Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Hijrah (1) [by F. Adimulya]

image

Sejumlah teman meminta saya untuk menuliskan pengalaman hijrahnya saya dari keyakinan semula (Islam-apa-adanya, istilah saya saja) menjadi Islam-yang-seharusnya. Beberapa kali saya menolak karena saya merasa benar-benar tidak pantas untuk dijadikan narasumber tema seperti itu. Apalah artinya saya, tak punya posisi apa-apa, bukan siapa-siapa juga. ‘Ala kulli hal,  karena alasan tertentu akhirnya saya menuliskan hal ini.

Bahwa buku sebagai sumber ilmu dalam pengertian yang seriusnya—karena kalau sekadar membaca sejak SD setiap pulang saya selalu mampir ke rumah bibi (Bahasa Sunda untuk Tante) untuk membaca komik-komik kepunyaan sepupu saya—baru saya dalami setelah masuk SMA. Di usia SMA itu saya ikut dalam kegiatan Kelompok Studi Antar Pelajar (KSAP) di kota saya, T. Kami pengurus seksi rohani dari berbagai sekolah menengah mengikuti berbagai training yang diselenggarakan kelompok studi itu. Belakangan saya baru tahu bahwa kelompok tersebut merupakan bagian dari organisasi pelajar yang terkenal kontrarezim Soeharto.

Salah salah satu mentor training yang saya sukai adalah AA. Selain memang panggilan untuk yang lebih tua di kultur Sunda adalah AA, itu pun pas dengan namanya sendiri. Darinya kami mengenal para para pemikir Iran seperti Murtadha Muthahhari, Ali Syariati, Ayatullah Khomeini dan yang lainnya. Pemikirannya yang terbuka terhadap keragaman mazhab dan kritis atas kebijakan pengurus pusat KSAP menjadikan dia digelari “Filsuf Abad Kegelapan”. Hal yang tak lazim di dunia pergerakan saat di mana hampir semua organ pergerakan Islam saat itu lebih banyak berkiblat ke Mesir, AA menawarkan kepada kami gagasan-gagasan cerdas dan bernas Murtadha Muthahhari yang nota bene berpaham Syi’ah Dua Belas Imam, satu golongan muslim yang selalu menjadi isu seksi dalam politik dan sering menjadi korban persekusi pihak pembenci.

Sekalipun pemikiran dari Iran banyak dipakai dalam sesi pertrainingan kelompok kami, saat itu saya merasa tidak harus mengkonversi keyakinan Islam-apa-adanya saya dengan Islam-seharusnya. Argumentasi filosofis Muthahhari tentang pentingnya tauhid, ilmu, kedudukan manusia, ataupun posisi agama mengukuhkan kembali keberagamaan saya yang hanya “Islam turunan”, alias sekadar Islam. Namun ketika membahas masalah imamah, keraguan menghantui keimanan saya. Dengan dalil-dalil teologis dari dua mazhab besar Islam, Sunnah dan Syi’ah, plus pembuktian filosofis urgensi imamah, saya tak bisa mengelak bahwa imamah merupakan keniscayaan rasional.  Karena itu, ketika mengikuti level training selanjutnya dari kelompok studi di atas, kami memberikan sumpah setia kami kepada pimpinan kelompok studi tersebut.

1996: Kelahiran Spiritual

Selesai menyelesaikan SMA, saya pindah ke kota B karena berhasil diterima di sebuah PTN. Di sana saya bergabung kembali dengan kelompok studi yang sama di B, yang pengurusnya para senior dari kota T, kota asal saya. Saya dan teman-teman yang lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) indekos di sebuah rumah, yang merupakan salah satu base camp kelompok itu di kota B. Di kota inilah perkenalan saya dengan berbagai aliran pemikiran semakin banyak. Khusus dalam aliran pemikiran keislaman—yang sekarang disebut gerakan transnasional—pemikiran Wahabi berkompetisi dengan Syi’ah. Wahabi yang literalis digandrungi oleh mereka yang asal habitatnya sama. Sementara dari kalangan tradisional tertarik pada pemikiran Syi’ah yang—umumnya—lebih filosofis dan sufistik. Setidaknya ini terlihat dalam karya-karya Muthahhari dan Ayatullah Khomeini.

Penasaran dengan pembuktian teologis atas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib secara khusus dan Ahlulbait secara umum menyusul wafatnya Nabi Muhammad saw, akhirnya saya membaca secara intens karya Abdul-Husain Syarafuddin al-Musawi yang bertajuk Dialog Sunnah-Syi’ah, terbitan Mizan, tahun 1994. Saya menghabiskan waktu selama tiga harmal untuk menuntaskan buku setebal 548 halaman.  Mumpung saat itu lagi musim liburan semester genap tahun 1996. Ibu saya sangat khawatir atas kondisi saya karena terus ngumpet  di kamar. Akhirnya, selepas tiga hari itu Ibu menanyakan buku yang saya baca. Saya jawab secara lugas, apa adanya sesuai yang tertera di buku. Dua pertanyaan Ibu yang sampai sekarang saya masih ingat adalah: Apakah Syi’ah melakukan upacara tahlilan atas arwah yang sudah meninggal? Apakah Syi’ah melakukan doa kunut dalam salat Subuhnya?

Dua pertanyaan yang mungkin receh ini sepertinya menjadi garis demarkasi bagi Ibu saya. Beliau trauma dengan adiknya yang berpaham bahwa tahlilan itu bid’ah sehingga saat adik meninggal, memang tidak ada acara tahlilan. Kata Ibu, “Seperti nguburin hewan mati saja.”

Ketika saya menjawab bahwa umat Syi’ah melakukan upacara tahlil dan berdoa kunut di saat salat Subuh, bahkan berkunut di setiap salat, Ibu bilang, “Kalau begitu kita seikhwan.” Untuk seusia Ibu, persoalan imamah atau kepemimpinan mungkin terlalu rumit untuk dibahas sehingga beliau mengukur ke-ikhwan-an itu dari dua hal tadi. Alhasil, Ibu memahami dan menghormati pilihan saya. Termasuk saat saya menikah muda.

Efek membaca DSS berimbas juga kepada pola interaksi saya dengan teman-teman KSAP lainnya. Saya lebih banyak mengikuti kajian Syi’ah ketimbang rapat dan pertemuan dengan teman-teman KSAP lainnya. Sempat saya “diadili” oleh mereka terkait dengan kegiatan saya tersebut. Persoalan krusial yang kami mengalami deadlock di dalamnya adalah masalah imamah. Pada awalnya, sejak di kota T, secara rasional kami menyepakati perlunya kehadiran seorang imam dan keharusan untuk membaiatnya. Saat itu saya percaya bahwa baiat kepada imam akan menyelamatkan saya dari ancaman sebuah hadis yang menyebutkan bahwa orang yang tidak mengenal imam zamannya, maka matinya dia mati jahiliah.

Pemaknaan hadis itu menjadi berubah setelah saya melihat di kota B, arus pemikiran yang mempersoalkan imamah itu begitu beragam. Dari sekian banyak keragaman itu, perspektif Syi’ah lebih rasional dan dapat dipahami. Nah, titik krusial itulah yang saya singgung dalam “pengadilan” tersebut. Mereka tak mampu menjawab ketika saya mempertanyakan misdak (ekstensi) imam zaman sekarang itu siapa. Mustahil kita memperjuangkan imamah dan menegakkan konsep kepemimpinan tersebut tanpa ada misdaknya. Momen itu saya gunakan untuk menyinggung salah satu kriteria imam universal (ingat ya, universal bukan kelas nasional) adalah keturunan Nabi Ibrahim as, Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Jadi sesuai janji Allah di atas hanya keturunan Ibrahim yang tidak zalimlah yang berhak menjadi imam. Demikianlah seterusnya saya sampaikan apa yang saya ketahui tentang imamah kepada mereka. Mereka hanya diam. Entah karena masalah saya yang “murtad” dari kelompok tersebut, salah seorang petinggi (menengah) mereka pernah berkata begini dalam suatu rapat, “Ada dua hal yang kami tolak dari Syi’ah: imamah dan mut’ah.” Tetapi sebenarnya pada praktiknya mereka sendiri melakukan isu pertama tadi dengan istilah yang berbeda yakni: qiyadat al-‘ulama (kepemimpinan ulama). Hemat saya, istilah tadi bukan lawan dari imamah melainkan lawan dari konsep wilayah al-faqih.

Selain masalah imamah, yang sering jadi perdebatan saya dulu dengan para senior KSAP adalah masalah fikih, khususnya bab salat. Saat itu ada beberapa faksi. Faksi pertama, salat bukan hal yang wajib selama belum ada pemerintahan Islam. Alasannya, Nabi melakukan salat di saat periode Madinah, yakni saat sudah berdirinya Negara Islam Madinah. Dalam periode ini, kita cukup melakukan salat malam saja sebagaimana Nabi memberikan contohnya. Faksi kedua, salat tetap wajib. Hanya saja, karena kita masih sedang safar menuju pemerintahan Islam, salatnya diqasar terus (!). Faksi ketiga, mereka yang melaksanakan fikih ibadah berdasarkan habitat awal. Saya, yang pernah mengaji di Persatuan Islam (Persis), akhirnya memadukan Fikih NU, sebagai akar tradisional saya, dan Fikih Persis. Kelak setelah sedikit mendalami cara ibadah Syiah, saya banyak melakukan kada salat karena kekeliruan beribadah sebelumnya plus menjaga kemungkinan adanya salat yang tertinggal. (bersambung) 

F. Adimulya, penerjemah lepas


Thu, 15 Oct 2020 @13:31

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved