Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Literatur Periwayat Bidah [by Muhammad Bhagas]

image

Bismillahir rahmanir rahim. Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Aali Sayyidina Muhammad wa 'ajjil farajahum.

Pagi tadi saudaraku Mas Bramsyah memposting cover tesis Dr. Ahmad 'Ubaydi Hasbillah di UIN Jakarta yang berjudul Periwayat Khawarij Dalam Literatur Sunni: Otoritas dan Otentisitas Periwayatan Lintas Ideologi. Mas Bramsyah menunggu munculnya penelitian periwayat Nashibi dalam literatur Sunni agar melengkapi khazanah pemikiran. Tentulah ini menggodaku untuk berbagi informasi terkait.

Sebenarnya di luar negeri, khususnya Timur Tengah, ada beberapa karya ilmiah/akademik mengenai rawi-rawi (periwayat) yang berpaham bid'ah. Yang dimaksud bid'ah di sini bukanlah bab fiqih seperti tawassul, tabarruk dan manaqiban, melainkan bid'ah aqidah dalam kajian ilmu kalam/teologi yang kemudian dipersempit dalam kaidah atau tolak ukur ulama klasik Sunni. Berikut di antaranya: 

1. Disertasi 'Abdullah Abu Bakr Balfaqih di Universitas Sudan: kajian rawi Syi'ah dan Nashibi di kutub al-sittah (6 kitab hadits utama Sunni). Yang menjadi daya tarik utamanya adalah penulis juga menyandingkan literatur klasik rijal Syi'ah sebagai indikator penguat dalam mengidentifikasi kecendrungan atau madzhab rawi. Disertasinya 456 halaman. 

2. Tesis Indunisiya binti Khalid di Universitas Ummul Qura: kajian atas rawi berpaham Murji'ah, tasyayyu', Rafidhah, Khawarij, Qadariyyah, Nashibi, Jahmiyyah, bahkan ada rawi yang berpaham al-Qur'an makhluk dan Waqifah di Shahih al-Bukhari. Disusul uji validitas jarh dan status bid'ahnya, lalu meninjau hadits-hadits yang diriwayatkan melalui mereka. Tesisnya 1056 halaman. 

3. Tesis Mu'taz Yusuf Jamil Shabih di Universitas al-Najah al-Wathaniyyah: kajian atas rawi berpaham tasyayyu', Qadariyah, Murji'ah, Khawarij, Nashibi di Shahih Muslim, serta bagaimana metodologi Imam Muslim dalam periwayatan mereka. Semakin menantang, penulis berupaya membuktikan tidak validnya sebagian predikat bid'ah pada rawi, di antaranya mengkritisi sanad riwayat/atsar yang dijadikan sebagai bukti bid'ahnya. Tesisnya 218 halaman. 

4. Tesis Zainab binti Faishal di Universitas Malaysia: kajian atas rawi berpaham bid'ah dan bagaimana menyendirinya Imam Muslim dalam periwayatan mereka di Shahih Muslim. Disertasinya 233 halaman. 

5. Disertasi Idris 'Askar Hasan al-'Isawi di Universitas al-Islamiyyah Baghdad: kajian atas rawi Murji'ah di Shahih al-Bukhari. Ini yang jarang disoroti. Disertasinya 320 halaman. 

6. Disertasi Muhammad Sa'id Ruslan di Universitas al-Azhar: kajian atas rawi mubadda'un di kutub al-sittah (6 kitab hadits utama Sunni). Tidak digunakannya istilah mubtadi'/mubtadi'un, melainkan mubadda'ah/mubadda'un, mungkin sebagai penekanan bahwa banyak dari rawi yang menganut paham bid'ah (non-Sunni) itu bukan sengaja dan tidak semua predikat bid'ahnya valid. Apalagi mereka mujtahid atau setidaknya merupakan guru atau murid dari para ahli hadits, fiqih dan periwayat Sunni yang otoritatif, makanya disimpulkan itu hanya kesalahan ijtihad yang tak layak dicela. Sehingga predikat “ahli bid'ah” tidak pantas disematkan, yang tepat adalah “dianggap/tertuduh pelaku bid'ah”. Disertasinya 4 jilid. 

7. Disertasi Michael Dann di Princeton University: kajian mengenai batas-batas dalam penerimaan rawi Syi'ah dan Rafidhah di literatur Sunni. Uniknya, penulis menganalisa hal tersebut dengan membaginya 2 periode: 100-150 H dan 150-250 H, dan pertimbangan konteks sosial politik dan afiliasi masing-masing sehingga akan tampak adakah pergeseran sikap/prinsip dalam merespon rawi Syi'ah dan Rafidhah. Disertasinya 252 halaman. 

8. Tesis Karimah Sudani di Universitas Aljaza'ir: kajian atas rawi berpaham bid'ah dan periwayatan mereka di Shahih al-Bukhari. Menariknya, ada pembahasan mengenai rawi yang rujuk dari pemahaman bid'ahnya (Qadariyyah, Murji'ah, Nashibi dan Jahmiyyah) dan mengenai rawi bid'ah yang berlepas diri dari yang dituduhkan. Tesisnya 504 halaman. 

9. Disertasi Karimah Sudani di Universitas Haj Lahdhar (Batnah): kajian atas metodologi Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam menjarh/mengkritik rawi dengan predikat bid'ah di kitab Taqrib al-Tahdzib. Disandingankan dengan studi komparatif Tahdzib al-Tahdzib karya Ibnu Hajar dan al-Kasyif karya al-Dzahabi. Disertasinya 577 halaman. 

10. Tesis Muhammad Khalifah 'Ali di Universitas Aal al-Bait, Yordania: kajian atas metodologi al-Bukhari dan Muslim terhadap hadits-hadits yang melalui rawi Syi'ah di al-Shahihain. Tesisnya 218 halaman.

 

11. Tesis Badr bin Nashir bin Muhammad al-'Awwad di Universitas Muhammad bin Su'ud al-Islamiyyah: walaupun cakupan kajiannya luas yaitu definisi dan pemikiran Nashibi, sejarah dan penyebaran Nashibi, hukum fiqih terkait Nashibi, hubungannya dengan madzhab lain, sikap Bani Umayyah dan 'Abbasiyah terhadap Nashibi dan bantahan terhadapnya, namun penulis juga melakukan studi atas para rawi Nashibi di literatur Sunni. Disertakan pembahasan pro dan kontra validnya kenashibian yang disematkan pada mereka. Tesisnya 1000 halaman. 

12. Tesis 'Aidh al-Qarni di Universitas Muhammad bin Su'ud al-Islamiyyah: kajian mengenai pengaruh rawi berpaham bid'ah dalam ilmu riwayah dan dirayah. Tesisnya 207 halaman. 

Selain itu, ada kitab-kitab yang terbit namun saya belum dapat pastikan ia karya ilmiah/akademik atau bukan seperti (1) Karya Muhammad Sa'id Muhammad al-Baghdadi: analisis teori dan penerapan hadits rawi bid'ah di Shahih al-Bukhari dan (2) Karya Muhammad Ibrahim Dawud Syahadzah: analisis rawi yang dikuatkan al-Dzahabi di kitab Mizan al-I'tidal, namun diperbincangkan kritikus rijal lain terkait status bid'ahnya. Ada pula yang kategorinya bukan tesis atau disertasi, seperti karya bersama Husain 'Azizi, Barwiz Rastkar dan Yusuf Bayat yang berjudul Al-Ruwah al-Musyatarakun Baina al-Syi'ah wa al-Sunnah, 2 jilid. Mereka menganalisis rawi-rawi yang periwayatannya tercatat di sumber primer Sunni dan di sisi lain mempunyai peran atau keterlibatan dalam catatan-catatan klasik ulama Syi'ah.  

Lanjut, di Karbala pada tahun 1435 H/2014 terbit kitab berjudul Mu'jam Nawashib al-Muhadditsin karya 'Allamah 'Abdurrahman al-'Uqaili, tebal 649 halaman (sampai daftar isi). Kajiannya mengenai rawi-rawi Nashibi dari abad ke-1 H sampai abad ke-4 H. Sebelumnya ia menguraikan syarat-syarat tautsiq (baca: pengukuhan kredibiltas) dan hukum mencaci maki sahabat menurut ahli hadits Sunni dan tidak konsistennya ketika diterapkan pada rawi Nashibi, misalnya mereka yang mencaci maki atau mendiskreditkan Imam 'Ali bin Abi Thalib as. Ia juga berhasil melacak rawi 'Utsmaniyyah (pendukung 'Utsman bin 'Affan) dan ragam indikatornya. Kitab inilah yang saya posting fotonya.  

Oh ya, karya Syaikh 'Adil Kazhim 'Abdullah yang berjudul Din al-Nawashib, terbit tahun 1427 H/2006 juga tak kalah menarik. Kitab setebal 236 halaman ini menguraikan bagaimana kaidah atau pendirian ulama Sunni terhadap rawi Nashibi itu justru saling mengabaikan, tidak mengindahkan. Penulisnya membuktikan dengan menganalisa puluhan rawi Nashibi yang oleh ulama Sunni dinilai tsiqah (kredibel) dan berbagai permasalahannya. Untuk kajian kritis yang lebih sistematis, kita dapat merujuk kitab Fiqh al-I'tidal fi Naqd al-Rijal: Dirasah Tahliliyah li Syuruth 'Adalah al-Rawi 'Inda al-Jumhur karya Syaikh Muhammad al-Karwi, 159 halaman, yang terbit di Tehran tahun 1432 H. Poin plus dalam kitab ini adalah dengan cermat penulis membagi dua jenis tautsiq ulama Sunni terhadap Nashibi: umum dan khusus. Yang umum terbagi dua: 1. penilaian/pernyataan ahli hadits dengan isyarat dan yang melazimkan masuknya kelompok lain dan 2. penilaian/pernyataan secara langsung dan tegas. Adapun tautsiq khusus: ditujukan dengan merinci personnya. Tujuan utamanya membuktikan kontradiksi ulama Sunni antara teori kredibilitas rawi dan penerapannya.  

Ada pula karya Ja'far al-Thabsi, Majid al-Darwisy, 'Abdullah Fattah 'Abu Ghuddah dan lain-lain. Berbagai jurnal dan artikel turut juga meramaikan kajian ini, mulai dari yang membahas tolak ukur diterimanya hadits dari rawi bid'ah dan terbaginya kelompok para ulama klasik soal itu, hingga yang analisisnya fokus pada satu rawi bid'ah secara mendalam misalnya Ja'far bin Sulaiman al-Dhubai' dan periwayatannya. Dengan mempertimbangkan penelitian-penelitian ini, kita mendapati semangat yang harusnya digaungkan dalam khazanah pemikiran Islam: 

1. Bahwa otoritas ulama klasik tidak mengharuskan apapun yang dikatakannya benar. Telaah komprehensif dengan metodologi ilmiah mampu menyingkap subjektifitas dan inkonsistennya sebagian ahli hadits dalam menilai rawi mazhab lain. 

2. Janganlah menyikapi ulama klasik seakan-akan mereka serba tahu atau serba komplit. Bisa jadi dua ahli hadits berbeda dalam menetapkan afiliasi rawi itu karena (1) Informasi yang didapatkan itu belum sampai kepada ahli hadits lainnya. Mengingat pada abad-abad itu alat komunikasi dan sarana informasi lainnya tidak secepat sekarang; (2) Berbeda dalam menilai validitas riwayat terkait kelakuan rawi itu; (3) Sejak awal tidak merumuskan standar yang baku; (4) Dipengaruhi lingkungan, khususnya dari guru dan muridnya yang memang anti dengan mazhab lain. Mengingat betapa tajamnya persaingan bahkan tahdzir sektarian kala itu. 

3. Kajian perbandingan dengan melirik literatur mazhab lain sangatlah berguna untuk melacak berbagai kemusykilan sejarah dan faktor-faktornya. Apalagi kalau sudah masuk rawi-rawi yang peranan dan jejaring intelektualnya tidak hanya diabadikan dalam literatur Sunni. 

4. Predikat atau label sektarian yang tercatat di kitab-kitab rijal bukan satu-satunya timbangan dalam tema ini. Penelusuran peranan si rawi, uji validitas riwayat yang ia bawakan, serta konsistensi kandungannya, unsur apa saja yang berkembang di daerah ia tinggal dan hubungan intelektual si rawi dengan tokoh-tokoh lain juga sangat penting dijadikan timbangan dalam menelaah. Teori-teori sosio-historis juga menopang semua itu. 

5. Tidak ada satu pun kaidah dan metode dalam ilmu hadits dan ilmu rijal yang cocok diterapkan untuk semua masalah. Makanya, dahulu saya merumuskan manhaj baru dalam menilai keotentikan hadits. Kalau saya membocorkan kaidah/perinciannya, maka dunia persilatan akan ribut lagi. Khawatir disalahgunakan pula. Cukuplah empat orang di grup itu yang tahu. Penasarankah?☺️ 

Semoga berkah dan manfaatnya diluaskan. Mohon doa senantiasa. Hadiahkan shalawat dan al-Fatihah! Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Aali Sayyidina Muhammad wa 'ajjil farajahum. *** 

Muhammad Bhagas, peminat dan peneliti mazhab

 

 

Sun, 14 Jun 2020 @06:52

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved