Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Ustaz Jalal dan Upaya Pribumisasi Maktam [by Arif Mulyadi]

image

Satu-satu, daun berguguran

Jatuh ke bumi, dimakan usia

Sesaat mendengar kabar wafatnya Ustaz Dr. Jalaluddin Rakhmat pada 15 Februari 2021 pukul 15.45 penggalan lirik lagu Satu-Satu yang disenandungkan oleh Iwan Fals menyergap memori saya. Lirik lagu itu, bagi saya, demikian relevan karena dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, satu-satu orang-orang yang dekat dan yang saya kenal mulai berpulang ke rahmatullah. Dalam seminggu terakhir ini saya kehilangan teman-teman seperti Ahmad Y. Samantho, seorang aktivis kebudayaan dan teman penulis saat masih belajar di Islamic College for Advanced Studies (ICAS), kemudian teman SMA dulu, dan akhirnya Ustaz Jalaluddin Rakhmat, yang sebelumnya istrinya, Euis Kartini, lebih dulu mangkat. Sungguh memerihkan hati karena kepada mereka semua itu saya punya kenangan meskipun Cuma sepercik. Semoga Allah merahmati semuanya.

Pribumisasi Maktam

Tulisan ini sebenarnya tidak bermaksud menyampaikan pesan dan kesan tentang kepakaran ustaz Jalal di bidang ilmu komunikasi. Itu sudah banyak disampaikan oleh para koleganya. Demikian juga, saya tak akan mengekpresikan pesan dan kesan secara personal dan emosional karena ia pun sudah ramai dituliskan oleh para pencinta dan pegagumnya. Saya ingin menyampaikan upaya beliau dalam melakukan pribumisasi maktam. Apa itu?

Istilah pribumisasi yang saya maksud adalah proses pembahasaan dakwah dengan menggunakan bahasa setempat. Istilah ini semula dilontarkan Gus Dur ketika ia melemparkan gagasan, salah satunya, bahwa ucapan salam islami Assalamualaikum bisa diganti dengan “selamat pagi”, “selamat siang” dst. Kontan, gagasan ini mendapat kritikan, bahkan cacian. Maktam (ma’tam) adalah pembacaan syair duka. Dalam tradisi Ahlubait maktam ditujukan kepada figur–figur Ahlulbait khususnya Imam Husain yang gugur syahid di hari Asyura, 10 Muharam. Pada peringatan Asyuralah, syair-syair duka disenandungkan. Di Indonesia maktam mulai marak, dalam pandangan saya, sekitar dua dasawarsa belakangan.

Selama dua decade tersebut, saya melihat ada tiga langgam syair maktam: pertama, langgam Arab; kedua, langgam Persia; dan langgam Nusantara. Pada langgam Nusantara inilah saya melihat bagaimana Ustaz Jalal melakukan upaya pribumisasi maktam dengan cara melakukan asimilasi antara pupuh Sunda, khususnya Maskumambang dan syair maktam. Maskumambang sendiri artinya bentuk komposisi tembang macapat, biasanya dipakai untuk melukiskan kisah sedih atau keprihatinan yang mendalam, mempunyai bait lagu yang terdiri dari atas empat baris, baris pertama mempunyai 12 suka kata yang berakhir dengan bunyi i (12 i), kemudian berturut-turut 6 a, 8 i, dan 8 a (KBBI).

Dalam salah satu syair maskumambangnya bertajuk Imam Husen, Ustaz Jalal bermadah:

            1 Imam Husen imam kaum mustadh’afin

             Ngocorkeun getihna

            Ngajait nasib nu leutik

            Ngabela umat tunggara

            (Imam Husain imam kaum mustadh’afin

            Mengucurkan darahnya

            Mengangkat nasib wong cilik

            Membela umat yang sengsara)

Perhatikan, betapa Ustaz Jalal berusaha mengintrodusir figur Imam Husain ke dalam bahasa kaumnya, Sunda. Upaya ini tentu sangat signifikan karena dua alasan: pertama, mengenalkan tokoh-tokoh Ahlulbait ke dalam bahasa setempat masih kurang; kedua, memelihara budaya dan bahasa daerah agar mereka yang tidak melek bahasa nasional bisa tetap memahami Islam dan kesundaan.

Ini suatu terobosan fenomenal mengingat syair-syair maktam yang berkembang saat itu masih dominan dengan langgam budaya Arab dan Persia. Tentu saja, bukan berarti kedua langgam ini keliru dan salah. Keduanya tetap memberikan kontribusi positif. Inovasi Ustaz Jalal justru memberikan warna dinamis atas penyelenggaran hari-hari duka Asyura di Nusantara. Kesadaran melakukan inovasi semacam ini tampak pula pada syair-syair yang dilakukan oleh Haeruman dari Malang maupun Habib Abdurrahman al-Mahdali dari Aceh.

Dalam bait berikutnya, Ustaz Jalal bersyair:

            Mastaka nu sok diambung Kanjeng Nabi

            Kiwari papisah

            Ti jasad kakasih Gusti

            Ditancebkeun dina tumbak

            (Kepala yang suka dicium Baginda Nabi

            Sekarang berpisah

            Dari jasad kekasih Tuhan

            Ditancapkan pada tombak)

Dalam bait di atas Ustaz Jalal begitu akurat namun lembut melukiskan tragedi kesyahidan Imam Husain yang tidak kalah memerihkan hati ketika kita mendengar syair maktam bertajuk Ya Syahid ya mazhlum yang begitu kondang:

            Punggungnya dipasak, puluhan tombak

            Dicincang-cincang ratusan pedang

            …

            Belahan jiwa, kini tergeletak

            Tanpa kepala, tubuh berserak

Upaya pribumisasi maktam oleh Ustaz Jalal—walau mengambil ilustrasi serbasedikit—dan yang lainnya seturut akar cultural masing-masing jelas perlu diapresiasi penuh. Dengan begitu, harapan akan semakin pahamnya masyarakat Nusantara terhadap ketokohan Ahlulbait dan sepak terjang mereka kian terwujud dari hari ke hari.

Saya percaya upaya Ustaz Jalal tersebut akan terus dilanjutkan oleh para pewarisnya sebagaimana dilirihkan oleh Iwan Fals:

            Waktu terus bergulir, semuanya mesti terjadi

Daun daun berguguran, tunas-tunas muda bersemi

 

Wallahul ‘aliim.

Thu, 18 Feb 2021 @13:43

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved