Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Resensi buku Ensiklopedia Muhammad Saw: Meluruskan Sejarah Nabi dan Kenabian

image

Judul buku      : Ensiklopedia Muhammad Saw: Meluruskan Sejarah Nabi dan Kenabian

Judul asli         : Mau’suah Hayah Muhammad, Jilid 1

Penulis            :  DR. Abdul Mun’im Al-Hafni

Penerjemah     : Ahmad Dzulfiqar & Yusni Amru Ghazali

Penerbit          : Noura Books (Grup Mizan)

Tahun terbit   : 2014

 

Penulisan yang tak habis-habisnya atas biografi Nabi Terakhir, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, menunjukkan betapa agungnya kedudukan sang Nabi di jantung kehidupan umat manusia. Saya sebut “di jantung kehidupan umat manusia” karena penulis biografi atau sejarah kehidupan Rasul Terakhir bukan saja berasal dari kalangan muslim tetapi juga nonmuslim, khususnya Barat. Yang terakhir, penulis biografi Muhammad adalah Karen Armstrong, seorang mantan biarawati yang banyak menulis biografi tokoh-tokoh agama Sekalipun kurang empatik dibandingkan dengan Annemarie Schimmel, biografi Nabi yang ditulis oleh Armstrong tetap lebih baik dibandingkan dengan para penulis Barat lainnya.

Apatah lagi penulisan biografi Rasulullah Muhammad saw dari kalangan muslimin tentu lebih banyak. Salah satu penulis terkini yang menulis biografi Rasulullah adalah DR. Abdul Mun’im Al-Hafni. Doktor filsafat asal Mesir ini telah menulis beberapa mausu’ah (ensiklopedia). Salah satunya tentang mazhab, jamaah, dan sekte dalam Islam. Di antara karya ensiklopedia yang dihasilkannya adalah biografi Muhammad saw diterbitkan pada tahun 2009 di Mesir. Ensiklopedia ini terdiri dari empat buku: buku satu berjudul Ensiklopedia Muhammad saw: Meluruskan Sejarah Nabi dan Kenabian; buku dua berjudul Ensiklopedia Muhammad saw: Meluruskan Biografi Nabi saw Melalui Al-Quran; buku tiga berjudul  Ensiklopedia Muhammad saw: Al-Quran Mukjizat Terakhir Nabi saw dan Perjalanan Awal Dakwah Beliau; dan terakhir, buku empat berjudul Ensiklopedia Muhammad saw: Perjalanan Dakwah Nabi Saw dari Makkah Hingga Madinah, Hijrah Beliau dan Para Sahabat, serta Interaksi Beliau dengan Yahudi-Nasrani. Di sini saya hanya akan sedikit mengulas Buku Satu saja yakni Ensiklopedia Muhammad saw: Meluruskan Sejarah Nabi dan Kenabian.

Salah satu motif Dr. Al-Hafni untuk menulis biografi Muhammad saw ini adalah karena tak sedikit buku biografi Nabi yang beredar mengandung dusta dan tidak memberikan penghormatan kepada Nabi saw. Oleh itu, tak ada cara lain yang bisa dilakukan selain mengoreksi kebohongan dan kekejian ini (hal.vii). Menurutnya, sebagian besar pelakunya (kebohongan) adalah pihak orientalis terdidik yang sebagian besar adalah kaum Yahudi ekstrem dan penganut paham zionisme (viii).

Dalam paragraf lain Dr. Al-Hafni menulis, “Adapun buku yang kami tulis ini masuk sebagai buku sejarah dan bukan pula sastra, tetapi buku ini masuk dalam domain filsafat dan politik. Dengan demikian, kami (penulis) hanya akan membahas mana yang masuk akal dan mana yang tidak masuk akal. Tujuannya adalah untuk membersihkan unsur-unsur kedustaan yang dihembuskan oleh kalangan Ahli Kitab dan orientalis” (xxiii).

Usaha Dr. Al-Hafni untuk mengoreksi dan membersihkan kedustaan biografi Muhammad saw relatif gagal dalam kasus Abu Thalib dan teori penciptaan manusia. Dalam kasus pertama, Dr. Al-Hafni meyakini bahwa kekafiran Abu Thalib yang selalu menolak ajakan keponakannya untuk menerima Islam (hal.45) dan, karena itu, Rasulullah saw tidak akan memberikan syafaat kepada Abu Thalib (hal.238). Masalah ini jauh-jauh hari sudah dikritisi oleh ulama Syafi’i, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (1232/1816-1304/1886) dalam bukunya Abu Thalib: Pengasuh Rasulullah (Al-Bayyinah, 1992). Pertama-tama, Dahlan mempertanyakan apa benar Abu Thalib tidak bersyahadat? Karena boleh jadi ia mengucapkannya tidak secara terbuka karena khawatir keamanan Nabi. Ini disandarkan kepada hadis-hadis lain yang mengisyaratkan syahadatnya Abu Thalib secara tersembunyi plus syair-syair yang mengarahkan kepada keimanan. Dengan demikian, otomatis Abu Thalib akan mendapakan syafaat Nabi karena dalam banyak ayat dan riwayat syafaat Nabi itu diperuntukkan orang mukmin yang berbuat dosa. Jika Abu Thalib kafir, sudah pasti masuk neraka.

Agak mengherankan juga kalau Dr. Al-Hafni bisa terpeleset seperti itu mengingat klaim dia di Pendahuluan bahwa dia sudah menelaah ratusan buku tentang biografi Muhammad. Seandainya dia membaca dengan teliti juga hadis kekafiran Abu Thalib, hadis itu diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang notabene datang ke Hijaz yang terjadi setelah 10 tahun wafatnya Abu Thalib. Jadi, bagaimana mungkin Abu Hurairah bertemu dengan Nabi serta pamannya sewaktu keduanya berbicara seolah-olah Abu Hurairah melihat dengan mata kepala sendiri? Demikian analisis dari Sharafudden al-Musawi dalam Menggugat Abu Hurairah (halaman 151).

Hal lain yang bisa jadi muncul karena bias kesunniannya Dr. Al-Hafni adalah teori penciptaan Muhammad dari cahaya (hal.300-302). Ia menyatakan, “Orang yang menyatakan bahwa Nabi saw diciptakan dari cahaya, maka ia telah menambahkan satu lagi mukjizat penciptaan … Penciptaan Nabi dari cahaya sedikit pun tidak dinyatakan oleh teks-teks keagamaan, baik dari Al-Quran dan Sunnah. Yang benar, pernyataan seperti itu hanyalah takwil dari para ahli takwil dan jelas itu merupakan pengingkaran (halaman 301).

Pertama, sebagai seorang ahli filsafat agak mengherankan juga kalau Dr. al-Hafni tidak membedakan Muhammad sebagai hakikat atau nur Muhammad (al-haqiqah al-muhammadiyah meminjam istilah Seyyed Hossein Nasr) dengan Muhammad sebagai person-yang-berdaging, yang menyejarah. Kedua, teks-teks keagamaan yang menghikayahkan penciptaan Muhammad dari cahaya sebenarnya dapat ditemukan, misalnya, dalam kitab-kitab Syi’ah maupun ahli tasawuf Sunni. Karenanya klaim Dr. Al-Hafni bahwa tidak ada teks-teks keagamaan yang membahas soal cahaya Muhammad boleh jadi berangkat dari perspektif keagamaannya, tanpa ada upaya mengkomparasi dengan kitab-kitab lain.

Saya ingin mengambil sedikit contoh tentang ini. Dalam karyanya yang bertajuk Menyibak Tabir Nur Muhammad, Sahabuddin (2004: 5-6) menulis: Nur Muhammad telah dikenal semenjak Nabi masih hidup. Ketika itu, Jabir bin Abdullah bertanya kepada Nabi Muhammad saw tentang apakah yang paling awal diciptakan oleh Allah swt. Nabi menjawab, “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah swt sebelum menciptakan segala sesuatu (huruf italic dari saya, AM), lebih dahulu diciptakan cahaya nabimu (nur Muhammad) dari Allah.” (HR. Abd al-Razzaq al-Sa’any).

Jabir bin Abdillah, seorang sahabat yang pertama kali melakukan prosesi Arbain kesyahidan Husain bin Ali, memang termasuk salah periwayat hadis mistis yang sering dirujuk oleh para Sufi. Jabir jugalah yang meriwayatkan Hadis Al-Kisa atau Hadis Selendang dari Sayidah Fathimah binti Rasulillah saw, yang menceritakan bagaimana posisi Nabi dan Ahlulbaitnya itu di sisi Allah swt. Dalam salah satu pasase hadis itu dikatakan: Allah swt berkata kepada para malaikat-Nya, “Wahai penghuni langit-langit-Ku, sungguh Aku tidak menciptakan langit dan bumi yang luas, bulan dan matahari yang bersinar, benda-benda langit yang berputar, laut yang mengalir, kapal-kapal yang berjalan kecuali karena cinta terhadap lima manusia yang berada di bawah selimut itu…”

Dua hadis di atas sepertinya berlawanan. Hadis pertama menarasikan bahwa nur Muhammad diciptakan sebelum adanya segala sesuatu (termasuk langit dan segala isinya), sementara pada hadis kedua segala sesuatu sepertinya sudah ada ketika Nabi dan Ahlulbaitnya akan diciptakan. Hemat saya, hadis pertama itu menunjukkan fase Muhammad suprahistoris, yakni Muhammad-berdaging belum ada. Sementara, pada hadis kedua, bicara dalam fase Muhammad historis yang sebenarnya mengkonfirmasi saja hadis kedua.

Dalam hadis-hadis Syiah, seandainya Dr. al-Hafni mau “menyeberang”, barangkali akan lebih banyak lagi ditemukan lagi hadis-hadis yang berorientasi kosmologis. Dengan kepakarannya di bidang Filsafat, penulis sangat mungkin bisa menyusun teori-teori penciptaan alam semesta. Alhasil, saya ingin menyatakan apakah tidak terlalu gegabah Dr. al-Hafni menyimpulkan bahwa hadis penciptaan Muhammad dari cahaya sebagai tidak berdasar pada teks-teks keagamaan? Jika seorang filsuf itu berwatak terbuka, berpikir komprehensif, selayaknya Dr. al-Hafni  tidak buru-buru mengingkari hadis penciptaan cahaya sebelum melakukan pemeriksaan ke mazhab yang berbeda. Wallahul ‘aliim.

‘Ala kulli hal, bagi saya, buku ini tetap berharga untuk dinikmati dan memperkaya wawasan kita. *** (Arif Mulyadi, M.Ud., pengkaji sejarah Islam)

 

Mon, 23 Nov 2020 @10:29

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved