Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Puasa Sunah Syawal: Pendapat Ahlussunah

image

Puasa pada Bulan Suci Ramadhan telah dilewati selama 30 hari. Meski dalam keadaan pandemi, tetapi ketaatan pada syariat yang ditetapkan Allah melalui Alquran surah Albaqarah 183 harus dilakukan karena masuk kategori wajib bagi umat Islam. Bahkan, puasa di bulan suci Ramadhan masuk rukun Islam yang berarti sebagai ritual yang wajib dilakukan umat Islam. Puasa wajib ini dilaksanakan hanya satu bulan dalam setahun.

Meski bulan suci Ramadhan sudah terlewati, umat Islam masih bisa melakukan ibadah puasa sunnah (mustahab) seperti enam hari pada bulan Syawal, puasa senin dan kamis, puasa Dawud (sehari puasa dan sehari tidak), puasa ayyamul baidh (tiap 13, 14, 15 bulan qamariah), puasa arafah, puasa bulan Rajab dan Syaban. Tentu ada pahala dan manfaat yang didapatkan dari puasa mustahab tersebut bagi orang yang melaksanakannya.

Karena sekarang ini, memasuki bulan Syawal dan dalam Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd Andalusi (Pustaka Amani Jakarta tahun 2002, jilid satu bab iv puasa sunat halaman 691-705) tercantum riwayat puasa Syawal dari Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu diringi puasa enam pada bulan Syawal, seolah-olah dia berpuasa setahun penuh.”

Menurut Ibnu Rusyd bahwa (Imam) "Malik tidak mengakui hadis tersebut, mungkin karena khawatir puasa yang bukan Ramadhan itu dianggap Ramadhan atau karena hadis tersebut tidak sampai kepadanya, atau karena dianggap tidak sahih" (halaman 694).

Meski tidak diakui oleh Imam Malik, tetapi jumhur ulama Ahlussunah mengakui ada puasa sunah Syawal setelah puasa Ramadhan yang dilakukan pada hari kedua bulan Syawal sampai tuntas enam hari. Yang masih ikhtilaf yaitu terkait dengan berurutan atau bisa terpisah-pisah pelaksanaan puasanya selama bulan Syawal.   

Dalam puasa sunah (mustahab) ini ketentuan imsak dan ifthar, termasuk hal-hal yang membatalkan, sama seperti ketentuan puasa di bulan suci Ramadhan. Hanya saja niatnya berpuasa sunah. Kemudian jika seorang sahabat dan saudara mengajak Anda makan atau menyajikan makanan dan minuman saat berkunjung, dan Anda saat itu berpuasa maka dianjurkan untuk berbuka puasa (ifthar). Apabila Anda memiliki qodho puasa wajib (Ramadhan) maka segera bayarkan dahulu.

Pendapat Grand Al-Azhar

Ulama Ahlussunnah dari Mesir, Maulana Syaikh Ali Jumah dalam Al-Fātāwā al-Ramadhāniyah (halaman 76-77) menyatakan banyak para ulama yang berpendapat bahwa jika waktu puasa wajib bersamaan dengan waktu puasa sunah, maka cukup dengan melaksanakan puasa wajib saja bisa memberi keutamaan puasa sunah ini kepada sang pelaku puasa wajib. Lebih jauh Syaikh Ali Jumah menulis: 

“Namun ia TIDAK BOLEH berniat ganda, yaitu dengan menggabungkan niat puasa sunah dengan niat puasa wajib qadha’ Ramadan, karena setiap amal ibadah memiliki niatnya tersendiri. Maka tidak boleh mengumpulkan niat puasa sunah dengan puasa wajib dalam satu niat.Oleh karena itu, seorang Muslimah boleh mengganti puasa Ramadan pada bulan Syawal dan secara otomatis ia mendapat pahala puasa sunah Syawal, sekali pun tanpa diniatkan puasa sunah. Ya, dia telah dinyatakan puasa enam hari bulan Syawal dan mendapat keutamaannya hanya dengan melaksanakan enam hari atau lebih dari puasa Ramadan yang wajib ia ganti, karena ia telah mengisi enam hari PUASA DI SYAWAL (puasa qadha).  

Dalil pendapat ini adalah qiyas, yaitu menyamakan puasa sunah Syawal dengan shalat sunah tahiyatul masjid (shalat sunah karena masuk masjid). Orang yang masuk masjid lalu mendirikan shalat wajib atau shalat sunah rawātib, secara otomatis ia telah mendapat pahala shalat sunah tahiyatul masjid meski tanpa diniatkan, karena ia telah SHALAT DI MASJID sebelum ia duduk, dan shalat ini cukup sebagai tahiyatul masjid.”

Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh al-Bujairami, tokoh mazhab Syafii berkata: “Shalat sunah tahiyatul masjid bisa didapatkan keutamaanya dengan melakukan shalat lain, dua rakaat atau lebih, baik shalat wajib atau sunah, baik disertakan niatnya bersamaan shalat lain atau tidak, sesuai hadis yang diriwatkan Imam Bukhari dan Muslim (yaitu): Jika kamu masuk masjid maka janganlah duduk sebelum shalat dua rakaat. Hal ini karena maksud utama tahiyatul masjid ialah mendirikan shalat sebelum duduk, dan tujuan ini terwujud meski dengan shalat lain. Juga, tujuan tahiyatul masjid adalah mengisi ruang masjid dengan shalat, dan tentunya tujuan ini terealisasi meski dengan shalat selain tahiyatul masjid.” 

Menurut Syaikh Ali Jumah, “begitu pun dengan puasa sunah Syawal, tujuannya adalah mengisi waktu bulan Syawal dengan puasa. Dan hal ini telah terwujud dengan adanya qadha’ puasa wajib Ramadan pada bulan Syawal.” 

Demikian uraian ringkas berkenaan dengan puasa mustahab pada bulan Syawal. Lengkapnya Anda bisa merujuk langsung pada buku-buku fikih atau bertanya pada ulama yang Anda ikuti dan percaya.

Mohon senantiasa untuk mendoakan kami agar senantiasa berada dalam kebaikan dan perlindungan Allah dari ketergelinciran dalam menunaikan ibadah dan menyampaikan syiar Islam ini. *** (abu misykat)  

  

Mon, 25 May 2020 @07:02

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved