Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Pemikiran Jalaluddin Rumi [by Muhammad Nur Jabir]

image

Setiap jiwa senantiasa baru, dunia dan kita

Tak diketahui kebaruan itu dalam keabadian

Umur bagai arus, baru dan baru

Senantiasa berlangsung dalam jasad

 ~ Jalaluddin Rumi

 

Salah satu hal yang menarik dalam pemikiran Rumi adalah tentang sistem filsafatnya yang diyakini sebagai sebuah sistem filsafat yang terbuka. Sistem filsafat sebagaimana yang dipahami ada yang dibangun dalam bentuk sistem yang tertutup dan ada pula dalam bentuk sistem yang terbuka.  

Pengertian sistem filsafat tertutup adalah sebuah sistem pemikiran yang dibangun dalam menafsirkan hakikat alam dan hakikat realitas lainnya melalui sistem tertentu. Misalnya filsafat Himah Muta’aliyah Sadra menafsirkan hakikat alam bersama realitasnya melalui teori fundamentalitas wujud, gradasi wujud, dan gerak substansi. Maksudnya penafsiran atas hakikat alam beserta hakikat yang ada didalamnya tak kan mungkin terselaikan kecuali dengan pendekatan teori-teori yang telah dibangunnya. Sebab itu hampir seluruh persoalan filsafat diselesaikan dengan fundamentalitas wujud oleh Sadra. Pemikiran Ibn Arabi dapat juga digolongkan sebagai sistem pemikiran yang tertutup karena seluruh pembahasannya diselesaikan dengan pendekatan wahdatul wujud dan sistem tajalli. 

Berbeda dengan Ibnu Arabi dan Sadra, Maulana Jalaluddin Rumi membangun sistem pemikirannya dengan sistem filsafat yang terbuka. Namun perlu dipahami, sistem filsafat terbuka bukan dalam pengertian tak memiliki sistem filsafat yang khas, namun ada hal yang mendasari mengapa Rumi memilih sistem filsafat terbuka. 

Dalam pandangan Rumi, ada dua hal yang tak terbatas yaitu Tuhan dan hakikat alam. Hakikat alam juga tak terbatas dikarenakan alam ini bergantung secara totalitas kepada Tuhan. Dan oleh karena Tuhan tak terbatas maka ciptaan-Nya pun tak terbatas. Kita mengatakan alam ini terbatas, disaat kita membandingkan alam ini dengan Tuhan. Saat itulah kita mengatakan Tuhan tak terbatas dan alam ini terbatas. Namun jika kita melihat alam ini tanpa mengaitkannya dengan Tuhan, kita akan sadar bahwa alam ini senantiasa mengalami kebaruan yang tanpa kita tahu akhir dari kebaruan ini. Sebab itu tak ada satu pun manusia yang mampu mengetahui titik akhir alam ini. Berdasarkan hal ini pula, tak ada yang mampu meneropong dan mempredeksi bagaimana bentuk akhir dari alam ini kecuali berpegang pada teks-teks suci. 

Tuhan dan alam semesta bagi Rumi adalah dua hal yang tak terhingga. Pandangan ini sekaligus memberikan implikasi bahwa setiap definisi atas realitas eksternal dari seorang pemikir, pada hakikatnya definisi dia tentang realitas itu sendiri. Dalam kata lain, ia hanya menjelaskan sebagian saja dari realitas eksternal, tidak menjelaskan segala hakikat realitas eksternal. 

Pandangan sistem filsafat yang terbuka ini bagi Rumi berasal dari kesadaran akan hakikat emanasi Tuhan yang tercurahkan terus-menerus tanpa batas. Maksudnya segala hal yang terjadi pada hakikat alam ini disebabkan oleh hakikat dibalik alam materi ini. Karena itu pondasi dari sistem filsafat terbuka dalam pandangan Rumi ialah ketidakterbatasan Tuhan, ketidakterbatasan alam karena alam bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, dan selanjutnya adalah emanasi serta tajalli Tuhan yang tercurahkan terus menerus dan tak terbatas. 

Berdasarkan dari pemaparan sebelumnya, maka tak kan kita temukan satu sistem yang tetap dalam pandangan Rumi. Maksudnya satu sistem yang dengan sistem tersebut dijadikan sebagai alat dalam meneropong segala realitas. Tak heran jika dalam syair-syair Rumi akan ditemukan berbagai pendekatan dalam menafsirkan realitas. Misalnya terkadang rumi menjelaskan determinis, terkadang kehendak bebas, dan terkadang diantara keduanya. Semuanya memiliki tempat dalam pandangan Rumi. 

Kata Rumi;

Berabad-abad telah berlalu, ini abad baru

Bulannya, bulan itu juga, dan airnya, bukan air itu.

Adil, adil itu juga, dan kemuliaan, kemuliaan itu juga,

Meskipun abad ini telah berganti, juga ummatnya,

Abad telah menggantikan abad lain

Dan makna-makna ini tetap dan abadi

Air itu mengair dan telah berganti berkali-kali

Meski gambar bulan dan bintang tak berubah

 

***

Sumber artikel https://muhnurjabir.blogspot.com/2015/04/pemikiran-jalaluddin-rumi-sebagai.html?m=0

 

Wed, 24 Jun 2020 @08:27

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved