Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Sosok Kang Jalal dan Daya Tariknya

image

Dr Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) adalah sosok yang luar biasa. Penampilannya sederhana. Ramah dan murah senyum. Bagi saya, tidak ada duanya orang seperti Kang Jalal di Indonesia. Kang Jalal dikenal sebagai ilmuwan, cendekiawan, penulis, dan mahaguru (disebut demikian oleh Ijabiyyun). Kang Jalal memiliki daya tarik. Banyak orang yang terkagum-kagum dengan kecerdasan dan karya-karya Kang Jalal.

Jika ceramah pemaparannya enak didengar dan mudah dicerna. Pilihan bahasa dan tutur katanya rapi dan menarik. Pembahasan filsafat dan kajian agama yang dianggap berat pun kalau diuraikan oleh Kang Jalal terasa mudah dipahami. Kadang membuat contoh dengan cerita dan pengalaman keseharian. Terasa menyentuh dan menempel pada benak.

Kang Jalal tidak hanya ceramah di depan orang-orang dewasa. Bahkan, mampu menyampaikan materi agama dan kesehatan otak di depan murid-murid sekolah menengah. Tentu Anda akan sepakat karena Kang Jalal pakar komunikasi. Pastinya lebih tahu cara melayani pendengar dan menciptakan suasana bagi jamaah.

Ulama dari Iran pada sebuah seminar di Bandung pernah menyebut Kang Jalal sebagai salah satu tentara terbaik Imam Mahdi. Ulama di Jawa Timur yang memiliki pesantren besar dan kini almarhum menyebutnya seorang doktor yang paham dengan kondisi zaman dan berilmu. Ulama tersebut menyarankan murid-muridnya untuk menimba ilmu kepada Kang Jalal.

Sebagai cendekiawan Muslim, Kang Jalal terlibat dalam urusan masyarakat dan ke-Indonesia-an. Ia pernah diutus Pemerintah Republik Indonesia ke negeri-negeri di Timur Tengah untuk sosialisasi hasil muktamar di Bogor tentang persatuan Islam dan mencari solusi untuk masalah yang menimpa negeri Irak. Sering pula diundang untuk konferensi Islam di Iran. Bahkan pernah diminta pidato dihadapan Presiden Iran: Ahmadinejad, berkaitan dengan perbukuan Islam. Ada tulisan di facebook yang menulis bahwa Kang Jalal pernah menjadi pembicara dalam forum ulama sedunia di Iran hingga berkesan bagi para hadirin maupun panitianya. Saya percaya karena perkataan dan tulisannya bisa membuat orang larut di dalamnya. 

Di masyarakat sekitar rumahnya, Kang Jalal dikenal pemurah. Sering memberikan bantuan jika ada yang meminta. Bahkan memberikan beasiswa pada anak-anak sekitar rumahnya yang ingin melanjutkan pendidikan. Jika ada Maulid Nabi dan acara-acara agama, masyarakat kerap diundang dan mendapatkan pencerahan yang juga makanan gratis.

Setiap minggu pagi, sebelum pandemi Covid-19, Kang Jalal menyempatkan memberikan pengajian di masjid belakang rumahnya: Al-Munawwarah. Setiap kali pengajian digelar tidak ada pengeras suara yang sampai memekakan telinga karena memang speaker di masjid diseting khusus untuk di dalam. Tentu ini untuk menjaga kenyamanan tetangga masjid yang ingin istirahat supaya tidak terganggu.

Sebelum masa pandemi, setiap selasa malam rabu, rumah Kang Jalal dijadikan tempat pengajian. Setiap kali pengajian disediakan makanan dan minuman dari tuan rumah: Kang Jalal. Sudah diberi ilmu, juga dapat jamuan. 

Dalam obrolkan saat jamuan makan setelah pengajian ahad di Masjid Al-Munawwarah, Kang Jalal menyatakan dirinya bukan ulama. Orang yang pantas disebut ulama adalah Ustadz Muhammad Quraish Shihab.

Saya kira pernyataan tersebut sikap tawadhu. Saya lihat sendiri buku-buku mulai dari bahasa Arab sampai Parsi kemudian Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda memadati lemari ruangan tamu. Rata-rata buku itu tebal. Juga di perpustakaan Muthahhari, banyak sekali koleksi bukunya yang sengaja disimpan. Saya kira bukan sekadar koleksi, tapi memang dibaca. Tampak tiap kali ceramah membawa kitab dan dalam pertemuan resmi pun kalau duduk sambil baca kitab.

Selesai seminar, pernah ada mahasiswa yang cium tangannya. Segera dicium balik tangan mahasiswa itu. Pengalaman yang jarang terjadi. Alih-alih ingin dihormati malah balik hormat. Yang luar biasa juga setiap kali ada seminar atau diskusi buku di kampus/universitas selalu penuh. 

Harus diakui Kang Jalal piawai dalam bicara. Argumentatif dan selalu ada jawabannya meski diberondong dengan pertanyaan yang berat dan bersifat pribadi. Saya belum menemukan tokoh seperti Kang Jalal. Cerdas, baik secara sosial, dan ramah.

Saya beberapa kali bertanya tentang Syiah. Dahulu melalui facebook dan sms. Kang Jalal selalu menjawab. Saya merasa mantap dengan pendapatnya dalam urusan agama. Selalu ada opini dan argumentasi yang logis serta sudut pandang yang baru meski tema yang dikupas bersifat klasik. Ini mungkin karena sering akses buku-buku sehingga terus update pengetahuan. Ini saya kira daya tarik dalam keilmuan yang disampaikan Kang Jalal. 

Karena itu, saat ikut kajian di Muthahhari selalu rindu dengan kupasan Kang Jalal. Saya pernah kecewa saat ke pengajian Al-Munawwarah karena tidak ada Kang Jalal. Sedikit terobati ketika tampil putranya, Ustadz Miftah, yang secara nalar keagamaan dekat dengan ayahnya. Saya pun kadang menodong pertanyaan kepadanya saat bertemu. Saya tidak segan untuk ngobrol soal buku dan kajian Islam meski mungkin yang saya sampaikan itu tidak relevan. Sama seperti ayahnya yang simpatik dan santun pada jamaah. Bahkan, pada orang yang baru kenal sekali pun. 

Saya bersyukur beberapa kali sempat menjadi moderator untuk diskusi dan seminar dengan narasumber Kang Jalal. Setiap kali duduk di sampingnya saya suka degdegan. Saya merasa khawatir salah bicara. Khawatir kata-katanya tidak tepat. Maklum Kang Jalal adalah idola dalam keilmuan dan keagamaan. 

Mungkin orang-orang yang kenal saya tahu saya fans Kang Jalal. Sehingga saat di kampus kala bertemu dosen dan teman mahasiswa, mereka tanya tentang Kang Jalal kepada saya. Mereka tanya buku dan gagasan terbarunya. 

Beberapa orang yang ngobrol dengan saya, baik dosen dan mahasiswa, sepakat Kang Jalal itu pintar dan lihai dalam mengemas bahasa tulisan maupun lisan. Selalu mencerahkan penyampaiannya. Tema filsafat, tafsir Alquran, fikih, teologi, neurosains, komunikasi, politik, dan lainnya sangat mudah dipahami kalau Kang Jalal yang bicara. 

Saya pernah coba tanya soal kesundaan. Saya coba ngobrol manuskrip kesundaan, Hasan Mustapa, Dalem Haji Wiranatakusumah, kerajaan Sunda, sastra Sunda dan lainnya. Kang Jalal menganggapi yang saya sampaikan itu dengan menyebutkan referensi. 

Kalau saya bicara dengan bahasa Sunda, Kang Jalal menjawab dengan bahasa Sunda yang baik dan sesuai undak usuk. Saya geleng-geleng kepala atas sosok Kang Jalal ini. Benar-benar punya banyak informasi dan pengetahuan. Bicara apa pun pasti nyambung, termasuk kesehatan jiwa dan otak.

Tentang buku-bukunya, saya pernah berniat meminta tanda tangan kepada Kang Jalal. Meski beberapa buku sudah di tas, tetapi tak berani bicara kepadanya. Entah kenapa? Istilah Sunda na mah ajrih. Segan yang teramat sangat. Sampai kini buku-buku karyanya belum disematkan tanda tangannya.

Terkait dengan kedekataannya dengan jamaah, tidak jarang banyak orang yang meminta nama bayi dari Kang Jalal. Diminta berfoto pun melayaninya. 

Kang Jalal pernah menjadi anggota DPR RI. Menjadi tim pengkaji undang-undang di MPR. Menjadi anggota Majma Jahani Ahlulbait sedunia dan Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia. 

Saat dapat informasi tentang wafatnya: asa disamber heulang. Leungiteun. Leuleus ieu awak jeung sedih. Pas nampi iber langsung buru-buru angkat ka Sangiang, Rancakekek, Kabupaten Bandung. Sareng rerencangan ngiring nyakseni. Ikut pula menshalatkannya. Di pajaratan kuring henteu tiasa nanaon ngan ukur cirambay cimata. Sedih jeung asa teu peuguh naon anu kedah dilakukeun. Ngabeuteum bae. Nalika dipasihan waktos kanggo ngadoa di pajaratan oge ngan ukur maos shalawat jeung alfatihah. Dugi ayeuna estuning leungiteun. 

Harita mun nguping tokoh Islam wafat henteu dugi asa leungiteun. Ieu mah asa disamber heulang. Di rorompok mun ninggal buku-buku Kang Jalal langsung cirambay. Emut ku someahna. Mun tepang na acara sok pangpayunna Kang Jalal naros ka kuring. Seueur kasaean jeung akhlak karimah anu katingal ti Pangersa Guru Kang Jalal.

Ya Ilahi… terima amal ibadah Pangersa Guru dan istrinya. Tempatkan keduanya pada kedudukan yang tertinggi bersama Rasulullah Saw dan Ahlulbait. Aamiin Ya Robbal ‘alamiin. *** (Ahmad Sahidin)

Fri, 19 Feb 2021 @15:43

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved