Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Hati-hati dengan Jalaluddin Rakhmat [by Andito Suwignyo]

image

 

“Hati-hati dengan Jalaluddin Rakhmat!” Alasannya? “Dia Syi'ah, beda manhaj, beda fikrah.” Itulah propaganda murabbi saya. Murabbi itu pembina, guru agama, yang saya ikuti sejak awal kuliah di Bandung pada tahun 1992. Dia mahasiswa teknik tingkat akhir, senior saya di Asrama Mahasiswa Kalimantan Selatan, jalan Cisitu Lama, Dago. Sedangkan manhaj ialah kaidah dan ketentuan sistematis tentang akidah, ajaran, dan pokok-pokok Islam menurut pemahaman sepihaknya yang condong ke Ikhwanul Muslimin.

Larangan berhubungan dengan Jalaluddin Rakhmat karena ke-Syi'ah-annya, membuat saya penasaran. Saya tidak kenal Jalaluddin Rakhmat. Saya tidak tahu Syi'ah. Maklumlah saat itu saya masih sekuler. Saya memang tidak lepas salat wajib sejak 4 SD, tapi saya tidak paham konsep agama sama sekali.

Murabbi saya, sebenarnya, juga tidak kenal beliau dan tidak tahu Syi'ah. Saya lihat di kamarnya tidak ada buku-buku Mizan, penerbit agama yang mengeluarkan buku-buku Jalaluddin Rakhmat. Tampaknya, dia sekadar menyambungkan apa yang disampaikan murabbinya, yang mungkin juga tidak pernah membaca tulisan-tulisan beliau. 
Lalu saya cari informasi soal Jalaluddin Rakhmat. Saat itu saya sudah menjadi pembina atau mentor di Keluarga Remaja Islam Masjid Salman (KARISMA) setelah hijrah pada semester kedua kuliah. Ternyata tidak banyak pengurus SALMAN yang tahu. Tepatnya, saya tidak ketemu orang SALMAN yang tahu sosok Jalaluddin Rakhmat. 
Saya telusuri setiap pamflet kegiatan untuk mencari ceramah Jalaluddin Rakhmat. Akhirnya saya menemukan info kegiatan kajian di Masjid UNPAD Al-Jihad di Dipati Ukur. Temanya tentang kepemimpinan umat Islam.
Acara itu diadakan setelah salat Asar. Banyak mahasiswa menunggu.
Beliau telat datang nyaris satu jam. Saat itulah saya, pertama kali seumur hidup, bertemu dengan sosok Jalaluddin Rakhmat. Perawakannya tidak tinggi, kacamata tebal, rambut agak gondrong, pakai kemeja dan celana kain serba hitam-hitam. Cukup aneh menurut saya saat itu. Saya baru tahu belakangan bahwa pakaian hitam-hitam adalah tanda berkabung. Saya menduga kajian itu diadakan pada bulan Muharram karena berkenaan dengan syahadah Imam Husain.

Beliau ceramah hanya setengah jam dengan retorika yang sangat memukau. Beliau mengutip hadis dari Jabir bin Samurah. Isinya tentang kepemimpinan dua belas khalifah. Dalam Sahih Bukhari diriwayatkan, bahwa Jabir bin Samurah berkata, "Aku mendengar Nabi Muhammad Saw bersabda, "Akan ada dua belas amir. Kemudian Nabi menyampaikan sesuatu yang tidak aku dengar. Ayahku berkata, Nabi Saw bersabda, ‘Kesemuanya berasal dari Quraisy." 

Dalam Sahih Muslim, kontennya sedikit berbeda. Disebutkan Jabir bin Samurah berkata Nabi Muhammad Saw bersabda, "Islam akan berjaya sampai ada dua belas khalifah yang berkuasa atas kaum Muslimin." Kemudian Nabi mengatakan sesuatu yang Jabir tidak mengerti. Lalu ia bertanya kepada ayahnya, apa yang Nabi sampaikan. Ayahnya berkata, "Semuanya berasal dari Quraisy." 

Hadis ini membuka pikiran saya. Dua belas itu kata kunci. Jika memang umat Islam harus bersatu dalam satu kepemimpinan maka soal sosok dan jumlahnya harus definitif agar setiap golongan tidak saling klaim. Mereka harus hati-hati dengan Jalaluddin Rakhmat, karena memporakporandakan setiap kelompok yang merasa memegang kunci surga. 

Pengajian setengah jam di Masjid UNPAD itu membuat saya bergairah berguru kepadanya. Setelah beberapa waktu, saya mendapat informasi bahwa Jalaluddin Rakhmat punya pesantren mahasiswa di daerah Tubagus Ismail. Namanya “Miftahul Khoir”. 
 Saat saya datangi pada suatu siang, pondok tersebut sedang sepi. Semua santrinya sedang kuliah. Mayoritas dari UNPAD dan ITB. Saya utarakan maksud ke seorang pengurus yang ada, ingin nyantri ke Jalaluddin Rakhmat. Dia bilang, “Mas, pengelola pondok ini bukan Jalaluddin Rakhmat tapi Jalaluddin Asy-Syatibi.” Salah orang ternyata. 
Di kemudian hari saya memeroleh informasi bahwa pondok tersebut didirikan oleh KH. Abdurrahman Wahid pada 1985. Jalaluddin Rakhmat turut menjadi moderator seminar pembukaannya. Saya tidak tahu apakah pondok tersebut membuka ruang dialog antarmazhab setelah dikelola Jalaluddin Asy-Syatibi yang elite Partai Keadilan Sejahtera di Bandung.
Pada suatu Juni1994, saya ikut rombongan Al-Jawad ke Haul Imam Khomeini di Jakarta. Acaranya di rumah dubes Iran di depan Masjid Sunda Kelapa. Penceramahnya Jalaluddin Rakhmat. Saat hadirin bershalawat setiap awal atau penutupan suatu sesi, saya lantunkan takbir sambil angkat Alquran saku. Saat itu saya sudah dipecat dari halakah tapi mindset dan gaya harakah masih tidak hilang. 

Isi ceramah beliau tentang kontribusi Imam Khomeini pada persatuan umat Islam. Beliau lalu mengutip fatwa Imam Khomeini bahwa shalat berjamaah di belakang Sunni adalah sah dan tidak perlu diulang. 
Sikap saya mengangkat Alquran saat hadirin bersalawat membuat beliau beberapa kali menatap saya dengan tajam. Saya tahu pasti sebab saya duduk persis di barisan kedua, di hadapan beliau.

Dalam proses belajar selanjutnya, saya banyak membeli kaset ceramah beliau dari Pak Ahmad Jubaeli, ketua Yayasan Al-Jawad. Ceramah beliau sangat menarik dan menyegarkan, serius tapi ada humornya. Bersama kawan-kawan asal Makassar yang kuliah di Bandung, saya juga suka ikut pengajian Ahad pagi di Masjid Al-Munawarah, yang terletak persis di belakang rumahnya di Kiaracondong. Saya mendapat informasi, bahwa beliau meminta setiap undangan pengajian di luar tidak boleh bertabrakan jadwal dengan pengajian Ahad. Betapa beliau sangat menghargai dan komitmen dengan majlis ini.

Dari semua ceramah yang saya ikuti, saya merasakan ada hawa perlawanan terhadap kezaliman. Isinya bisa tentang apa saja, tapi dari perspektif kaum tertindas. 

Contoh, beliau ceramah soal keutamaan salawat. Yang dikisahkan adalah sosok ibu tua yang membersihkan pekarangan masjid dari dedaunan kering yang berserakan. Ibu itu sengaja memungut daun satu persatu sambil baca salawat. Tema salawat diturunkan dari langit menjadi bagian dari fenomena sosial. Membaca salawat berarti kecintaan dan pengabdian kepada Nabi dan keluarga sucinya, sekaligus pengharapan syafaat mereka. 
Contoh lain, beliau ceramah soal konsep pendidikan Islam. Sudut pandang yang diambil adalah bagaimana umat Islam akan dizolimi jika tidak fokus pada pendidikan. Model pendidikan SMA Muthahhari yang beliau dirikan banyak ditiru sekolah-sekolah Islam lainnya.
Saat beliau membacakan narasi Karbala, nuansanya menjadi progresif revolusioner. Bahwa Karbala itu tidak jauh, bisa terjadi setiap saat, menimpa siapa saja. Terutama jika kita abai dengan penindasan dan ketidakadilan yang ada di sekeliling kita. Saya setuju, kita harus hati-hati dengan Jalaluddin Rakhmat karena ceramahnya mengusik zona nyaman keberagamaan kita yang tercerabut dari realitas sosial.
Setiap kajiannya selalu penuh referensi. Seringkali beliau membuka gadgetnya untuk memastikan tidak salah kutip ayat atau kitab. Beliau familiar dengan produk teknologi terkini. 
Saat menjawab pertanyaan di akhir kajian, beliau selalu kasih tanggapan menyentil, kadang menusuk, menyindir, jika ada pertanyaan yang tidak logis, menjebak atau sok tahu, karena sebenarnya itu gangguan. Saya sering mendengar beliau menyatakan, "Ini pernyataan, bukan pertanyaan, tapi dikasih tanda tanya."
Di hadapan beliau, kita dipaksa cerdas, berpikiran maju, meluaskan wawasan, dan tidak baperan. Jika kita hanya mengandalkan dan sudah puas dengan satu rujukan saja, siapkan mental, karena sikap kita bakal dikuliti. Hati-hati dengan Jalaluddin Rakhmat karena memaksa kita harus terus belajar dan mengkaji. 
Dalam pengajian Ahad, beliau suka menyebut istrinya, Ibu Euis Kartini. Jika kita mendengar harfiah, seolah-olah beliau sedang meledek istrinya. Saya suka melihat Ibu Euis yang duduk di barisan belakang perempuan, tertawa saja diledek demikian. 
Tapi memang, jika kita perhatikan dengan seksama, itu adalah ekspresi sayang beliau kepada istrinya. 
Saat membahas buku Bimbingan Islam untuk Suami Istri karya Ayatollah Ibrahim Amini, beliau menyatakan bahwa tanda orang sayang pada sesuatu adalah dengan sering menyebutkannya. Perasaan itu harus diungkapkan sebagai bentuk psikologi komunikasi yang baik. Nah, dalam pengajian-pengajian Ahad, istrinya adalah orang yang paling sering dijadikan contoh. 
Saya pernah berusaha mencontoh beliau. Pada beberapa diskusi dengan kalangan mahasiswa, saya memuji istri saya yang kebetulan juga ikut. Setelah acara selesai dan kami tiba di rumah, istri saya ngomel agar jangan bawa-bawa namanya saat bicara di depan umum. Gaya boleh sama, tapi kualitas beda karena beda maqam.
Ada tiga pengalaman pribadi terkait beliau yang masih tertanam di benak saya hingga kini. Pertama, saat hadiri pengajian beliau di Puri Mutiara, Jakarta Selatan. Saat ramah tamah selesai pengajian, saya kebetulan mengeluarkan Nokia 9210, ponsel termahal yang saya punya pada masa itu, di depannya. Beliau tersenyum dan spontan bilang, “Saya punya 9210i.” Itu seri yang lebih tinggi, dan tentu lebih mahal. Beliau skakmat saya yang ingin bergaya di hadapannya.
Kedua, saat hadiri kajian hadis di Kemang pada September 2013. Anak bungsu saya baru lahir. Saya ingin anak saya didoakan. Hingga acara berakhir dan tanya jawab, saya tidak punya kesempatan mengungkapkan maksud saya. Tiba-tiba beliau bertanya bagaimana anak saya, persis dengan apa yang saya niatkan.
Ketiga, saat hadiri majlis Doa Nabi Khidir di Komplek DPR, Kalibata. Saya datang terlambat sehingga hanya bisa duduk di ruang tamu sebab ruang tengah sudah penuh. Selesai berdoa bersama, beliau memberikan ceramah. Salah satu isinya membahas postingan video seorang ulama yang memberikan contoh bagaimana jongkok untuk menuntaskan sisa air kencing. Sebab setetes air kencing membuat salat yang didirikan diatasnya tidak sah. Beliau kritik video tersebut. Katanya, hendaknya kita memberikan kemudahan dalam beribadat. 
Saya spontan protes dalam hati. Menurut saya, hukum agama tidak bisa diabaikan begitu saja. Tiba-tiba beliau langsung menjawab, minta maaf jika ada hadirin yang tidak setuju dengan konsepnya. Beliau menjelaskan bahwa hukum agama hendaknya dijalankan sesuai kemampuan. 
Dari beberapa pengalaman pribadi tersebut, mungkin kita perlu hati-hati dengan Jalaluddin Rakhmat. Karena beliau bisa mendengar suara batin kita. Setidaknya batin saya.
Tiba-tiba saya menerima kabar duka bahwa beliau wafat pada Senin sore 15 Februari 2021. Menurut rencana, beliau akan dimakamkan pukul 20 di hari yang sama. Saya putuskan segera ke Rancaekek, dari Bekasi pakai angkutan umum. Saya baru dapat bus pukul 18 lewat. Saya sudah pasrah datang terlambat. Saya tiba di Sangiang pukul 21.30 WIB, jenazah sedang ditalqinkan oleh Ust. Husein Al-Kaff. Lokasi pemakaman keluarga tidak jauh dari SMP Muthahhari. 
Seumur hidup, saya baru pertama kali injak kaki ke sini. Sekolah ini berada di tengah-tengah pemukiman warga. Banyak warga sekolahkan anaknya di sana. Keluarga besar beliau memang dikenal baik hati dan penyantun. Tidak ada syiahisasi sebagaimana yang dihembuskan para pembenci mazhab Keluarga Suci Nabi. Karena itu, warga setempat tidak peduli dengan propaganda agar hati-hati dengan Jalaluddin Rakhmat. 
Saya mendengar, siswa yang tinggal di asrama ditekankan salat berjamaah dengan warga sekitar. Jika beliau berkesempatan mengisi pengajian rutin mingguan warga, beliau pakai bahasa Sunda. Sedemikian guyup dan pluralnya beliau membangun ukhuwah islamiyah. Kita memang harus hati-hati dengan Jalaluddin Rakhmat karena membuka pikiran kita bahwa rahmat dan kasih Allah SWT sangat luas. Al-Fatihah. ***

 

 

Tue, 23 Feb 2021 @13:00

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved