Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

BENARKAH BELIAU PROF JALALUDDIN RAKHMAT [by Ustadz Abu Syirin Al-Hasan]

image

Majma Taqrib atau dikenal dengan Lembaga Internasional Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam adalah lembaga yang dibentuk pada tahun 1991 atas perintah pemimpin tertinggi Iran, Imam Ali Khamenei.

Lembaga ini setiap tahun mengundang tokoh-tokoh Islam dari seluruh dunia untuk duduk bersama membahas problematika dunia Islam dan mencari solusinya. Pertemuan ini berlangsung pada bulan kelahiran Rasulullah saww yang dikenal setelah itu, hafte e wahdat atau pekan persatuan.

Untuk itu Dewan tinggi Majelis selalu memilih anggota Majelis Umum dari kalangan ulama, pemikir, dan cendekiawan Dunia Islam yang berprinsip pendekatan mazhab-mazhab Islam untuk masa bakti enam tahun dan untuk Asia Tenggara anggota majelis umum salah satunya adalah KH. Jalaluddin Rakhmat.

Saya sebagai anggota panitia Majma Taqrib yang ditunjuk langsung oleh Ayatullah Muhsin Araki memiliki tugas untuk melaporkan dan mengevaluasi tamu-tamu yang datang dari Asia Tenggara dan menilai kinerja mereka selama di Tehran. Shubuh kala itu, Kyai Jalaluddin Rakhmat datang ke Hotel Azadi dengan beberapa orang Indonesia perwakilan Muhamadiyah, panitia langsung mengarahkan mereka ke kamar hotel dan Kyai Jalaludin Rahmat sebagai tamu VIP diarahkan ke tempat khusus VIP.

Kemudian beliau bertanya, "Kenapa teman-teman yang lain berbeda arah dengan saya?" Saya menjawab, "Antum tamu VIP Kyai." Waduh samakan saja saya dengan yang lain agar saya bisa mengobrol dengan mereka kala istirahat." Akhirnya saya memanggil Muttaqi bagian perhotelan untuk mengabulkan perimintaan Kyai Jalaluddin Rakhmat.

Setelah perjalanan yang melelahkan itu ada jadwal padat yang menanti para tamu salah satunya adalah pembukaan dan sambutan. Saya menelepon para tamu untuk segera datang ke lobby hotel jam 07.00 pagi. Dan orang pertama yang datang adalah Kyai Jalaluddin Rakhmat dengan segala kelelahannya yang baru tiba subuh tadi. 

Kyai dengan menggenggam jadwal acara ditangan dengan semangat mengatakan, " Wah… Ada sambutan dari Qosim Sulaimani yah? Iya Kyai. Matanya berbinar karena pekan persatuan tahun ini ada yang berbeda, yaitu sambutan dari The Shadow Of Commander. 

Bis menuju acara berjejer didepan hotel begitupula mobil-mobil mewah untuk tamu VIP. Tokoh-tokoh besar dunia Islam seperti Syeikh Hassun dari Syiria dan Syeikh Isa Qosim Bahrain duduk rapi menunggu jemputan mobil VIP. Begitu pula Ustad Jalal sebagai tamu VIP dipersilahkan duduk dengan tokoh-tokoh besar Islam itu. Namun panitia dikejutkan kembali dengan perkataan beliau bahwa beliau ingin naik bis saja dengan peserta biasa yang lain. 

Ketawadhuan dan kesederhanaan beliau pun menjadi pembahasan diantara panitia yang selalu melakukan evaluasi di akhir event tiap harinya.

Seorang ulama besar anggota Majelis Syura Majma dari Indonesia begitu sederhana dengan senyuman khasnya berbeda jauh dari beberapa tokoh lainnya yang menuntut pelayanan berkelas dan terkadang "bolos" di beberapa acara. Hal ini terus berlangsung kala jadwal pertemuan dengan Rahbar. Saya berkata, " Kyai hari ini kita ketemu dengan Rahbar, antum kan tamu VIP untuk itu kita pakai kendaraan khusus VIP agar cepat tiba dan mendapat tempat duduk dekat dengan Rahbar sehingga mendapatkan kehormatan menyapa langsung beliau.

Beliau termenung sebentar dan berkata, “Naik bis saja dan Insya Allah bertemu dengan Sayid Ali.” Akhirnya beliau naik bis dengan peserta non VIP. Terdapat dua pintu yang menghubungakan ke aula utama, pintu VIP dan pintu biasa. Pintu VIP sebelah kanan yang nanti akan dilewati Rahbar dan pintu kiri peserta biasa. Saya berkata, “Karena kita naik bis kyai, mungkin kita tidak melewati pintu kanan, sahut saya. Namun keajaiban terjadi ketika mendekati pintu, salah satu anggota Majma yang pernah ke Muthahari langsung berkata, “Profesor! Profesor! Wah keberkahan bertemu dengan antum disini”, kemudian beliau di ajak langsung ke pintu kanan yang beberapa menit lagi akan dilewati oleh Rahbar. Akhirnya beliau bertemu dengan Rahbar Sayid Ali yang beberapa photonya viral di media-media sosial.

Di sinilah saya teringat dengan firman Allah swt, " Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah swt akan memberikan jalan keluar baginya." Jalan keluar yang tidak mungkin kita sangka dengan angka-angka. Sebuah keajaiban di menit-menit injury time yang mana terdapat kisah unik diantara panitia bahwa ada tamu VIP lain yang ngotot bertemu langsung menyapa Rahbar, namun akhirnya terlempar ke aula paling belakang.

Event pekan persatuan menuju puncaknya dan Kyai meminta saya secara pribadi untuk mengadakan makan malam di kamarnya dengan tamu-tamu Indonesia lainnya. Kita makan, berbincang, bercanda dan photo bersama. Tidak ada sekat antara kita padahal jelas baik dari sisi usia dan keilmuan beliau berada di atas kita semua bahkan saya sendiri lupa bahwa dihadapan saya adalah Cendekiawan Indonesia yang telah menulis karya-karya fenomenal yang tak terhitung jumlahnya.

Akhir acara pekan persatuan selalu ada sesi wawancara, pertemuan dan undangan dari beberapa ulama dan tokoh pemerintah Iran. Kyai yang kala itu adalah anggota DPR tidak luput dari perhatian tokoh-tokoh penting Iran. Sudah tidak terhitung tokoh penting kala itu yang ingin bersilaturahmi dan menginginkan kerjasama dengan beliau dan beberapa kali saya terpaksa mengatur ulang kembali jadwal beliau. 

Namun yang paling mengejutkan adalah kecintaan beliau kepada kitab-kitab yang tidak ada duanya. Ketika ada pameran kitab-kitab di lobby hotel, beliau langsung menuju pameran tersebut dan menghabiskan waktu disana seakan lama tidak bertemu dengan kekasih. Berjam-jam beliau disana dan akhirnya membeli kitab-kitab tersebut untuk bisa dinikmati kembali ditanah air.

Hari penutupan pekan persatuan pun tiba. Ayatullah Taskhiri yang menjadi moderator kala itu mempersilahkan Prof. Jalaluddin Rakhmat dari Indonesia untuk menutup acara pekan persatuan. Beliau berdiri dan berjalan menuju podium. Seluruh peserta termasuk Ayatullah Taskhiri dan Ayatullah Muhsin Araki berdiri menyambut beliau. Suara kembali senyap dan beliau mulai berbicara dengan bahasa Arab dan Inggris. Sesekali beliau berkata dengan bahasa Persia. 

Pesan penutupan beliau begitu luar biasa sehingga seluruh hadirin tercengang. Sebagian ulama taqrib dan panitia yang menyaksikan selama ini beliau begitu tawadhu dan murah senyum, dengan heran bertanya kepada saya benarkah beliau Prof. Jalaluddin Rakhmat? Saya jawab: memang ada berapa di dunia ini Prof. Jalaluddin Rakhmat sehingga anda meragukan sosok dihadapan Anda ini? ***

Thu, 18 Feb 2021 @14:01

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved