Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Dampak Perpecahan Umat (2) [by Sayyid Murtadha Askari]

image

Di antara faktor perusak dan distorsi atas sumber-sumber kajian Islam (kitab-kitab induk hadis, sirah, dan tafsir) adalah faktor-faktor perusak eksternal, di antaranya: 

Pertama, hadis-hadis Ahlul Kitab yang tersebar dalam kitab-kitab induk kajian Islam melalui sekelompok oknum seperti Ka‘bu Ahbar dan Tamîm Ad-Dârî. 

Kedua, riwayat dan hadis-hadis yang dipalsukan oleh sebagian orang zindîq, seperti Ibn Abil Aujâ’ dan Saif bin Umar, yang tersebar dalam kitab induk tersebut. 

Ketiga, akhir-akhir ini, ketika kekuatan imperialis kafir memerangi Muslimin. Mereka memerangi dengan menggunakan senjata yang paling mematikan. Mereka menugaskan para misionaris, baik dari pemuka Yahudi maupun Kristen yang lebih akrab dengan label kaum orientalis untuk mencari titik-titik kelemahan kitab-kitab induk Islam. 

Melalui titik kelemahan itu, mereka memerangi agama Islam. Mereka mengerahkan segala daya untuk menyusun indeks kitab-kitab induk Islam, mengaturnya sedemikian rupa, mencetaknya dengan seelok mungkin, menguasai segala isi yang terdapat di dalamnya dengan perantara kitab tersebut, dan dari beberapa buku itu mereka memanfaatkan setiap hadis palsu yang dapat mengotori (wajah) Islam seperti kisah fiktif Al-Gharânîq dan lainnya. Lalu mereka mengarang buku dari hasil jiplakan hadis itu dengan judul Dâ’irah Al-Ma‘ârif Al-Islâmiyah dan Muhammad, An-Nabî As-Siyâsî. 

Kaum imperialis telah melakukan sesuatu yang lebih berbahaya lagi dari mereka dalam memerangi Islam. Mereka mendidik murid-murid mereka sendiri yang telah lulus dari sekolah-sekolah pemikiran mereka dan menjadikan mereka sebagai penyebar kebudayaan mereka di negara-negara Islam. Mereka telah membekali para alumni tersebut dengan segala macam informasi dan memperkenalkan mereka kepada masyarakat Islam sebagai reformis Islam, kaum intelektual, dan simbol segala kemajuan. 

Para alumni Barat itu memasukkan segala pemikiran mereka ke negara-negara Islam dan menyebarkannya dengan menggunakan pelbagai media massa dan dengan nama-nama yang menggiur jiwa. Di antara mereka adalah Sir Sayyid Ahmad, pendiri Universitas Islam Alleygreh di India, Ahmad Luthfi Ustadz Al-Jil, dan Qasim Amin Nashirul Mar’ah di Mesir. Mereka juga melakukan hal yang sama di negara Irak, Iran, dan negara-negara Islam lainnya. 

Sangat wajar jika kemudian terjadi bentrokan antara mereka dan para pembela rasionalitas Islam yang murni. Tentu hal ini membuat kaum imperialis dan antek-anteknya serta orang-orang yang terpesona dengan mereka merasa terpukul. 

Senjata yang paling efektif yang mereka gunakan untuk memerangi Islam ialah giat dengan dalih  mengenalkan Islam, sejarah, dan para tokohnya, seperti yang telah dilakukan oleh Sir Sayyid Ahmad ketika ia—menurut  klaimnya—menulis  tafsir  Al-Qur’an dan George Zaidane dalam narasi kisah-kisahnya (Al-Qishash). Mayoritas usaha dan guru-guru orientalis mereka menyimpan satu  tujuan,  yaitu—seperti  yang  telah  ditegaskan  oleh salah seorang dari mereka bahwa, “Agama tidak akan dapat dibunuh kecuali dengan pedang agama.” 

Dalam rangka merealisasikan misi tersebut secara sistematis, mereka mulai menafsirkan Al-Qur’an, menjelaskan hadis-hadis Nabi  saw, dan menulis buku yang memuat sejarah beliau dan  para  Imam Maksum as. Dengan begitu, mereka berusaha menjauhkan hubungan manusia dengan alam gaib dan menjelaskan semua itu sebagai suatu kejadian biasa pada manusia  umumnya. 

Kemudian  mereka  mengisyaratkan secara  sangat samar—dan kadang-kadang  menegaskan  dengan  terang-terangan—bahwa setiap pribadi dari mereka dan segala sesuatu yang ada dalam agama Islam sangat  relevan  hanya  pada  zamannya  dan  hanya bermanfaat  bagi  umat manusia  kala  itu. Ada pun sekarang, kita perlu mengembangkan dan memperbaharui  Islam  supaya  dapat  sesuai  dengan tuntutan  zaman  dan kebutuhan orang-orang yang hidup sekarang ini. 

Dengan senjata yang dampaknya tidak diketahui oleh semua orang itu, mereka lebih merugikan Islam dan kaum Muslimin daripada sebagian politikus yang berperan sebagai antek para impersialis kafir di negara kita dan yang telah ditunjuk sebagai penguasa di negara-negara Islam. Sebab, dalam perang pemikiran ini, mereka akan memutar-balikkan realita Islam; kadang-kadang dengan dalih memperkenalkan  Islam,  atau  juga  dengan label “Islam Progresif” dan “Islam Kompatibel dengan Tuntutan Zaman”. 

Dari  seluruh  penjelasan di  atas,  tampak  dengan  gamblang  bahwa kaum Muslimin saat ini—setelah Islam mengalami perang pemikiran itu—sangat  memerlukan sebuah  kajian  yang  komprehensif  berkenaan  dengan pandangan seluruh aliran Islam. 

Tentu  sebagian  kaum  Muslimin  berpandangan  bahwa  membiarkan semua  itu  justru  lebih  baik,  karena  dapat  menjaga  persatuan  Muslimin! Kami  tidak  mengerti  bagaimana  mereka  dapat  berpandangan  seperti  ini, padahal masih banyak kaum Khawarij yang pondasi akidah mereka tegak di  atas  pengkafiran  seluruh  kaum  Muslimin. Mereka menganggap bahwa hanya diri mereka yang muslim, dan selain mereka adalah musyrik. Hanya dengan  alasan berlepas tangan  dari  Khalifah  Utsman,  Imam  Ali  as, Ummul Mukminin ‘Aisyah, Thalhah, Zubair, Mu‘awiyah, ‘Amr bin  Al-‘Ash, dan orang-orang  terlibat  bersama  mereka,  lalu  mereka  melaknat seluruh kaum Muslimin? 

Bagimana mereka dapat berpandangan seperti itu, padahal masih ada di antara Muslimin  yang  menziarahi  makam  Nabi  saw dan para imam kaum Muslimin. Dari ziarah itu, mereka ingin mendapatkan keberkahan, syafaat, dan bertawasul  melalui  mereka  di  haribaan Allah. Namun  masih ada juga di antara  mereka  yang  memandang semua  itu  adalah perbuatan syirik, keluar dari Islam, dan bid‘ah yang diharamkan. Karena perbuatan itu, mereka  memandang  bahwa  seluruh  kaum  Muslimin  setelah  abad ketiga  Hijriah  hingga  sekarang adalah orang-orang  musyrik. Mereka telah menghancurkan masjid-masjid Muslimin yang  telah  dibangun  di  jalan menuju  gua  Hira’ dan  tempat-tempat  yang  penuh  berkah  lainnya, termasuk makam para imam Muslimin, ummul mukminin, paman, putra, dan  sahabat  Nabi  saw, serta syuhada Uhud. 

Sedangkan para pengikut Yahudi  dan  Taurat  dan  tempat-tempat  peribadatan  mereka,  atau pun kaum  Kristian  dan  Gereja-gereja  mereka  tidak  pernah  diperlakukan  demikian. Padahal di dalam tempat-tempat peribadatan  itu  banyak tersimpan kayu-kayu  salib  dan  patung-patung  Isa  dan  Maryam  as, bahkan  mereka menegaskan bahwa Isa as adalah tuhan mereka lantaran kepercayaan mereka akan Trinitas. 

Lebih  dari  itu,  kelompok  muslim  itu  berdamai  dengan mereka dan tidak berani mengatakan kepada mereka bahwa kalian semua adalah orang-orang musyrik. Kemudian, masalah-masalah di atas ini dan semacamnya tidak hanya secara khusus  terkait  dengan  pribadi seorang  Muslim,  seperti  masalah melepas  kedua  tangan  dalam  salat yang diamalkan oleh fikih  mazhab Ahlul  Bait  as dan mazhab Mâlikiyah,  sedangkan  para pengikut mazhab Hanafiyah dan Hanbaliyah berpendapat  bahwa bersedekap  dalam salat adalah wajib. 

Ini berbeda dengan masalah di atas yang menyangkut elemen dasar  masyarakat Islam; dimana kita harus memilih antara mempertahankan akidah ini dan menghancurkan akidah itu atau sebaliknya. Juga seperti perbedaan pendapat dalam membasuh atau mengusap kedua kaki dalam  wudhu; di mana  seorang Muslim dapat beramal sesuai dengan hukum yang diyakininya, baik atas dasar ijtihad maupun taqlid, sedangkan seorang Muslim lainnya juga dapat beramal sesuai dengan hukum yang diyakini, baik atas dasar ijtihad maupun taqlid. Tentu mereka dapat hidup bersama dengan penuh kerukunan dalam sebuah masyarakat Islami. 

Semua masalah itu bukanlah semata-mata masalah politik yang tidak berlandaskan agama; yang  kalaulah  demi  menjaga  persatuan  kaum Muslimin kita dapat memakluminya. Penerbitan jutaan tiras buku seperti buku  Wa Jâ’a Daur Al-Majûs  yang  menggunakan  nama-nama  palsu  atau-pun  asli,  pembiayaan  sebagian  negara  untuk  proyek  semacam  ini  dalam rangka  mengatributkan  ‘Keluar  dari  Islam’  kepada  kelompok  besar  dari kaum  Muslimin,  dan  pengeluaran  milyaran  uang  untuk  menyebarkan propaganda  ‘orang-orang  Islam  selain  mereka  adalah  musyrik’  di  pusat-pusat  kajian  agama,  masjid-masjid,  dan  sekolah-sekolah,  di  samping pengiriman ribuan utusan ke seluruh penjuru dunia untuk menyebarkan propaganda  tersebut  dari  satu  sisi,  semua  ini  tidaklah  semata-mata  bermotif politis; tanpa ada dasar agama. 

Begitu juga, semua itu bukanlah persoalan yang dibuat oleh kaum imperialis  guna  menciptakan perpecahan di tengah  Muslimin  sehingga kita  punya  alasan  untuk  tinggal  diam  dalam  menyikapinya.  Bahkan, persoalan itu sudah ada dan umum di tengah masyarakat Islam sejak masa Ahmad bin Hanbal; Imam Hanbaliyah  (wafat  240  H.)  dan Syaikh Ibn Taimiyah  (wafat  728  H.) sebagai penerus  aliran pemikirannya. Bahkan, demikian itu telah terjadi jauh sebelum dan setelah masa mereka berdua hingga hari  ini. Sesungguhnya pembunuhan  ratusan  ribu  Muslimin  dan pembakaran perpustakaan-perpustakaan mereka di sepanjang masa sejarah dan di berbagai negara adalah bukti terkuat atas klaim kami itu. 

Dengan demikian, semua masalah itu termasuk persoalan yang dapat dimanfaatkan secara politis oleh penguasa atau imperialisme kapan saja mereka menghendakinya, tentunya jika semua itu tidak segera dituntaskan. Kemudian, semua masalah itu—seperti telah kami tegaskan—telah mengkristal menjadi sebuah keyakinan yang mendalam, sementara  umat diam  seribu  bahasa  dalam menyikapinya. Tentu, sikap ini tidak akan pernah mewujudkan sebuah persatuan, kedekatan, dan rasa saling memahami di antara Muslimin, bahkan itu dapat memperdalam luka, memperluas jarak perpecahan, dan memperpanjang masanya. (bersambung)

Sumber tulisan dari buku Ma'alim Madrasatain karya Sayyid Murtadha Askari. Jilid 1. PDF (Penerbit Lembaga Internasional Ahlulbait, 2008).


Sat, 4 Jul 2020 @06:52

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved