Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Imajinasi Kreatif Legasi Peripatetik [by Nano Warno]

image

Ada tiga karakter yang istimewa dari para filsuf Islam garda depan sejak Ibnu Sina, Suhrawardi dan Mulla Sadra, yaitu kecerdasan intelektual,imajinasi kreatif dan aktifitas sosial. Masing-masing akan dibicarakan secara khusus. Dalam tulisan ini saya ingin menguliti imajinasi kreatif lbnu Sina. Imajinasi sangat penting karena akan membuat seseorang menjadi kreatif. Menurut para ahli orang-orang kreatif  dapat menjadi pemimpin dalam segala bidang, eksponen kebudayaan, seni, dan teknologi. 

Para filsuf berbeda pendapat tentang esensi dan posisi imajinasi. Di barat sendiri, imaginasi masih memiliki status yang ambigu. Menurut Michael Beaney dalam bukunya Imagination and Creativity mengatakan menurut Plato creative imagination only operate in momen of ectasy; moment which person stand out herself. Dengan pandangan ini Plato menganggap imajinasi adalah musuh bagi rasio. Senada dengan Plato, Descartes meyakini imajinasi tidaklah esensial dan patut diragukan karena merupakan wilayah otak. Sementara muridnya Aristoteles menyebut imajinasi sebagai phantasia yaitu jembatan indrawi dan nalar. Immanuel Kant menganggap imajinasi sebagai hal yang fundamental "not  only bring together our sense and intelect faculty but all act in creative way" dan telah telah menginspirasi aliran romantisisme dan juga puisi-puisi karya Coleridge dan Wordsworth.  

Einstein mengganggap berpikir saintifik tidak begitu penting, yang lebih penting adalah imajinasi sebab imajinasi tanpa batas. Kita dapat berimajinasi tentang apa saja bahkan hal-hal yang mustahil terjadi sekali pun. Al-Quran sendiri menyuguhukan imajinasi yagn  mustahil untuk mengantarkan pada kebenaran: tersebar di dalam al-Quran ayat-ayat yang merangsang imajinasi kita, memikirkan yang mustahil. Hanya lewawti imajinasi yang mustahil itu dapat divisualisaikan lewat bahasa: Misalnya al-Quran mengatakan  jika ada dua tuhan (law kana fihima alihatun), jika tuhan punya anak, jika matahari terbit di sebelah barat, dan dan dalam riwayat  frase-frase yagn memancing imajinasi itu sangat banyak sekali. Law kana fihima alihatun, misalnya  adalah frase yang mustahil, namun itu dapat mengantarkan orang kepada keyakinan tauhid. Al-Quran berandai-andai tentang hal-hal yang mustahil. Ayat lain yang paling jelas menantang imajinasi masyarakat manusia dan bahkan masyarakat jin: 

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

فَانْفُذُوا  لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ [٥٥:٣٣]

Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu).” 

Memperhatikan konteks situasi di zaman itu, tantangan itu adalah tantangan yang ambisius, dan mungkin dianggap absurd, mustahil. Tetapi al-Quran kemudian menepis bahwa tidak ada yang mustahil jika kalian menggunakan sultan. Sebagian mufasirin menafsirkan sultan dengan ilmu. Al-Quran seolah-olah ingin mengatakan selama itu bukan kemustahilan aqli seperti bertemu dua hal yang kontradiksi maka itu adalah hal yang mungkin. 

Imajinasi kreatif Ibnu Sina    

Hal yang paling nyata dan terang tapi sekaligus tersembunyi dari sebagian para pelajar peripatetik terutama Ibnu Sina adalah kreatifitas imajinasi. Ibnu Sina di tengah-tengah aktivitas yang luarbiasa dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, dan jaringan sosial, ia adalah seorang pemikir brilian yang selalu fokus memeras otak untuk membuktikan teori-teori filsafatnya  dan menganalisa gagasan-gagasan para pendahulunya.       

Kreativitas imajinasinya itu menyelip di pengantar argumentasi, di tengah-tengah atau di akhir.  Dan imajinasinya sangat kaya menggambarkan kekayaan batin, serta kelembutan jiwanya. Hanya orang-orang yang memiliki jiwa yang halus, lembut, dan peka yang mampu melihat kejernihan dari segala sesuatu dan melihat lorong-lorong kedalaman yangberlapis-lapis dari setiap masalah. Seorang penyair mengapa mampu mengungkapkan  aforisme-aforisme  yang mengalir bebas seperti hujan yang turun dengan deras tanpa batas. Karena Ia mampu melihat kompleksitas, keharmonisan dan kedalaman.  

Untuk membuktikan eksistensi jiwa, filsuf ini memvisualisasikan ujaran tentang laki-laki yang tergantung di langit, yang vakum udara. Dalam membuktikan eksistensi dan epistemologis waktu, Ibnu Sina memancing imajinasi tentang dua benda yang bergerak dari tempat yang sama dan waktu yang sama  dan sampai pada titik yang sama dalam waktu yang sama, sementara benda yang pertama memiliki pergerakan yang cepat dan benda yang kedua pergerakannya lambat.

Menurut guru saya, seorang murid yang sering melatih menyelesaikan persoalan matematika akan memiliki pikiran yang tajam, peka, dan jernih.

Status imajinasi atau khayali ini dalam epistemologi bukanlah mempersepsi. Imajinasi (daya khayal) adalah asisten bagi persepsi (idrak). Tapi menjadi bagian dari indra batin jiwa. ***

Nano Warno, Doktor bidang Filsafat Islam

Sat, 4 Jul 2020 @07:25

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved