Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Pelanjut Kang Jalal [by Dedy Djamaluddin Malik]

image

 

Sesak dada ini tatkala kabar duka datang. Kang Jalal wafat (15/2/2021), setelah sebelumnya isteri tercintanya lebih dulu menghadap Tuhannya. Inilah siklus hidup manusia sebagai bagian dari sunnatullah. Saya bersaksi ia orang baik yang hidupnya penuh makna: berilmu tinggi, santun dan banyak beramal bagi kaum mustad’afin. Bagi pribadi-pribadi yang terbuka, isi pesannya amat mencerahkan meski belum tentu kita sependapat.

Minggu (1/2/2021) siang. Kami berkumpul penuh canda di salah satu pojok ruang sekolah Muthahari. Hadir saat itu saya , Ustadz Syam, Usmif, Beben dan sebagian lainnya. Adapun maksud pertemuan itu adalah ingin menindaklanjuti Webinar buku psikologi komunikasi yang diadakan Stikom-Bandung dan Central yang terbilang sukses. Daftar peserta yang tercatat 500 lebih dan kanal Youtube disaksikan 600 orang, menandakan bahwa ada segmen yang sudah lama menanti Kang Jalal, yaitu komunitas yang menjadikan komunikasi sebagai profesinya: dosen atau praktisi komunikasi. 

Saya dan Ustadz Syamsuddin ingin menarik kembali Kang Jalal sebagai tokoh komunikasi yang inspiratif dan selalu memberi warna baru. Lalu kami sepakat webinar Maret nanti mengangkat isu filsafat komunikasi dalam beberapa segmen yang rencananya kemudian akan dibukukan.

Ada beberapa alasan ingin menarik kembali Kang Jalal sebagai tokoh komunikasi. Pertama, revisinya atas buku terdahulu Psikologi Komunikasi dan Penelitian Komunikasi, menandakan bahwa dia tetap menjaga marwah dan kepakarannya sebagai ahli di bidang komunikasi. Kedua, di perpustakaan pribadinya di Kantor Muthahhari, ketika satu saat saya berkunjung sebelum pendemi covid, saya melihat banyak buku komunikasi karya sarjana asing terbaru, tergeletak berserakan di atas meja. Itu pertanda buku itu sudah dilahapnya.

Di sekitarnya, berderet kitab-kitab Islam klasik dan mutakhir baik dari karya ulama ahl-sunnah maupun ahl-bayt. Ini menandakan bahwa meski belakangan Kang Jalal makin dikenal sebagai tokoh agama, tapi marwahnya sebagai ahli komunikasi, tidak pernah ia tinggalkan. Ketiga, webinar psikologi komunikasi yang bertajuk realitas virtual dan adiksi internet yang mendapat respons antusias peserta, menunjukkan ada segmen komunitas yang selama ini agak terabaikan Kang Jalal.

Agenda ingin menguatkan kembali Kang Jalal sebagai tokoh komunikasi sempat melahirkan canda yang renyah. Waktu itu Kang Jalal memuji sekaligus menyindir Usmif (Ustadz Miftah Fauzi Rakhmat, panggilan putera kinasihnya). “Kalau saya ceramah agama, Ded, dari sudut kredibilitas mungkin lebih tinggi Miftah. Ia cukup lama di pesantren. Saya tidak mesantren”. Begitu selorohnya. 

“Tapi kalau bicara komunikasi”, lanjutnya, saya langsung menyela: “Punten, Usmif tertinggal Bapaknya”. Kami semua tertawa. Sementara Usmif manggut-manggut berhias senyum penuh takzim. Makna pesan di balik itu, bagi saya, menandakan bahwa Usmif sudah saatnya melanjutkan risalah Bapaknya. 

Obrolan terakhir saya dengan Kang Jalal, mengisyaratkan pelanjut dakwah sudah diwariskan kepada Usmif, putera keduanya. Ia seakan sudah menerima “isyarat gaib” dari Sang Maha Kasih untuk segera menemui-Nya. Salah satu mimpi hidup Kang Jalal adalah, ada salah seorang puteranya yang diwakafkan untuk berkhidmat pada agama. Kang Jalal sudah lama menyiapkan kaderisasi untuk puteranya itu. Usmif cukup lama mesantren di Timur Tengah, Syria dan Qom, Iran. Ia juga sempat “mesantren” di Jerman dan Australia, mengambil studi bidang media.

Ceramahnya sudah mumpuni. Keahliannya dalam daqaiq al-Qur’an, akurasi dalam menafsirkan bahasa al-Qur’an, merupakan keahliannya. Bahasannya tentang ahl-baith, dinarasikan dengan amat hati-hati dan menghindari kontroversi. Haram baginya menyinggung simbol-simbol utama yang amat dihormati mazhab sunni. Ia melihat tradisi sunni sebagai bagian dari warisan dan kekayaan sejarah Islam sebagaimana tradisi ahl-bayt tak bisa dinafikan dari tradisi Islam. Usmif paham betul pesan ayahandanya.

Tingkat keulamaan seseorang diukur dari maqom (derajat dan posisi) beyond mazhab, yakni berada di atas sekat-sekat mazhab. Semua mazhab merupakan warisan intelektual dan tradisi islam. Orang boleh condong ke salah satu mazhab tapi orang tak bisa sama sekali menafikan tradisi mazhab yang lain. Basis tasawuf yang memandang semua orang dengan cinta tanpa melihat mazhab dan agamanya, akan meningkatkan kualitas relijiositas kita.

Sebagaimana Bapaknya, Usmif juga menguasai bahasa asing: arab, parsi, inggris dan jerman. Ia juga sudah disiapkan untuk menjadi penulis handal, dimulai dari bekerja sebagai redaktur di sebuah penerbitan; lalu menjadi penerjemah dan editornya. 

Beberapa buku karya Usmif sudah diterbitkan: Perjalanan Pulang Tanpa kembali, The Prophetic Wisdom, Tasawuf for Beginner, Duabelas Empatbelas, dan Tasawuf Improving. Corak tulisan Usmif pun hampir sekelindan Bapaknya. Dimulai dengan ilustrasi, mengalir runtut dan renyah. Demikian pula dalam ceramahnya. Selain pembawaannya santun, isi pesannya senantiasa mengandung kebaruan. Dalam menyebut ustad lain, ia selalu menyebutnya guru-guru kita. Tampilnya Usmif mewakili Ijabi dalam kajian lintas mazhab lewat saluran Islam Ramah yang menampilkan cendekiawan Muslim NU, Zuhairi Misrawi, dan tokoh Ahmadiyah Ridwan Buton, meneguhkan kredibilitas Usmif sebagai cendekiawan Muslim.

Dalam dunia kepesantrenan, tidak gampang mencari pelanjut risalah. Sering terjadi pesantren yang ketika kyai sepuh masih hidup, begitu banyak santri mengaji. Namun, setelah kyai sepuh wafat, pesantren menjadi sepi akibat tak ada pelanjut. Beruntung Kang Jalal, ada Usmif yang akan meneruskan Islam mazhab cinta. Para jemaah Mutahhari, akan berguru kepada Usmif sebagai bagian dari cinta kepada Bapaknya, sebagaimana diajarkan kitab Ta’lim Muta’allim.

Pelanjut Kang Jalal tentu bukan hanya Usmif. Siapa saja yang ingin mengusung Islam sebagai agama madani: mengepankan cinta sesama, dialog dan toleran tanpa harus jadi syiah, adalah para pelanjut Kang Jalal. Istirahatlah dengan tenang bersama isteri tercinta, Kang. ***

 

 

Tue, 23 Feb 2021 @12:55

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved