyerahkannya? Kepada ulama karena al-’ulamaa waratsatul anbiyaa. Bukan untuk ulama itu, tetapi ulama itulah yang menyalurkan kepada yang berhak. Sebagian untuk ulama itu karena mempunyai hak sebagai orang yang berada di jalan Allah, fi sabilillah. Siapa yang berhak menerimanya?
 
Allah Ta’ala berfirman: Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai kelebihan penghasilan, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil (QS Al-Anfal/8: 41).***

5

Soal: Bolehkah zakat diberikan kepada orangtua yang jelas-jelas sangat membutuhkannya? 

JAWABAN: Tidak boleh, itu bukan zakat. Orangtua itu tanggungan Anda. Anda yang berkewajiban mengurus orangtua. Pernah ada yang bertanya, apakah boleh khumus diberikan kepada orang yang menjadi tanggungan kita? Waktu itu saya katakana bahwa rumus khumus itu income dikurangi basic need. Yang termasuk ke dalam basic need itu adalah mengurus orang yang menjadi tanggungan kita. Jadi, itu bukan zakat, tetapi tanggungan kita untuk mengurus mereka. Mungkin kalau dipakai untuk mengurus mereka, tidak tersisa lagi sehingga Anda tidak terkena kewajiban zakat.*** 

   

Catatan Tambahan:

Zakat Fitrah dalam fikih mazhab Ahlulbait adalah tiga kilo gram makanan pokok yang dikonsumsi setiap orang muslim di mana pun berada seperti gandum, beras, atau makanan pokok lainnya. Untuk di Indonesia dapat membayar Zakat Fitrah dengan hitungan beras yang biasa dikonsumsinya bisa dibayar dengan uang dengan seharga 3 kg beras. Sebaiknya dikeluarkan sebelum waku pelaksanaan shalat (sunah) Idul Fitri. Sedangkan dalam fikih Ahlus Sunnah dua setengah kilo gram makanan pokok dan dibayarkan dengan uang seharga 2,5 kg beras.

Dalam fikih Ahlulbait dan Ahlus Sunnah, untuk distribusi Zakat fitrah diberikan pada delapan asnaf berdasarkan surah At-Taubah ayat 60:

(1) Fakir, yaitu seseorang yang tidak memiliki uang belanja untuk dirinya dan keluarganya dalam masa setahun. Adapun seseorang yang memiliki industri, harta atau modal yang dapat digunakan sebagai uang belanja bagi dirinya dan keluarganya dalam masa setahun tidak termasuk fakir.

(2) Miskin, yaitu orang Muslim yang kondisinya lebih parah dari kondisi seorang fakir.

(3) Amilin, yaitu seseorang yang memiliki tugas mengumpulkan, menyimpan dan mengelola zakat kemudian menyampaikan zakat tersebut pada yang berhak.

(4) Mualaf, yaitu orang yang baru masuk Islam dan orang non-Muslim yang jika diberikan zakat maka akan condong pada agama Islam atau senantiasa memberikan pertolongan pada kaum Muslimin. Untuk mualaf ini dipastikan orangnya dalam keadaan tidak mampu (fakir atau miskin).

(5) Riqab, yaitu untuk membebaskan perbudakan. Ini terjadi masa dahulu dan sekarang ini diterapkan pada pembantu rumah tangga atau para pekerja kasar seperti tukang bangunan, tukang sampah, dan lainnya.

(6) Gharim, yaitu orang-orang yang tidak mampu membayar utangnya (yang berasal dari kalangan fakir dan miskin).

(7) Sabilillah, yaitu pekerjaan seperti membangun masjid yang berfungsi sebagai fasilitas umum agama atau membangun jembatan dan memperbaiki jalan yang memiliki manfaat secara umum bagi kaum Muslimin serta apa yang bermanfaat untuk Islam apa pun bentuknya. 

(8) Ibnu Sabil, yaitu seorang musafir yang berada dalam perjalanan dan tidak memiliki bekal atau kehilangan bekal akibat dijambret dan lainnya.

Demikian yang bisa kami sampaikan. Jelasnya Anda bisa tanya pada Ustadz dan Ulama yang berada di lingkungan setempat. Atau bisa menghubungi orang-orang yang dianggap dalam faqih dalam hukum Islam. Dapat pula membuka buku-buku Risalah Amaliyah (atau situs) para Marja Taqlid (Mujtahid), membaca pedoman zakat dari Majelis Ulama Indonesia atau dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Indonesia. Terima kasih. *** (Abu Misykat)

 

 

 

 

Wed, 20 May 2020 @06:46

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved