Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Kontradiksi Thabari, Terkait Ibnu Saba [by Muhammad Babul Ulum]

image

Sekarang kita akan melihat siapa yang menghubungkan Thabari kepada Saif. Dengan ilmu jarh wa ta'dil kita akan menguji klaim Syamsuddin Arif (dalam buku Bukan Sekadar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syiah) terkait otoritas sanad yang dipakai Thabari. Apakah dapat dipercaya atau tidak?

Riwayat Saif sampai kepada Thabari melalui dua jalur sanad: pertama, Abdullah bin Said al-Zuhri, dari Ya'kub bin Ibrahim, dari Saif bin Umar; dan kedua, Siri bin Yahya, dari Syu'aib bin Ibrahim, dari Saif bin Umar. Sanad yang kedua inilah yang menukil kisah Ibnu Saba. Mari kita lihat penilaian ulama jarh wa ta'dil tentang informan Thabari yang kedua ini.  

Tentang Siri bin Yahya. Menurut Ibnu Hajar ada beberapa nama rawi untuk mengidentifikasi Siri bin Yahya. Ada Siri yang tsiqah, dan ada yang ghairu tsiqah. Siri yang tsiqah meninggal pada 167 H. Sedangkan al-Thabari lahir pada 224 H. Berarti yang dimaksud bukan Siri yang tsiqah. Tapi Siri yang lain. Yaitu yang tidak tsiqah. Nama asli Siri yang tidak tsiqah dalam Tahdzib Al-Tahdzib adalah al-Siri bin Ismail Al-Hamdani. Bin Yahya yang dipakai adalah kakeknya. Untuk menunjukkan silsilah keluarga.  

Tentang Siri ini, Yahya bin Said berkata: "Ia telah terbukti berbohong." Ibnu al-Mubarak, salah satu gurunya Bukhari, berkata: "hadis Siri bin Ismail tidak ditulis." Shalih bin Ahmad berkata dari ayahnya, "laisa bi al-qawi (tidak kuat)." Abu Thalib dari Ahmad berkata: "taraka al-nas haditsahu (orang-orang meninggalkan hadisnya)." Ibnu Main berkata: "laisa bi-syai' (nggak ada nilainya)." Abu Dawud berkata, "dhaif (lemah), matruk al-hadis (hadisnya ditinggalkan)." Menurut al-Nasai: “laisa bitsiqah (tidak dapat dipercaya).” Menurut Ibnu Adi, “hadis-hadisnya munkar.”  

Setelah menukil pendapat ulama seperti di atas, Ibnu Hajar membawakan hadis Saif yang diriwayatkan Siri, dan berkata: "hadis ini cacatnya ada pada Siri." Tentangnya al-Bazzar berkata, "laisa bi al-qawi (tidak kuat)." Menurut al-Saji: "dhaif jiddan (sangat lemah sekali)." Ibnu Hibban menilai Siri gemar membolak-balikkan sanad dan mengotak-atik hadis-hadis mursal menjadi marfu'.  

Selain Siri bin Yahya di atas, ternyata ada rawi lain bernama Siri. Yaitu Siri bin Ashim al-Hamdani yang menetap di Baghdad, wafat tahun 258 H. Sosoknya didustakan oleh Ibnu Farash. Dan didiskualifikasi oleh Ibnu Adi dengan ungkapan,"yasriqul hadis (mencuri hadis)." Al-Haitami berkata, "kadzdzab (pendusta)." Tentang hadis yang sanadnya ada nama Siri bin Yahya, al-Suyuthi berkata,"maudhu (palsu)." Para rawinya dhaif (lemah) semua, dan yang paling lemah adalah Saif. 

Dari kedua rawi yang bernama Siri, siapa pun dia, apakah yang pertama atau yang kedua. Dua-duanya cacat. Tidak ada satu pun ulama jarh wa ta'dil yang mengapresiasinya (ta'dil). Semuanya mencacatnya (jarh).  

Selain nama Siri. Ada nama lain yang menyambungkan al-Thabari kepada Saif. Yaitu Syu'aib bin Ibrahim al-Kufi. Tentang rawi ini, Ibnu Adi berkata, "itu nama tidak dikenal (laisa bil ma'ruf)." Menurut al-Azahabi, "bodoh, perawi yang menukil riwayat Saif darinya." Sedangkan Ibnu al-Jauzi, memberi contoh hadis yang sanadnya ada Syuaib bin Ibrahim, dari Saif, dengan tegas ia berkata, "hadis ini palsu. Para rawinya tidak dikenal (majhul) dan lemah." 

Jadi, tentang Syu'aib bin Ibrahim ini. Para ulama jarh wa ta'dil yang terkenal otoritasnya bukan saja mereka sepakat mencacatnya, bahkan Adz-Dzahabi menyebut sosoknya misterius (majhul). 

Dengan demikian berarti Thabari meriwayatkan dongeng Ibnu Saba dari seorang pendusta (Siri), dari makhluk misterius (Syu'aib). Aneh, seorang Thabari meriwayatkan dari PETRUS (perawi misterius). Supaya gampang dipahami alur sanadnya begini. Pembual (Saif bin Umar) kepada PETRUS (Syua'aib bin Ismail), kepada pendusta (Siri bin Yahya), kepada Thabari. Aneh bin ajaib.  

Ada keanehan lain dari Thabari atau kontradiksinya terkait Saif ini. Ia mengakui bahwa Saif banyak membuat nama-nama fiktif dan tempat fiktif saat bercerita tentang perang Dzat Salasil dan peristiwa yang terjadi di zaman Abubakar. Tapi anehnya, di sinilah letak kontradiksi Thabari, ia menerima begitu saja bualan Saif terkait Ibnu Saba ini. Padahal sebelumnya ia mengakui bahwa Saif membual saat bertutur tentang kisah yang terjadi di zaman Abubakar. Tapi menerimanya saat berkisah peristiwa yang terjadi di zaman Usman. Ada apa dengan Thabari? 

Oleh karena itu, tidak salah kalau Tukul berkata: pertinyiinya, darimana Tugimin berkesimpulan bahwa sanad Thabari dipercaya? Sembari menuduh penolaknya berspekulasi? Bukankah justru Tugimin yang berspekulasi? Tugimin menuduh penolak sanad Thabari hanya semata-mata berspekulasi dan jauh di bawah standar metodologi Thabari pada asas isnad. Bahkan dengan metodologi isnad yang Thabari pakai, justru Thabari yang berspekulasi.

Karena Tugimin percaya kepada Thabari, berarti ia juga berspekulasi. Tapi anehnya, Tugimin malah menuduh penolak Thabari yang berspekulasi. Sing gendeng bin sinting ki sopo? *** 

Dr Muhammad Babul Ulum, penulis buku Al-Muawiyyat dan penerjemah Kitab Al-Kafi (jilid 1).

 

Sat, 4 Jul 2020 @06:44

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved