Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Tabayyun kepada Pemuda (Muslim) Syiah [by Neng Nuraeni]

image

Kita bisa bayangkan bagaimana jika kita berdiam diri membiarkan kebodohan merajalela di kalangan masyarakat. Kebodohan seperti apa yang sering terjadi pada masyarakat? Berani menghakimi sebelum memahami. Ya. Itulah yang sering terjadi pada salah satu komunitas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yaitu Muslim Syiah. 

Apa akibatnya jika kebodohan seperti itu tetap dibiarkan? Jelas, intoleransi akan merebak dan terawat pada setiap generasi. Jika intoleransi tetap terjadi, akankah dunia ini menjadi tempat yang aman bagi manusia? Jelas, jawabannya tidak. Sebagai bentuk kepedulian terhadap persatuan umat, saya bermaksud untuk membuat konten bertajuk Tabayyun kepada Pemuda (Muslim) Syiah

Harapannya, konten seperti ini dapat mengikis kebodohan tersebut sedikit demi sedikit. Karena saya yakin, pencerahan seperti ini akan mengubah pikiran manusia yang sebelumnya diliputi prasangka (meski hal ini hanya dapat berlaku pada orang-orang yang bersih hatinya). 

Sebagai umat Rasulullah Saw yang menjunjung tinggi persatuan, saya tidak ingin generasi selanjutnya memiliki karakter sama dengan sebagian masyarakat yang lebih dulu darinya, yang masih memiliki sikap intoleran seperti itu. Saya berharap konten ini dapat menjadi bentuk upaya saling memahami satu sama lain, dan bukan saling menghakimi, agar kita bisa saling melengkapi dan mendewasakan diri. 

TKPS #Intro ( https://youtu.be/4sSdN0AtvPQ ). Di dalam video ini berisi pengantar saya terkait maksud dan tujuan saya membuat konten seperti ini. Di dalamnya saya memulai dengan kalimat sebagai berikut: “Masih banyak ternyata orang-orang yang beranggapan bahwa Muslim Syiah adalah (Muslim) yang menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw. Padahal, tidak seharusnya kita beranggapan seperti itu. Karena apa? Syaikh Al-Azhar pernah mengatakan bahwa Muslim Sunni dan Muslim Syi’ah ibarat dua sayap pada burung. Jika salah satunya lumpuh, maka burung itu tidak akan bisa terbang secara utuh.” 

Saya sengaja mengawali konten saya dengan kutipan Syaikh al-Azhar tersebut, karena saya merindukan persatuan dan persaudaraan sebagaimana yang dicita-citakan oleh Rasulullah Saw. Burung itu diibaratkan Islam yang mempunyai dua madzhab besar yang tidak bisa dipungkiri merupakan warisan dari sejarah kelam Islam. Akan tetapi, sebagai umat yang bijak tentunya kita jangan terus memanasi hasil sejarah itu dengan kebencian, prasangka, dan permusuhan. 

Sekarang kita bayangkan jika Rasulullah Saw ada di hadapan kita. Kemudian kita tanya kepada Beliau Saw, ‘Ya Rasulullah, apakah engkau Sunni atau Syiah? Apakah engkau memihak pada madzhab yang tidak mempercayai wasiatmu atau madzhab yang mempercayai wasiatmu?” Tentu Rasulllah Saw, manusia suci yang penuh teladan tersebut tidak akan memilih salah satunya. Beliau Saw akan menjawab, Aslamtu, saya Muslim. Saya orang yang berpasrah diri kepada Allah. Saya menyebarkan Islam yang Rahmatan lil’alamin (berkasih sayang kepada seluruh alam dan segala isinya), bukan Rahmatan lil mutamadzhibin (berkasih sayang kepada sebagian madzhab atau golongan) saja. Sudah saatnya kita melek sejarah. Kita jujur dan terima dengan lapang dada bahwa Islam memiliki dua madzhab besar yang harus kita sikapi dengan bijak. 

Dalam video tersebut juga saya menjelaskan bahwa adanya konten ini karena masih banyak orang yang melihat Muslim Syiah secara tidak objektif. Mereka masih memilih mengetahui Muslim Syiah versi google dan youtube yang cenderung menilai Syiah bukan berdasarkan apa yang diyakini Syiah itu sendiri. 

Mereka sering berdalil menggunakan kitab-kitab rujukan Syiah (meski pun itu juga hanya mengutip atau hanya sepotong) seakan-akan hal itu diakui oleh kalangan Muslim Syiah sendiri. Padahal bagi orang-orang yang mengetahui ilmu hadits, tidak semua hadits atau riwayat yang tercantum dalam kitab madzhab tertentu itu diakui semua oleh madzhab tersebut, baik madzhab Sunni maupun madzhab Syiah. 

Kesalahpahaman berikutnya yang sering terjadi adalah karena cara berpikir yang salah yang menganggap bahwa standar kebenaran itu adalah kebanyakan orang (mayoritas). Sebagai contoh, mereka menganggap ketika ada yang berbeda dengan Muslim Sunni atau Ahlusunnah wal Jama'ah, langsung cap salah dan sesat. Padahal, kalau kita mengaku sebagai Muslim maka standar kebenaran yang kita gunakan haruslah al-Quran dan Sunnah Nabi Saw. 

Hal itu bisa dilihat dari komentar-komentar yang masuk pada channel saya di konten TKPS #Intro yang cenderung menyerang dengan fitnahan-fitnahan mainstream yang selalu dilontarkan pada Muslim Syiah. Memang hal itu terdengar membosankan. Tetapi jika hal ini dibiarkan, saya yakin kebencian terhadap Muslim Syiah ini akan terus diwariskan pada generasi-generasi selanjutnya. Saya miris membayangkannya. Oleh karena itu, saya sebagai generasi muda bergerak melawan itu semua. Saya mengamini perkataan pintu kota ilmu Nabi Saw, Sayyidina Ali bin Abu Thalib karramallahu wajhah yang mengatakan bahwa kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik. 

Oleh karena itu, saya mohon doa serta dukungannya terhadap karya saya dan beberapa kawan saya ini, dengan subscribe channel, like, serta bagikan konten ini seluas-luasnya. Semoga Allah luaskan keberkahannya dan Allah lindungi siapa pun yang tulus membela serta melindungi kemuliaan agama Allah dengan cara yang bijak dan mendamaikan. Aamiin. ***       

Berikut link TKPS #Part 1 ( https://youtu.be/mydrN6Yf_3E ) 

NENG NURAENI, mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan pemilik https://salamdamaisite.wordpress.com/2020/07/04/tabayyun-kepada-pemuda-muslim-syiah-tkps/

Sat, 4 Jul 2020 @14:29

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved