Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Travelling Story Ibnu Saba [by Muhammad Babul Ulum]

image

Kali ini kita akan telusuri alur kisah (travelling story) Ibnu Saba. Dari mana asalnya. Ke mana mengalirnya. Di mana hinggapnya. Dan stop. Lalu ditangkap oleh Tugimin. Mungkin nanti akan banyak istilah teknis ilmu hadis yang sangat membosankan. Untuk mengusir kebosonan, siapkan udud dan kopi hitam. Cukup kopi yang hitam. Pikiran, jangan ikut hitam kayak Tugimin. 

Kita mulai dengan Rasyid Ridha. Pendiri Majalah Al-Manar. Tokoh pembaharu pemikiran Islam. Dan rujukan bagi kaum modernis, yang tidak modern lagi. Ridha menulis, “Loyalitas/Tasyayyu' kepada Ali adalah sumber perpecahan agama dan politik umat Islam. Pencetusnya adalah Ibnu Saba yang masuk Islam untuk memecah belah umat dan merusak ajaran agama dengan sikap ghuluw terhadap ‘Ali.” Tesisnya ini diambil dari karya Ibnu al-Atsir berjudul Al-Kamil Fi Al-Tarikh, yang lebih dikenal dengan nama Tarikh Ibnu Al-Atsir. 

Ada bagiannya sendiri untuk mengujinya secara akademik ilmiah. Ingat, tekanannya pada frasa akademik ilmiah. Karena ada akademik yang tak ilmiah. Silakan baca tentang post-revisionis madzhab Ciputat (search pada www.misykat.net). Sekadar pengantar sederhana ke arah sana. Baca dulu buku Al-Muawiyyat atau Merajut Ukhuwah Memahami Syiah. Yang belum punya keduanya, silahkan hubungi akun facebook Buku Sore. 

Akan saya tunjukkan bagaimana travelling story Ibnu Saba ini berkelana dari satu buku ke buku lain. Dari Arab gurun, hingga akhirnya menclok ke bukunya Tugimin. Seperti yang Ridha tulis, informannya adalah Ibnu al-Atsir. Siapa informan Ibnu al-Atsir? Ternyata adalah ath-Thabari. Siapa informan al-Thabari? Ternyata Saif bin Umar. Siapa Saif bin Umar? Supaya tak mengulang yang pernah dibahas, baca lagi beberapa postingan saya tentang Ibnu Saba. Jadi, buku pertama yang memuat kisah Ibnu Saba ini adalah Tarikh al-Thabari. Lalu di-copy paste oleh Ibnu al-Atsir. 

Dari Ibnu al-Atsir inilah dongeng Ibnu Saba berpindah ke mana-mana menjadi travelling theory yang selalu dikutip oleh bani kadrun. Sempat menclok pada kitab Tarikh Abu al-Fida, kitab Tarikh Dimisqa Ibnu Asakir, kitab Al-Bidayah wa Al-Nihayah Ibnu Katsir, dan kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun. Dari sana, mitos Sabaiyah berpindah-pindah dari satu buku ke buku lain. Dari satu artikel ke artikel lain. Mulai dari Rasyid Ridha hingga Tugimin.  

Fokus kita di sini adalah sumber pertama yang menyebut dongeng ini. Yaitu Tarikh al-Thabari, yang oleh Ath-Thabari dongeng ini dimasukkan dalam peristiwa yang terjadi antara tahun 30-36 Hijriah. Tepatnya dalam kisah tewasnya Khalifah Usman dan perang onta, melalui jalur Saif bin Umar Al-Tamimi. Tidak ada sanad lain. 

Dari Saif, Ath-thabari memiliki dua jalur. Pertama, Ubaidillah bin Said al-Zuhri, dari pamannya, Ya'kub bin Ibrahim, dari Saif bin Umar. Kedua, Sirri bin Yahya, dari Syu'aib bin Ibrahim, dari Saif bin Umar Al-Tamimi. Nanti kita akan bahas siapa mereka. Dari jalur yang terakhir ini, Ath-Thabari mengambil riwayat Saif dari kitabnya, Al-Futuh wa Al-Riddah dan Al-Jamal wa Masiir Aisyah. Dengan ungkapan: "kataba ilayya." Menulis kepadaku. Maksudnya, Ath-Thabari mengklaim bahwa riwayatnya ia terima langsung secara tertulis (mukatabah). Bahkan, terkadang Al-Thabari menyebutnya secara lisan (musyafahah) dari informannya. Ini yang saya sebut agak teknis dan sangat membosankan. Tapi, karena kita mau kajian yang akademik-ilmiah, yang teknis-teknis seperti ini harus disebutkan. 

Mari kita lihat kisah yang Ath-Thabari nukil dari Saif bin Umar dan diviralkan hingga jaman now. Bisa dipastikan, kisah berikut yang selalu dipakai oleh pengasong teori Ibnu Saba dalam argumentasinya. 

"Menurut catatan para ahli sejarah, Abdullah bin Saba yang dijuluki Ibnu Sauda pura-pura masuk Islam di masa Usman bin Affan dengan tujuan menghancurkan Islam dari dalam dengan cara menyulut permusuhan, kedengkian, kebencian terhadap khalifah Usman, mengorbankan api pemberontakan. Di zaman ‘Ali, ia menyiarkan ajaran sesat bahwa ‘Ali itu perwujudan Tuhan. Akibatnya khalifah ‘Ali menjatuhkan hukuman mati kepada pengikutnya. Sepeninggal khalifah ‘Ali, ia menyebarkan ajaran sesat lagi bahwa ‘Ali tidak mati, tetapi menghilang untuk sementara waktu dan kelak muncul kembali. Dari sinilah muncul akidah raj'ah. Ia juga yang pertama kali mengajarkan bahwa Nabi berwasiat menunjuk ‘Ali sebagai penggantinya." 

Coba perhatikan kesamaan narasi Ibnu Saba yang ditulis Rasyid Ridha dengan yang ditulis Tugimin. Narasi seperti itu yang selalu diulang-ulang sampai jaman now. Di sini, kita perlu mengujinya dengan prinsip konsistensi sebagai dasar kebenaran akademik-ilmiah. 

Coba perhatikan narasi berikut: "... di jaman ‘Ali, ia menyiarkan ajaran sesat bahwa ‘Ali itu perwujudan Tuhan. Akibatnya ‘Ali menjatuhkan hukuman mati kepada pengikutnya." 

Coba pikir baik-baik. Menurut Tugimin, Ibnu Saba mengajarkan ajaran sesat. Tetapi kenapa yang dihukum mati pengikutnya dan bukan dirinya sebagai sumber kesesatan? Apa gunanya memberantas kesesatan kalau sumbernya dibiarkan? Aneh, kan? Di sini yang dibakar pengikut Ibnu Saba. Sementara di halaman lain, yang dibakar adalah Ibnu Saba, bukan pengikutnya. Coba tanya dia, "Min, Tugimin, siapa, sih, sebenarnya yang dipanggang Imam `Ali? Ibnu Saba atau pengikutnya? Ini kontradiksi pertama.  

Mari lanjut ke baris selanjutnya. "Sepeninggal khalifah ‘Ali, ia mengajarkan ajaran sesat lagi bahwa ‘Ali tidak mati, akan tetapi menghilang untuk sementara waktu dan kelak muncul kembali. Dari sinilah muncul akidah raj'ah. Ia juga yang pertama kali mengajarkan bahwa nabi berwasiat menunjuk ‘Ali sebagai penggantinya." 

Ajaran sesat apa yang diajarkan Ibnu Saba? Inkarnasi ‘Ali, atau ‘Ali sebagai washi nabi? Ini saja sudah jelas inkonsistensi. Menurut Tugimin, berdasarkan ajaran Ibnu Saba, orang Syiah meyakini ‘Ali tidak mati? Padahal setiap malam 21 Ramadhan, orang Syiah memperingati syahadah Imam ‘Ali. Syahadah itu artinya mati syahid. Berarti Imam ‘Ali meninggal dunia. Bukan inkarnasi. Jelas, ini inkonsistensi argumentasinya? Ada pun tentang wasiat nabi yang menyebut ‘Ali sebagai washi. Semua sahabat mengetahui itu dengan baik. Jauh sebelum Ibnu Saba lahir ke dunia (kalau benar ada orangnya), Nabi telah menyebut ‘Ali sebagai washi-nya, dan sebagai khalifah-nya. Tepatnya, sejak awal Nabi terima perintah dakwah secara terang-terang di Makkah. Kisah seperti itu juga dilaporkan oleh Ath-Thabari. Dan diakui otentisitasnya oleh Tugimin pada halaman 78 bukunya (berjudul Bukan Sekadar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syiah). Tapi Anehnya, laporan Ath-Thabari yang otentik ini ditolak oleh Tugimin. Ini contoh lain dari inkonsistensi. Terkait Ibnu Saba, ia terima laporan Al-Thabari. Tapi terkait wasiat Nabi yang juga dilaporkan oleh Al-Thabari, ia tolak. Apa dasar penolakan/penerimaannya? Tugimin pasti tak bisa jawab.  

Sekarang kita lihat inkonsistensiyang lain pada frasa, "Sepeninggal Imam ‘Ali, ia menyebarkan ajaran sesat lagi...". Katanya Ibnu Saba dibakar di zaman Imam ‘Ali. Walaupun tak ada informasi apakah setelah dibakar ia mati atau hidup. Apa pun yang terjadi, akal sehat sulit menerima dongeng sebelum tidur seperti ini. Namun anehnya dongeng seperti ini ditelan mentah-mentah oleh mayoritas akademisi Islam. Bahkan dalam nukilan lain, Tugimin menyebut Ibnu Saba dibakar oleh Imam al-Baqir atas perintah ayahnya, Imam as-Sajad. Sekali lagi, pertanyaannya, mana yang betul, dibakar oleh Imam ‘Ali atau oleh Imam al-Baqir, cicit Imam ‘Ali? 

Sedikit bahasan di atas sekedar untuk membuktikan kebenaran tesis post-revisionis madzhab Ciputat tentang kajian akademik yang tak ilmiah. Secara akademik, teori Tugimin tentang Ibnu Saba dapat diterima. Karena ia menyandarkan argumentasi pada sumber yang bisa dilacak, yaitu Ath-Thabari. Tapi sikapnya yang tidak kritis terhadap Ath-Thabari, membuat argumentasinya tidak ilmiah. Yang terjadi adalah inkonsistensi pembuktian. Narasi yang dibangun saling kontradiktif antara satu dengan yang lain. Hal ini terjadi karena Tugimin mengalami bias konfirmasi. Bukti yang didapat untuk mengafirmasi teorinya berbeda dengan apa yang ia yakini. Ia pun terserang virus CD-19. Cognitive dissonance. Dan virus ini menyerang hampir semua Islamic studies berparadigma das-sein, baik yang bercorak akademis apalagi yang ideologis. Apa akibatnya? Silahkan baca Al-Muawiyyat. Yang belum punya, jangan lupa beli pada akun Facebook Buku Sore 

Terkait Ibnu Saba ini, pilihan ada pada Anda. Apakah mau ikut akademik yang ilmiah, atau akademik yang tak ilmiah? Orang yang berakal sehat pasti pilih yang pertama, kecuali bangsa kadrun. ***

MUHAMMAD BABUL ULUM, doktor bidang hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan penulis buku Al-Muawiyyat

(Sumber artikel diambil dari akun facebook Muhammad Babul Ulum)


Thu, 2 Jul 2020 @13:40

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved