Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Hijrah (2) [by F. Adimulya]

image

Imamah dan Wilayah

Sebenarnya akar permasalahan dua hal di atas, yakni baiat pada imam zaman dan ibadah salat terletak pada pengertian imam itu sendiri berikut fungsinya. Mereka hanya mengambil makna imam dari aspek politik saja—walau sebenarnya terbatas juga maknanya. Dalam pengantar buku “Mazhab Kelima”, Seyyed Hossein Nasr menulis, “Pranata khas Syi’ah adalah imamah dan permasalahan imamah tidak dapat dipisahkan dari permasalahan wilayah atau fungsi esoteris dalam menafsirkan rahasia-rahasia batin Alquran dan syariat. Menurut kaum Syi’ah, pengganti Nabi Islam haruslah orang yang tidak hanya memimpin umat dengan keadilan tetapi juga mampu menafsirkan syariat dan makna esoterisnya … Seluruh etos Syi’ah berputar di sekitar gagasan dasar tentang wilayah, yang sangat dekat hubungannya dengan gagasan tentang kesucian (wilayah) dalam tasawuf. Di saat yang sama, wilayah mengandung implikasi-implikasi tertentu pada level syariat karena Imam, atau orang yang menangani fungsi wilayah, juga merupakan penafsir agama bagi umat beragama, penuntun dan penguasa sahnya (2013: 25-26).

Dengan kata lain, Nasr ingin mengatakan bahwa Imam, sebagaimana halnya Nabi, dalam perspektif Syi’ah adalah seorang pemimpin politik dan pemimpin spiritual (penafsir syariat dan rahasia-rahasia batin Alquran). Lantas apa yang membedakan Nabi dan Imam jika keduanya adalah pemimpin politik dan spiritual?

Allamah Thabathabai (2013: 240) mengatakan bahwa kalau para nabi menerima wahyu, maka para Imam adalah penjaga dan penafsirnya. Para nabi boleh saja tiada, namun para wasinya harus selalu ada. Katanya, “… tidak perlu bagi seorang nabi untuk selalu hadir di antara umat manusia. Namun, sebaliknya, adanya Imam yang mengawal agama Allah harus terus menerus ada bagi manusia. Masyarakat manusia tidak pernah kosong dari kehadiran seorang figur, yang dalam ajaran Islam Syi’ah, disebut Imam, baik yang dikenal maupun tidak dikenal (gaib).”

Lebih jauh tentang wilayah, dengan mengikuti elaborasi Murtadha Muthahhari, Sayid Muhammad Radawi (2007: 91-92) menyebutkan empat dimensi wilayah. Pertama, hak kecintaan dan ketakwaan (wila-e mahabbah). Hak ini menempatkan kaum muslimin di bawah kewajiban untuk mencintai Ahlulbait. Kedua, wilayah dalam bimbingan rohani (wila-e imamah). Hak ini mencerminkan kekuasaan dan wewenang Ahlulbait dalam menuntun pengikutnya dalam urusan-urusan spiritual. Ketiga, wilayah dalam bimbingan sosial-politik (wila-e ziamah). Dimensi ini mencerminkan hak bahwa Ahlulbait harus menuntun kaum muslimin dalam kehidupan sosial dan politik. Keempat, wilayah semesta (wila-e tasarruf). Dimensi wilayah ini mencerminkan kekuasaan yang meliputi alam semesta yang menegaskan bahwa Nabi dan itrahnya telah dianugerahi kekuasaan ini.

Dengan menggunakan matriks empat dimensi wilayah ini, Radhawi sampai pada kesimpulan bahwa hanya dalam dua dimensi pertama, Syi’ah, Sufi dan Sunni bertemu (Hemat saya, dalam dimensi ketiga, paling banter Sunni hanya menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah IV, dan sebagian Sunni menambahnya dengan Hasan bin Ali sebagai Khalifah V, meski hanya tujuh bulan). Bagaimana dengan dimensi keempat atau wilayah tasarruf? Sunni dan Sufi tidak sepakat dengan Syi’ah.   

Tritunggal Salawat    

Salah satu ajaran Islam yang menurut saya memiliki pengaruh luar biasa dalam kehidupan adalah salawat. Akan tetapi saya beroleh pemahaman yang lebih tajam dan hidup di saat mengikuti berbagai kajian di lingkungan para pencinta keluarga Nabi ini. Di lingkungan Syiah, setiap kali penceramah menukil ayat, Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi, hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,  maka akan terdengar gemuruh ucapan: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa âli Muhammad sebanyak tiga kali, yang kali ketiganya dipungkas dengan kalimat: wa ‘ajjil farajahum. Demikian juga apabila ada penceramah menyebut nama Nabi “Muhammad” kontan para jamaah akan mengucapkan salawat. Termasuk jika ada satu jamaah mengingatkan jamaah lainnya dengan mengucapkan “shallu ‘ala Muhammad wa aali Muhammad”, serentak para hadirin mengucapkan salawat sempurna secara gegap gempita.

Dalam ucapan salawat yang ringkas namun padat makna, Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa âli Muhammad, ada ketunggalan dalam tiga realitas yang selalu terkait begitu solid. Tiga realitas itu mencakup tauhid (Allahumma), kenabian (Muhammad) dan imamah (âli Muhammad).  Tauhid adalah seruan para nabi—dalam salawat direpresentasikan oleh Muhammad—kepada umat manusia. Seruan mereka sebenarnya hanyalah mengingatkan manusia karena pada fitrahnya manusia itu mengakui adanya satu Tuhan, tetap fitrah itu tertutupi oleh debu-debu kejahilan dan dosa. Kenabian adalah jembatan manusia menuju akhirat yang merupakan manifestasi (nama) Allah. Para Imam dari keluarga Muhammad (âli Muhammad) memangku posisi imamah dengan empat dimensinya.

Mengucapkan salawat sempurna berarti mengingatkan seorang Syi’ah akan adanya tokoh-tokoh suci yang menjadi objek kecintaan yang hakiki setelah Allah. Tanpa kecintaan kepada Ahlulbait (aali Muhammad), seseorang dianggap nonmuslim. Mengucapkan salawat sempurna berarti mengingatkan seorang Syi’ah akan adanya tokoh-tokoh suci yang bisa menjadi mediator dan konektor antara dia dengan Allah. Saat bersalawat sempurna sesungguhnya seorang Syi’ah sedang bertawasul agar dosa-dosanya diampuni, hajat-hajatnya dipenuhi dan seterusnya. Mengucapkan salawat sempurna berarti mengingatkan seorang Syi’ah akan adanya tokoh-tokoh suci yang menjadi pemimpin sosial-politik, baik secara de facto maupun de jure yang tolok ukur baginya dalam menerapkan keadilan sebagai misi para nabi di masyarakatnya. Mengucapkan salawat sempurna berarti mengingatkan seorang Syi’ah akan adanya tokoh-tokoh suci yang menjadi penyebab wujudnya dia dan alam semesta, dalam berbagai matranya (alam materi, alam barzakhi dan alam akal).

Di situlah urgensi dan relevansi tritunggal salawat dalam konteks kemusliman Syi’ah. Akhirnya, salawat bukan sekadar ucapan mantra penyembuh atau pemberkat kehidupan melainkan lebih dari itu. Akan lebih menarik jika tritunggal salawat itu ditarik dari perspektif ontologis, epistemologis dan aksiologis. Namun sepertinya bukan di sini pembahasannya. (tamat) 

F. Adimulya, penerjemah lepas


Thu, 15 Oct 2020 @13:37

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved