Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Konsep Cinta atau Kasih Sayang dalam Al-Quran

image

Bismillahir Rahmanir Rahim. Allahumma Shalli wa Sallim wa Barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Aali Sayyidina Muhammad wa 'ajjil farajahum.

Dalam kajian lintas mazhab via channel Islam Ramah TV kemarin, Ustadz Miftah F. Rakhmat menyampaikan bahwa sifat dan nama Allah Swt yang disebutkan pada akhir ayat-ayat al-Quran itu erat kaitannya dengan kalimat atau pesan yang disampaikan sebelumnya. Contohnya dalam menggali secercah konsep cinta atau kasih sayang dalam al-Qur'an. Pada QS. Al-Hasyr ayat 10: 

وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

 ...dan janganlah Engkau membiarkan ghil dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Ra'ufur Rahim (Maha Penyantun lagi Maha Penyayang). 

Ayat itu menyifatkan Allah Swt dengan ra'ufur rahim. Indahnya dalam ayat lain, ra'ufur rahim juga disifatkan pada Baginda Nabi Muhammad Saw:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul (Saw) dari diri kalian, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (kebahagiaan) bagi kalian, ra'ufur rahim (amat belas kasih dan penyayang) terhadap orang-orang beriman (QS. al-Taubah: 128).

Kembali ke awal, sifat atau nama yang disebutkan pada akhir ayat sangatlah erat kaitannya dengan kalimat atau pesan sebelumnya. Jadi berdasarkan dua ayat itu, maka ra'ufur rahim, konsep cinta atau kasih sayang yang tadinya abstrak dapat “diturunkan” menjadi praktis. Minimal pada tiga hal: 

(1) Ketiadaan ghil (sesuatu yang mengganjal) di dalam hati kita terhadap sesama; (2) Perasaan berduka, berat melihat sesama kita menderita; dan (3) Sangat ingin melihat orang lain bahagia. 

Demikianlah cinta dalam al-Qur'an. Menariknya, kata ghil satu akar kata dengan ghul yang bentuk jamaknya: aghlal. Menurut surah al-A'raf ayat 157, salah satu tugas kenabian adalah melepaskan aghlal dari kita semua, dari umat manusia. Aghlal adalah belenggu-belenggu keduniaan yang menjauhkan kita dari Tuhan. Aghlal adalah segala hal yang tak disandarkan kepadaNya. Apa kaitannya? Bahwa perwujudan cinta selain meniadakan ghil (sesuatu yang mengganjal) di dalam hati kita terhadap sesama (horizintal), juga harus melepaskan aghlal dalam perjalanan menuju Tuhan (vertikal). 

Seakar katanya ghil dan aghlal itu tidaklah kebetulan. Tidak hampa dari pemaknaan. Bukankah ada saat-saat ketika salah satunya menjadi sebab timbulnya yang lain? Bukankah keduanya bisa saling menguatkan? Untuk kajian tafsir dan daqa'iq al-Qur'an lainnya, simaklah Ustadz Miftah via channel Majulah IJABI, Misykat TV dan soundcloud.com/misykat-bandung, NgoPI TV dan LPII TV. Semoga diluaskan berkahnya. Mohon doa senantiasa. ***

(Ditulis oleh Muhammad Bhagas, mahasiswa Ilmu Tafsir Al-Quran UIN SGD Bandung)

 

Tue, 9 Jun 2020 @15:38

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved