Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Inilah Imam Pelanjut Misi Rasulullah Saw

image

Sebagaimana Rasulullah saw menerima tugas dari Allah untuk memperkenalkan pengganti dan khalifahnya, maka Imam Ali pun memperkenalkan pelanjutnya sebagai hujjah Allah di muka bumi sehingga umat tidak kebingungan dalam mengambil ajaran agama. Satu di antara literatur Syiah yang bisa dirujuk adalah kitab al-Kafi karya Syaikh Al-Kulaini. Pada bagian kitab al-Hujjah, terdapat riwayat-riwayat yang menyebutkan secara jelas bahwa Rasulullah saw dan para Imam memperkenalkan pelanjutnya agar diikuti sekaligus menjadi teladan bagi umat Islam. Riwayatnya sebagai berikut:

Pertama, Rasulullah saw menyebut Ali sebagai washi dan khalifah setelahnya. Imam Ali as meriwayatkan bahwa ketika ayat «وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ» diturunkan kepada Rasulullah saw, ia memanggilku dan bersabda: “Allah Swt memerintahkan Aku untuk memberikan peringatan kepada kerabat terdekatku. Saya kemudian menjadi risau dan khawatir apabila saya menjelaskan hal ini kepada mereka maka tentu mereka akan bereaksi dan menolak. Karena itu, saya memilih diam hingga Jibril mendatangiku dan berkata, ‘Wahai Muhammad apabila engkau tidak menjalankan perintah ini maka engkau akan diazab.’ Oleh karena itu, ‘Wahai Ali! Siapkanlah makanan dan hidangkanlah satu paha kambing sebagai makanan dan semangkuk susu.’ Kemudian undang putra-putra Abdul-Mutthalib sehingga saya menyampaikan perintah Allah ini kepada mereka.’ Saya pun melaksanakan perintah Rasulullah saw. Mereka berjumlah kurang lebih empat puluh atau empat puluh satu orang[1] dan di antara mereka juga hadir paman-paman Rasulullah saw, Abu Thalib, Hamzah, Abbas dan Abu Lahab. 

Saat semua telah berkumpul, Rasulullah saw meminta supaya makanan dihidangkan. Kemudian Rasulullah Saw mengambil sepotong daging dan membaginya menjadi beberapa bagian dan memotong daging itu dengan giginya lalu meletakannya di beberapa bagian nampan. Lalu Rasulullah Saw berkata, “Makanlah dengan nama Allah.” 

Mereka melahap makanan yang dihidangkan hingga semuanya kenyang. Demi Allah! Hanya sedikit makanan yang berkurang. Sekiranya satu orang saja yang makan maka makanan itu tidak bakalan cukup untuk semua (karena porsinya yang sedikit). 

Lalu Rasulullah saw memerintahkan supaya mereka melepaskan dahaganya. Saya membawa semangkuk susu dan melepaskan dahaga mereka semuanya meski dalam kondisi normal, masing-masing dari mereka, dapat meminum semangkuk penuh susu. 

Selanjutnya ketika Rasulullah saw ingin menyampaikan tujuannya mengundang, Abu Lahab berteriak lantang bahwa orang ini telah menyihir kalian! Setelah kejadian ini, Rasulullah saw urung menyampaikan risalahnya dan mereka pun pergi meninggalkan tempat itu. 

Keesokan harinya, Rasulullah saw berkata kepadaku: ‘Orang itu berkata-kata sebelum Aku dan sebelum Aku sempat menyampaikan risalahku para tamu telah meninggalkan majelis.
Siapkanlah makanan yang sama dan undang lagi mereka!’ 

Imam Ali as berkata, “Aku pun melaksanakan apa yang diminta dan Rasulullah saw pun melakukan hal yang sama seperti malam sebelumnya.” 

Setelah para tamu menyantap hidangan makanan dan minuman, Rasulullah saw bersabda:
‘Wahai putra-putra Abdul-Mutthalib! Saya tidak mengenal di kalangan Arab seorang pemuda yang membawakan lebih baik dari apa yang saya bawakan kepada kaumnya. Saya membawakan kebaikan dunia dan akhirat untuk kalian. Allah memerintahkan kepadaku untuk mengajak kalian.
Siapa di antara kalian yang dapat membantuku dalam urusan ini sehingga ia akan menjadi saudara, washi dan khalifahku?’ 

Seluruh tamu tidak memberikan jawaban kepada Rasulullah saw. Namun saya yang lebih kecil dari seluruh yang hadir di perjamuan itu berkata: ‘Wahai Rasulullah! Saya siap membantumu.’ Rasulullah saw memegang leherku dan bersabda, ‘Orang ini adalah saudara, washi dan khalifahku di antara kalian. Dengarkanlah perkataannya dan taatilah ia.’ Orang-orang yang hadir tertawa kemudian seseorang berkata kepada ayahku, Abu Thalib, ‘Engkau diperintahkan untuk mendengarkan anakmu dan mentaatinya!’[2] 

Kedua, Imam Ali bin Abu Thalib as menyebut Imam Hasan, Imam Husain, Imam Ali Zainal Abidin, dan Imam Muhammad bin Ali as sebagai pelanjutnya secara berurutan. Sulaim bin Qais al-Hilali meriwayatkan, “Suatu waktu Amirul Mukminin berwasiat kepada putranya Imam Hasan as dan saya hadir di tempat itu. Imam Ali meminta Imam Husain as dan Muhammad (bin Hanafiyah) serta anak-anak lainnya dan para pembesar Syiah serta Ahlulbaitnya menjadi saksi (atas wasiat tersebut). Kemudian menyerahkan kitab dan pedang kepada Imam Hasan as dan bersabda, ‘Anakku! Sebagaimana Rasulullah saw berwasiat kepadaku dan menyerahkan kitab dan pedangnya kepadaku,  beliau mewasiatkan kepadaku supaya berwasiat kepadamu, kitab-kitab dan pedangku aku serahkan kepadamu, dan mewasiatkan kepadamu bahwa sebelum ajalmu tiba, hendaknya engkau serahkan kitab-kitab dan pedang itu kepada saudaramu, Husain.’ Lalu Imam Ali as menghadapkan wajahnya kepada putranya Husain as dan berkata, ‘Rasulullah saw memerintahkan kepadamu untuk menyerahkannya kepada putramu yang ini.” Lalu mengambil tangan Ali bin al-Husain as dan berkata, “Rasulullah saw memerintahkan kepadamu untuk menyerahkan (kitab-kitab dan pedang ini) kepada putramu Muhammad bin Ali as dan sampaikan salam Rasulullah saw dan salamku untuknya.’”[3] 

Ketiga, Imam Muhammad bin Ali Al-Baqir as menyebut putranya, Imam Jafar Shadiq sebagai pelanjutnya. Abu al-Shibah Kanani berkata, “Imam Baqir as memandang ke arah Imam Shadiq as yang tengah berjalan. Katanya, “Apakah engkau melihat orang ini? Ia adalah dari orang-orang yang Allah Swt firmankan, “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi itu, hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”[4] 

Keempat, Imam Shadiq as menyebut Imam Musa Al-Kazhim sebagai pelanjutnya. Faidh bin Mukhtar berkata: saya berkata kepada Imam Shadiq as, “Tangkaplah (selamatkanlah) aku dari api neraka. Siapa yang kami miliki (Imam kami) setelahmu?” Kemudian Abu Ibrahim (Imam Musa Al-Kazhim) yang pada masa itu, masih kecil datang kepada ayahnya. Imam Shadiq as bersabda, “Orang ini adalah pemilik kalian. Berpeganglah kepadanya.”[5]  

Kelima, Imam Musa Al-Kazhim menyebut Imam Ali bin Musa Ar-Ridha sebagai pelanjutnya. Husain bin Nu’aim Shahaf berkata, “Saya dan Hisyam bin Hakam serta Ali bin Yaqthin berada di Baghdad. Ali bin Yaqthin berujar, ‘Saya duduk di sisi Imam Musa bin Jafar kemudian putranya Ali as datang.’ Imam bersabda, ‘Ali bin Yaqthin! Ali inilah pemimpin anak-anakku. Sesungguhnya kuniyahku (Abul Hasan) Aku hadiahkan kepadanya. Hisyam menepuk jidatnya dan berkata, ‘Celakahlah engkau. Apa yang engkau katakan?” Ali bin Yaqthin berkata, ‘Demi Allah! Saya mendengar apa yang saya katakan ini darinya.’ Hisyam berkata, ‘Dengan ucapan ini engkau diberitakan urusan imamah setelahnya dan akan berpindah kepadanya (Ali bin Musa).”[6] 

Keenam, Imam Ali Ar-Ridha as menyebut putranya (Imam Muhammad Al-Jawad) sebagai pelanjutnya. Ibnu Abi Nashir berkata, “Ibnu Najasyi berkata kepadaku, ‘Siapa Imam selanjutnya setelah Imammu? Saya sendiri ingin bertanya darinya langsung supaya tahu.’ Saya datang ke hadapan Imam Ridha as dan melaporkan hal ini. Imam Ridha as berkata, ‘Putraku.’”[7] 

Ketujuh, Imam Al-Jawad menyebut putranya, Ali bin Muhammad Al-Hadi as, sebagai Imam setelahnya. Ismail bin Mihran berkata, “Imam Al-Jawad as dua kali berangkat dari Madinah ke Baghdad. Pada perjalanan pertama, saya berkata kepadanya, ‘Semoga saya menjadi tebusanmu. Saya mengkhawatirkan keselamatan Anda dalam perjalanan ini. Urusan imamah setelah Anda ditentukan pada siapa?’ Imam Al-Jawad as sembari tersenyum bersabda, ‘Ghaibat yang engkau sangkakan itu belum terjadi pada tahun ini, lantaran kesempatan kedua ketika Imam Al-Jawad dibawa ke hadapan Mu’tashim, saya datang ke hadapannya dan berkata, ‘Semoga saya menjadi tebusan Anda. Anda keluar, urusan imamah diserahkan kepada siapa setelah Anda?’ Imam menangis sampai janggutnya basah oleh air mata. Kemudian ia berkata, ‘Dalam perjalanan ini engkau harus mengkhawatirkan kondisiku. Urusan imamah setelahku dengan putraku, Ali.’”[8] 

Kedelapan, Imam Ali Al-Hadi as berwasiat kepada putranya, Imam Hasan Al-Askari, yang berarti pelanjutnya. Yahya bin Yasar al-Qanbari berkata, “Imam Al-Hadi as empat bulan sebelum wafatnya berwasiat kepada putranya, Hasan, dan mengambil kesaksian dariku bersama sekelompok orang.”[9] 

Kesembilan, Imam Hasan Al-Askari menyebut putranya, Imam Muhammad Al-Mahdi, sebagai Imam. Amru Al-Ahwazi berkata, “Imam Hasan Al-Askari menunjukkan putranya kepadaku dan bersabda, “Dia inilah shahib (Imam) kalian setelahku.”[10]  *** (Abu Misykat)

catatan


[1] Dalam sumber lain ada yang menyebutkan 45 orang yang hadir.

[2] Ibnu Jarir Thabari,  Tārikh Thabari, jil. 2, hal. 416, hadis 446, Izzuddin, Beirut, Cetakan Pertama, 1405 H.

[3] Muhammad Yakub al-Kulaini, al-Kafi, jilid 1 (Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H) cetakan keempat, halaman 297-298.

[4] Muhammad Yakub al-Kulaini, al-Kafi, jilid 1 (Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H) cetakan keempat, halaman 306.

[5] Muhammad Yakub al-Kulaini, al-Kafi, jilid 1 (Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H) cetakan keempat, halaman 307.

[6] Muhammad Yakub al-Kulaini, al-Kafi, jilid 1 (Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H) cetakan keempat, halaman  311.

[7] Muhammad Yakub al-Kulaini, al-Kafi, jilid 1 (Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H) cetakan keempat, halaman  320.

[8] Muhammad Yakub al-Kulaini, al-Kafi, jilid 1 (Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H) cetakan keempat, halaman 323.

[9] Muhammad Yakub al-Kulaini, al-Kafi, jilid 1 (Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H) cetakan keempat, halaman 325.

[10] Muhammad Yakub al-Kulaini, al-Kafi, jilid 1 (Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H) cetakan keempat, halaman 328.

Sun, 28 Jun 2020 @07:22

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved