Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Syekh Ali Jaber dan Keawaman Kita [by Aris Syariati]

image

Namanya Syaikh Ali Jaber. Dalam waktu singkat menyedot perhatian netizen atas informasi berita yang beredar secepat kita mengedipkan kelopak mata kita hari ini. Beliau ditusuk oleh oknum saat memberikan ceramah di salah satu Masjid di Lampung.  

Dua gabungan nama Sahabat Rasulullah ini mengingatkan kita pada dua sosok; Ali ibn Abi Thalib dan Jabir ibn Abdullah Al-Anshari. Sahabat Jaber hidup hingga usia 94 tahun dan syahid diracun oleh Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Selama hidup, Jabir mengikuti beberapa peperangan dari Masa Rasulullah hingga ikut serta dalam peperangan bersama Sayyidina Ali dalam perang; Jamal, Shiffin hingga Nahrawand. Tidak bisa bergabung membela Sayyidina Husain di Karbala, karena sudah mulai buta. Menunggu Imam Muhammad Al-Baqir untuk menyampaikan salam dari Kakek buyutnya, Rasulullah.  

Sementara kita tahu, Sayyidina Ali ibn Abi Talib dibunuh oleh tetakan pedang beracun Abdurrahman ibn Muljam saat Shalat Subuh. Sejarah menarasikan; kehormatan seorang mukmin atas mukmin lainnya, hamba dengan hamba, merdeka dengan merdeka, adalah qishash. Sayyidina Ali masih bertahan menahan racun yang sudah menyebar dalam tubuhnya hingga tiga hari, dengan selalu memberi perhatian khusus pada tawanan yang bernama Ibnu Muljam itu; nginterogasi dengan komunikasi yang penuh belas asih, tetap memberi makan dan minum, melonggatkan ikatan tangan Ibnu Muljam, hingga pada keputusan qishash atas aksiden yang terjadi pada Sayyidina Ali. Sekiranya Sayyidina Ali masih hidup, mungkin sejarah akan berkata lain, 'Jika Kau menang atas musuhmu, jadikan permaafan (forgiveness) sebagai ungkapan rasa syukurmu', demikian sabda Sayyidina Ali. 

Syaikh Ali Jaber hari ini, mungkin dianggap mewakili nama manusia-manusia mulia di awal Islam, Sayyidina Ali dan Sahabat Jabir bin Abdulllah. Tafa'ul ini mengingatkan kita pada peristiwa di Masa Umayyah hingga Abbasiyah, di mana Nama Ali, Hasan, Husain, dan Ahlul Bait lainnya berusaha dihapus dari ingatan kaum muslimin. Dilaknat di mimbar-mimbar Jum'at, dikejar-kejar untuk dibunuh, direpresi hingga dipersekusi. 

Saat ISIS/ISIL hendak menguasai Irak dan Syiria dengan Daulah Islamiyyahnya, konon orang-orang yang bernama Ali, Hasan, Husain, didata untuk dibunuh dengan kekejaman yang tidak mencerminkan orang beragama dan berperikemanusiaan, disembelih laksana binatang ternak. 

Blaming the victims atas Syaikh Ali Jaber mungkin adalah sisa-sisa kekejian dan kekejaman itu. Indonesia yang selalu menjadikan konflik horisontal itu bisa jadi karena kengawuran kita menulis status di media sosial. Sharing sebelum saring. Alih-alih intelektualitas dijunjung tinggi dengan menulis status peduli, empati, simpati, padahal justru semakin merenggangkan relasi yang sedang dibangun, berupa; Persatuan Islam, muqāranah bainal madzahib fi al-ushul, dialog sunnah-syi'ah. Hari ini kita diajak untuk memahami makna 'walayah wal barā'ah', di Media Sosial. Al-walā' wa al-barrā', sehalus mungkin, akan tampak dalam status yang kita share; apakah bernilai hikmah, atau hanya sekedar sampah. 

Namun, kembali lagi pada diri masing-masing. What's in a name, kata Shakespeare, that which we call a rose by any other name would smell as sweet. Syaikh Ali Jaber cedera, bukan karena namanya yang identik dengan nama sahabat yang selama ini dominan digunakan sebagai tafa'ul (tabarruk) oleh Pecinta Keluarga Nabi, tapi juga terlalu sepele-nya kita menjadikan media sosial sebagai keranjang sampah. 

Semoga Syaikh Ali Jaber segera dikurniakan kesembuhan dan kesehatan, berdakwah kembali Islam Cinta tanpa tendensi apa pun. Dan pelaku penusukan, mendapat balasan setimpal dari aparat. Atau mungkin akan mendapatkan permaafan (forgiveness) dari Syaikh Ali Jaber. Wallahu a'lam. ***

Mojokuto, 14 September 2020

Aris Syari’ati

 

 

Tue, 15 Sep 2020 @10:57

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved