Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

ISHARI, Hakim dan Ingatan Masa Kecil (1) [by Aris Syariati]

image

Sayup sayup, malam ini, aku mendengar rampak Terbang ditabuh mengiringi Shalawat Hadrah dari dusun Ngepeh desa Rejoagung Kecamatan Ngoro Jombang. Dari desa tetangga dari kawan SMA Ngoro, Hari Budiono, sahabat yang justru kukenal hingga akrab (lebih dekat), justru ketika keluar dari SMA.  

Memori mengembalikanku pada masa kanak-kanak, ketika Ayah mengajakku menghadiri Acara Shalawat Hadrah Jawa Timur di daerah-daerah di Jawa Timur. Acara ini biasa dihelat ketika Haul Para Wali Songo area Jawa Timur. 

Aku yang masih kecil kala itu diajak oleh ayah bersama rombongan dari Pengurus ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia) afdeling Pare, menaiki bak truk menuju acara yang mistis ini. Yang aku ingat, aku pernah diajak dalam acara ISHARI menuju; Makam Mbah Ismail Kedung Maling Mojokerto, Mbah Karimah (Mertua Sunan Ampel), Kembang Kuning Surabaya, Makam Mbah Sunan Bungkul, Makam Sunan Giri, Makam Sayyid Sulaiman Mojoagung, dll. Tentu acara ini tidak dihelat tepat di makam (maqbarah) beliau beliau, tapi di masjid-masjid yang dibangun oleh beliau-beliau. 

Konon, Shalawat Hadrah ini dianggit oleh seorang Kyai dari Pasuruan untuk menghalau serangan dari pasukan Belanda. Dengan menabuh terbang dan melantunkan Shalawat Hadrah; Rādat, Bi Syahrin, Tanaqalta, dll, konon Serdadu Belanda tidak bisa melihat kanan kiri, depan belakang, atas bawah, terhalang oleh karamah shalawat hadrah. Konon juga, dengan sholawat ini, langit terbuka dan orang alim arif bisa melihat Tentara ghaib dari bangsa malaikat turun membantu Pasukan Santri Pribumi untuk memukul mundur serdadu Belanda. 

Mbah Hadi adalah Pembaca Radat dari Mojoagung. Maka jika Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) sebagai Putra Jombang menghelat acara 'Seribu Terbang' di Pendopo Trowulan dalam tajuk 'Banawa Sekar' dengan seribu penerbang yang membaca shalawat sambil menari Saman ini, tidak diragukan, beliau sedang berusaha nguri-nguri budaya Santri yang hampir hilang ditelan oleh isme-isme yang datang belakangan. 

Adikku yang masih bayi di tahun 1993, Muhammad Luqman Al-Hakim, di-aqiqahi dengan mengundang Jama'ah Shalawat Hadrah. Dengan pukulan terbang dan shalawat hadrah ini, dia dikelilingkan untuk dipotong rambutnya, tidak ada tangis kaget saat terbang dipukul. Hari ini, Thole Hakim, aku memanggilnya, menjadi remaja yang tidak kagetan dan nggumunan. *** (bersambung)

Rejoagung, 10 Juli 2020

Aris Syari'ati, Comandante

 

Sat, 11 Jul 2020 @06:18

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved