Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Dampak Perpecahan Umat (1) [by Sayyid Murtadha Askari]

image

Allah telah menetapkan—sesuai dengan tuntutan sifat rububiyah-Nya—agama bagi umat manusia guna mengatur kehidupan mereka, membahagiakan dan mengantarkan mereka ke tingkat kesempurnaan insani, dan menunjukkan jalan yang dapat dicapainya dengan perantara para nabi-Nya. Dia menamakan agama itu Islam (QS. Ali ‘Imran 3:19 dan 85). Sebagaimana Dia juga telah menetapkan untuk seluruh makhluk-Nya aturan-aturan yang sesuai dengan fitrah mereka. Dan Dia mengantarkan mereka ke tingkat kesempurnaan dalam wujudnya, dan memberikan petunjuk kepada mereka untuk berjalan sesuai dengan tuntutan aturan-aturan tersebut, baik melalui ilham maupun pengaturan Ilahi (QS. Al- ‘Alaq [87]:1-5; QS. Thaha [20]:50); QS. An-Nahl [16]: 68; QS. Al-A’raf [7]:54).

Seolah sudah menjadi kelaziman manusia di saat seorang Rasul Allah di sebuah umat meninggal dunia, maka orang-orang yang memiliki kekuatan harta dan kekuasaan akan mengubah seluruh syariat Nabi yang tidak sejalan dengan hawa nafsu mereka. Atau minimalnya, mereka akan menyembunyikannya. Kemudian mereka akan menisbahkan syariat yang telah mereka ubah itu kepada Allah dan rasul-Nya. 

Kemudian Allah memperbaharui agama Islam dengan mengutus seorang Nabi baru dan menghapus sebagian syiar dan ritual yang telah mengalami distorsi. Ketika Allah Swt mengutus nabi terakhir-Nya, Muhammad saw bersama  Al-Qur’an,  di  dalamnya  Dia  menurunkan pondasi-pondasi  Islam  yang  terdiri  dari  akidah  dan  hukum-hukum yang termaktub  dalam  ayat-ayat  yang  jelas. Dia  mewahyukan  kepada  beliau penjabaran  atas  segala  yang  telah  diturunkan-Nya  di  dalam  Al-Qur’an, supaya beliau  menjelaskan kepada  umat  manusia  apa yang  telah  diturun-kan  untuk  mereka.  Lalu, Nabi Saw mengajarkan kepada mereka syariat Islam;  tata  cara  salat  dan  jumlah  rakaatnya,  larangan-larangan  puasa  dan syarat-syaratnya,  thawaf  dan  jumlah  putarannya, serta  permulaan dan akhirnya,  dan  hukum-hukum  lainnya,  baik  yang  wajib,  sunah,  maupun haram.  Dengan demikian, terbentuklah sunah Nabi saw di  kalangan Muslimin. Demikianlah Allah merealisasikan Islam dalam sunah Nabi-Nya saw dan memerintahkan umat  manusia  untuk  mengikuti  beliau.  Dia befirman: “Sungguh di dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu....” (QS. Al-Ahzab [33]:21). 

Dalam syariat Islam, seluruh sirah dan hadis Nabi saw dinamakan sunah. Dan Allah dan Nabi-Nya telah  memerintahkan  kita  untuk  mengikuti sunah tersebut. Demikianlah Allah menyempurnakan penyampaian Islam kepada kita dalam Al-Qur’an dan sunah Nabi. Dan Nabi saw meninggal dunia setelah memberitahukan dan memperingatkan umat ini bahwa akan  menimpa mereka  apa  yang  pernah  menimpa  umat-umat  terdahulu,  tak  kurang sedikit pun.  Sehingga seandainya  salah  seorang  dari  umat-umat  terdahulu memasuki  lubang  biawak,  niscaya  salah  seorang  dari  umat  ini  pun  akan memasukinya. 

Berkenaan dengan gejala distorsi (tahrîf) di dalam umat ini, Allah Swt telah menjaga  Al-Qur’an agar  tidak  dapat  dijamah  oleh  tangan-tangan jahil. Dia befirman:  “Sesungguhnya Kami telah menurunkan  Al-Qur’an  dan  Kami akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr [15]:9). 

Dia juga berfirman: “Tidak akan datang kepadanya kebatilan, baik dari arah depan maupun dari arah belakang” (QS. Fushshilat [41]:42). Ada pun tentang sunah, baik dalam bentuk sirah maupun hadis yang telah diriwayatkan kepada kita dalam riwayat-riwayat yang tak terhitung jumlah-nya, Allah tidak pernah berjanji untuk memeliharanya dari segala cara distorsi. Ini dapat kita diketahui dari adanya perbedaan hadis-hadis Nabi yang sampai di tangan Muslimin pada hari ini, dan dari kontradiksi (taârudh) suatu  hadis dengan hadis lainnya. Justru perbedaan di bidang hadis yang mulia ini telah menggugah keinginan sebagian ulama untuk mengkajinya dan mereka telah menulis beberapa buku khusus dalam bidang ini, seperti Ta’wîl Mukhtalaf Al-Hadîts, Bayân  Musykil  Al-Hadîts, dan Bayân Musykilât Al-Âtsâr. 

Sebagai akibat dari perbedaan hadis-hadis ini, kaum Muslimin berbeda pendapat dalam memahami Al-Qur’an, sehingga persepsi mereka pun tak dapat disatukan untuk selamanya.  Selain itu, mereka tinggal di lingkungan yang beraneka ragam dan bergesekan dengan aliran pemikiran dari golongan dan bangsa-bangsa  yang  beraneka  ragam. Semua itu telah menyebabkan mereka berbeda opini dalam menafsirkan Islam.  Sebagian bahkan berani  menakwil  ayat-ayat  Al-Qur’an dan hadis-hadis  sahih  yang berada di tangan mereka sesuai dengan pendapat dan pandangan mereka tentang  Islam.  Hal itu juga  telah  menjadi  faktor  permusuhan  di  antara mereka,  dan  tidak  adanya  kesiapan  dari  mereka  untuk  mendengarkan pendapat  orang  lain,  serta  pengkafiran  sebagian  terhadap  sebagian  yang lain. Semua itu  adalah  faktor-faktor  perusak  internal,  di  samping  faktor-faktor  eksternal  yang  bermain  dari  dalam  melalui  tangan  antek-antek mereka sebagaimana yang akan dijelaskan. (bersambung)

Sumber tulisan dari buku Ma'alim Madrasatain karya Sayyid Murtadha Askari. Jilid 1. PDF (Penerbit Lembaga Internasional Ahlulbait, 2008).


Mon, 29 Jun 2020 @17:31

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved