Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Puasa Syawal menurut Ulama Ahlulbait

image

Pada saat Idul Fitri dalam media sosial ada yang meminta penjelasan tentang puasa di bulan Syawal dalam fikih Ahlulbait. Puasa ini dalam fikih Ahlussunah masuk kategori dianjurkan (sunah) berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu diringi puasa enam pada bulan Syawal, seolah-olah dia berpuasa setahun penuh.” Karena itu, biasanya kaum Muslim di daerah dan pedesaan melakukan puasa pada hari kedua bulan Syawal selama enam hari.

Selain dianjurkan oleh fukaha Ahlussunah, puasa di bulan Syawal juga tercantum dalam fikih Ahlulbait berdasarkan fatwa dari Marja Taqlid (meski dinyatakan tidak memiliki dalil yang jelas) sebagai berikut:   

(1) Seyed Seyed Hosseini Nassab yang berkedudukan di Canada (melalui inbox facebook Seyed Hosseini Nassab) menyatakan satu hari setelah Idul Fitri dengan jumlah enam hari (One day after eidul fitr, six days). 

(2) Syaikh Nasir Makarem Shirazy di Iran (melalui chat WA Makarem Shirazy Official) menyatakan boleh melakukan puasa untuk mendekatkan diri kepada Allah yaitu setelah Idul Fitri (It is permissible to fast the month of Shawwal with the intention of gaining Thawaab except for the first day which is Eid al-Fitr). 

(3) Sayyid Muhammad Rida al-Musawi al-Gulpaygani dalam Mukhtasar al-Ahkam (Penerbit Markaz Ahlulbait, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, tahun 1993; halaman 116-117) bahwa puasa mustahab bulan Syawal mulai hari keempat selama enam hari. 

Begitu juga dengan Sayyid Ali Sistani dari Irak menyatakan kalau ingin berpuasa di bulan Syawal maka dapat dimulai pada hari keempat dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Sesuai dengan fatwa: 

السؤال: هل ورد استحباب حول صوم ستة أيام من شهر شوال؟

الجواب: الروايات الدالة على استحباب صيام ستة أيام من شوال غير نقية السند. ومن اراد الاتيان به رجاء ـ متتابعاً أو متفرقاً ـ فليبدأ فيه بعد مضي ثلاثة أيام من يوم العيد ، فإنه قد ورد في بعض النصوص المعتبرة النهي عن الصيام بعد الفطر ثلاثة أيام معللاً أنها أيام اكل وشرب.  

Dalil riwayat kemustahaban puasa enam hari pada bulan syawal tidak sharih (tidak jelas). Jika ingin melakukannya dapat dilakukan dengan niat raja'an, baik dilakukan secara berturut-turut maupun tidak, hendaknya dimulai setelah tiga hari dari idul fitri (yakni hari keempat syawal) karena disebutkan pada beberapa nash (dalil) yang muktabar dilarang berpuasa setelah idulfitri tiga hari karena hari tersebut adalah untuk makan dan minum ( https://www.sistani.org/arabic/qa/02368/ ). 

Kemudian untuk melengkapi pernyataan di atas, kami sertakan dari Islamasil (www.islamasil.com) bahwa: 

Ayatullah Sistani Hf: Riwayat-riwayat yang menunjukkan pada kesunnahan puasa enam hari di bulan syawal, sanadnya tidak jelas (pasti). Dan adapun yang ingin melakukannya hendaknya dengan niat rajaa-an (mengharap ridha Allah), baik dilakukan berturut-turut, atau selang seling, dan hendaknya mulai melakukannya setelah berlalu tiga hari dari hari idul fitri. Hal itu karena telah disebutkan di beberapa nash yang mu'tabar pelarangan mengenai puasa tiga hari setelah idul fitri, dengan penjelasan bahwa tiga hari tersebut merupakan hari-hari makan dan minum. 

Ayatullah Khamenei Hf: Kesunnahan secara khusus untuk puasa pada bulan syawal pada hari ke-4 sampai dengan hari ke-9 tidak dapat dibuktikan. Tetapi, tidak masalah melakukannya bila dengan niat qurbatan ilallah. Dan ada pun puasa pada hari ke-2 dan hari ke-3 tidak diperbolehkan.

Demikian informasi terkait dengan puasa di bulan syawal berdasarkan fikih Ahlulbait yang dirujuk dari para ulama (mujtahid). Terima kasih kawan-kawan yang sudah berbagi fatwa ulama Ahlulbait, sehingga kami cantumkan agar bermanfaat bagi pembaca. *** (as)

 

 

 

 

Wed, 27 May 2020 @17:37

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved