Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Ghadir Khum: Sebuah Peristiwa yang tidak Terbaca Kelompok Sunni [by Ruwaidah Anwar]

image

Pernahkah kita berinsiatif untuk belajar atau sekedar membaca bagaimana kehidupan dan keintiman Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘Anhu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik saat Beliau saw masih hidup maupun selepas kewafatannya? 

Jum’at, 7 Agustus 2020 seorang teman baik yang sedang studi filsafat Islam di Teheran mengunggah sebuah video di Whatsapp-nya. Nampak dari video tersebut kembang api mengudara di antara gedung-gedung apartemen. Nampak juga seorang pria sedang berusaha mengipas api di salah satu balkon seberang apartemen. Di caption snapgram itu dia menulis “Selamat Hari Raya Idul Ghadir bagi yang merayakan.” 

Tentu saja caption tersebut menggelitik rasa penasaranku. Sejurus kemudian aku bersegera untuk bertanya kepadanya. 

“Perayaan apa ini kak?” Cepat sekali ia membalas.

“Perayaan hari ketika Rasul melantik/ mengangkat tangan Ali dan mengumumkan sebagai pemimpin umatNya. Di Syi’ah menjadi salah satu hari besar kak!” 

Jujur, penulis tidak punya pengetahuan yang mendalam tentang Syi’ah, apalagi perihal peristiwa Idul Ghadir. Dalam beberapa literatur keislaman, sebut saja tentang buku-buku sejarah Nabi Muhammad saw, penulis belum mendapati kisah tentang Ghadir Khum. Maka, tulisan ini merupakan refleksi pribadi dari seorang yang mendaku penganut Sunni yang pengetahuannya amat terbatas tentang Syi’ah. Dari sini saya berharap menuntaskan rasa penasaran lewat bacaan-bacaan yang ada. 

Peristiwa Ghadir Khum

Peristiwa Ghadir Khum, menurut ulama kenamaan Syi’ah, Grand Ayatollah Naser Makarem Shiraz, diriwayatkan oleh seratus sepuluh ulama muslim (bersifat mutawattir), seperti kitab sunan Ibn Majah, Musnad Ahmad ibn Hambal dan Sunan Tirmidz. Salah satu hadisnya termaktub dalam Sunan Ibnu Majah: 

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ سَابِطٍ وَهُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ قَدِمَ مُعَاوِيَةُ فِي بَعْضِ حَجَّاتِهِ فَدَخَلَ عَلَيْهِ سَعْدٌ فَذَكَرُوا عَلِيًّا فَنَالَ مِنْهُ فَغَضِبَ سَعْدٌ وَقَالَ تَقُولُ هَذَا لِرَجُلٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ الْيَوْمَ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ  

 Terjemahannya: Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Muhammad] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Musa bin Muslim] dari [Ibnu Sabith] -yaitu Abdurrahman- dari [Sa'd bin Abu Waqqash] ia menuturkan; Mu'awiyah tiba dari sebagian pelaksanaan ibadah hajinya, lalu masuklah Sa'd menemuinya, mereka memperbincangkan Ali dan menggunjingnya. Maka marahlah Sa'd seraya berkata: "Kamu katakan ini kepada seorang lelaki yang aku sendiri mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali (juga) walinya." Dan aku mendengarnya bersabda: "Kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja tidak ada Nabi setelahku." Dan aku mendengarnya bersabda: "Sungguh aku akan memberikan bendera pada hari ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya." (Sunan Ibnu Majah hadis nomor 118) 

Mendapati riwayat hadis tersebut, memberikan informasi kepada kita semua bahwa Imam Ali merupakan sosok yang istimewa dan amat masyhur “keterpilihannya” di dalam riwayat kitab-kitab hadis. Bahkan, Makarem Shiraz menyebutkan keterpilihan tersebut termaktub dalam firman Tuhan (Q.S. Al-Maidah : 67). Inilah yang penulis maksud sebagai keintiman Imam Ali kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw. 

Peristiwa Ghadir Khum terjadi pada 18 Dzulhijjah tahun 10 H (15 Maret 632 M). Tujuh puluh hari sebelum kewafatan Rasulullad saw. Ghadir Khum sendiri artinya kolam Khum. Kolam tersebut berada di dekat Juhfa, sebuah wilayah yang dilalui Nabi saw dan rombongannya setelah berziarah ke Mekkah dan sedang menuju kembali ke Madinah. Kala itu, Nabi saw telah selesai menyampaikan wahyu Tuhan kepada seluruh pengikutnya. Namun, sebelum beliau wafat, ada banyak pesan yang beliau sampaikan lewat khutbah-khutbahnya. Di kolam ini pulalah beliau menyampaikan potongan terakhir ayat Al-Maidah ayat 3: 

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Menurut Vahid Majd, pesan Nabi saw ini amat unik. Sebab, dalam pidatonya ini Nabi saw mengawalinya dengan membaca Q.S. Al Maidah ayat 67 (keterpilihan/keistimewaan Imam Ali r.a.) dan mengakhirinya dengan Al Maidah ayat 5 di atas. Selain itu, pidatonya tersebut diminta untuk disebarluaskan secara detail kepada siapapun khalayak (tua dan muda) yang tidak hadir dalam perjalanan tersebut. 

Pandangan Ulama mengenai Ghadir Khum

Keistimewaan Ali r.a. telah menjadi polemik yang tidak berkesudahan antara Sunni dan Syi’ah. Sebab perdebatan teologis terkait “konsep imamah” atau “kekhalifahan” di dalam Syi’ah tidak dapat diterima dengan baik oleh sebagian kelompok Sunni. Tetapi, penulis tidak akan langsung menyentuh sentimen-sentimen terhadap konsep tersebut dalam artikel ini. Rupanya pandangan mengenai peristiwa historis Ghadir Khum ini juga ditanggapi secara beragam oleh beberapa ulama. Inilah yang hendak saya bagi dalam tulisan ini. 

Pertama, saya cukup kaget, ulama salaf sekaliber Rasyid Ridha, dalam tafsir Al Manarnya mengakui adanya peristiwa Ghadir Khum. Padahal selama ini, (berdasarkan pengetahuan penulis), Ridha dicitrakan sebagai ulama “salafi” yang seolah-olah didekatkan dengan cara berpikir Syi’ah alias disyi’ah-syi’ahkan oleh kelompok yang pro terhadap Syi’ah. Tetapi, jika berbicara tentang pribadi Rasyid Ridha, ditilik dari nasabnya beliau merupakan keturunan ahlul bait. Dan di dalam kitab tafsirnya, beliau menjelaskan peristiwa Ghadir Khum. 

Menurutnya peristiwa tersebut tidak eksplisit sebagai peristiwa pengangkatan Ali r.a. sebagai Nabi, melainkan peristiwa seremonial dimana Nabi saw mengistimewakan para sahabatnya sebelum beliau wafat. Selain itu, Sayyidina Ali sendiri tidak pernah mengklaim dirinya sebagai pemimpin sampai pada akhirnya beliau terpilih sebagai khalifah keempat pasca kematian Utsman Ibn Affan. Menurut penulis, apa yang disampaikan oleh Rasyid Ridha sangat masuk akal dengan inti ayat Al Maidah ayat 67, bahwa Nabi saw wajib menyampaikan amanat-Nya, tidak hanya secara khusus kepada Ali, melainkan kepada seluruh umat Islam. 

Jika Rasyid Ridha memberikan argumen yang cukup universal, berbeda halnya dengan apa yang disampaikan oleh Makarem Shiraz. Menurutnya, keterpilihan Ali dalam peristiwa Ghadir Khum diriwayatkan oleh seratus sepuluh rawi yang artinya riwayat tersebut mutawattir. Hal ini pula yang menjadi legitimasi, mungkin oleh umumnya kalangan Syi’ah, bahwa model kepemimpinan berdasarkan keterpilihan yang “illahiyat” sebagaimana yang dialami Ali dalam peristiwa Ghadir Khum merupakan model pergantian kepemimpinan yang ideal dalam misi kenabian dari Adam a.s. hingga Rasulullah saw. 

Jika dua ulama di atas memberikan dua pandangan yang sama dengan pendekatan yang berbeda, maka ada pula ulama yang secara mutlak menolak peristiwa Ghadir Khum. Misalnya Al Hakim, Al Bahaqi, Imam Malik, dan Al Khatib Al Baghdadi yang menyatakan bahwa keterpilihan Ali merupakan klaim yang dibuat oleh Syi’ah Rafidhah. Bahkan ulama-ulama ini menolak riwayat-riwayat yang mengistimewakan keterpilihan Ali. Mereka tidak dapat menerimanya karena bertentangan dengan sabda Nabi saw bahwa pegangan yang paling kuat setelah kewafatan beliau adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. 

Ibnu Taimiyah juga merupakan ulama yang menolak peristiwa Ghadir Khum. Menurutnya, kalimat di dalam hadis-hadis yang menyebutkan Ali sebagai wali setelah kewafatan Rasulullah saw adalah kalimat yang ditambah-tambahi oleh kelompok Syi’ah untuk mendukung teologi mereka terkait konsep imamah. 

Penghormatan Syi’ah terhadap Imam Ali RA

Jum’at, 18 Dzulhijjah 1441 H, kembang api menghiasi negeri Syi’ah. Warga memasak dan makan bersama. Toko-toko tutup sejak sore hingga hari raya. Mereka serentak berziarah ke makam para syuhada. Begitulah kira-kira tradisi Idul Ghadir di Iran. 

Setelah membaca literatur terkait Ghadir Khum dan mengetahui bagaimana masyarakat Iran merayakannya saat ini, penulis menjadi begitu khawatir terhadap diri sendiri. Rupanya penulis amat miskin pengetahuan dan pandangan mengenai Syi’ah. Tidak banyak literatur yang otoritatif kita jumpai untuk mengakses bagaimana sesungguhnya kepribadian Ali r.a. Beliau begitu sangat diistimewakan oleh Rasulullah saw, bahkan lelaku luhurnya menjadi panutan secara turun temurun oleh kalangan Syi’ah, misalnya dalam proses berpikir kritis dan intelektualisme. 

Terlepas dari polemik dan beragam pendapat ulama mengenai peristiwa Ghadir Khum, secara historis semestinya kita belajar bagaimana Nabi saw menempatkan sahabat baiknya dalam berdakwah. Sunni dan Syi’ah adalah saudara seagama. Kesakralan masing-masing konsep teologis baiknya kita hormati dan tidak mempertajam perbedaannya. Kebahagiaan Idul Ghadir bukan hanya milik Syi’ah, tetapi milik kita semua umat Islam yang mengakui bahwa Ali r.a. adalah sosok panutan dalam perjuangannya berdakwah bersama Nabi Muhammad saw. ***

RUWAIDAH ANWAR, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Referensi

Majid, Vahid. The Sermon of Prophet Muhammad (PBUH) at Ghadir Khum. Tehran: Naba Organization, 2005.

Khair, Nurul dan Achmad Assegaf. Melacak Peristiwa Ghadir Khum dalam Sejarah Peradaban Islam: Studi Analisis Terhadap Ragam Pandangan Teolog Muslim. Universitas Internasional Ahlul Bait, Tehran dan Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra, Jakarta.

Fata, Ahmad. Hadits Ghadir Khum, Mandat Kepemimpinan untuk Ali?”. Jurnal Studi Islam STAI PERSIS GARUT, Vol. II, No. 3, 2017.

Sat, 8 Aug 2020 @07:49

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved