Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Mengenang Jalaluddin Rakhmat: Elang Penjelajah Banyak Wilayah

image

Berita wafatnya tokoh cendekiawan Muslim Indonesia Dr KH. Jalaludin Rahmat—akrab dipanggil Kang Jalal—membuat masyarakat yang mengenali merasa kehilangan. Berbagai kalangan turut mengantarkan keperistirahatan terakhir, dengan mengenang berbagai kebaikan serta ilmu-ilmu yang diwariskan melalui karya-karyanya. Kang Jalal, merupakan tokoh Muslim yang memiliki pengaruh besar. Tidak bisa dimungkiri bahwa karya-karyanya menjadi rujukan untuk mahasiswa serta peneliti di Indonesia, misalnya ilmu komunikasi dan ilmu-ilmu lainnya seperti keislaman, yang membuat ia dekat dengan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan kader-kader dari ormas Islam tertua di Indonesia. 

Kang Jalal menghembuskan nafas terakhir dan beritanya tersebar di mana-mana. Untuk mengenang perihidup cendekiawan Muslim, Kang Jalal, dilakukan dengan banyak cara. Para sahabat, kolega—yang merupakan tokoh dan intelektual—serta murid-muridnya menggelar acara Doa bersama Mengenang Kang Jalal. Kali ini mereka menyelenggarakan acara Doa Bersama melalui zoom. Kegiatan ini dihadiri 600-an orang, dan sebagian di antaranya memberikan kesaksian tentang kiprah intelektualnya, radius pergaulannya, kebersahajaannya, dan lain-lain. Acara Nurcholish Madjid Sociaety (NCMS) ini dimoderatori oleh Indah Ariani.

Ibu Omi Komaria Madjid, dalam sambutannya mengatakan bahwa Kang Jalal merupakan seorang pemikir Muslim yang berdedikasi. Kang Jalal sama seperti halnya dengan Gus Dur, Cak Nur, Buya Syafii, telah memberikan teladan kepada generasi muda tentang pentingnya intelektualisme dalam memahami agama. Kang Jalal juga banyak sekali mengajarkan sekaligus memberi contoh pentingnya memerkaya keilmuan dan berfikir positif. Omi juga menceriterakan bahwa Kang Jalal sangat respek dengan Cak Nur. Begitu pun Cak Nur. Cak Nur juga mengagumi Kang Jalal karena wawasannya yang luas sekali. Kang Jalal, lanjut Omi paling sering di minta Cak Nur untuk mengisi pengajian di Paramadina, lembaga yang didirikan Cak Nur, dan Kang Jalal sangat senang sekali karena di situ ia bisa berbicara bebas dan penuh suasana keterbukaan.  

Menurut Omi, di pengajian Cak Nur juga banyak yang protes kehadiran Kang Jalal, tapi Cak Nur meminta jalan terus karena beliau mengajarkan betapa pentingnya kita mendengarkan pendapat orang lain dari berbagai aliran pemikiran, dan itu kata Cak Nur, adalah hal yang prinsip. Begitu pun Kang Jalal. Kang Jalal sangat santun dan nadanya jelas jika memberikan pengajian, tapi disertai dengan humor dan sindiran yang halus”, tutur Mbak Omi. 

Komarudin Hidayat mengatakan, tak bisa dimungkiri bahwa di tahun 90an Paramadina telah memberikan panggung kepada Kang Jalal, sehingga ia bisa mengenal kelas menengah Jakarta, namun Paramadina juga mesti berterimakasih karena Kang Jalal ikut mendewasakan dan mengembangkan pemikiran Cak Nur tentang Islam yang inklusif-pluralistik. Dan, hal yang menarik dari Kang Jalal adalah keberaniannya untuk berubah. Perubahan ini digambarkan misalnya oleh saat pertama mengisi di Paramadina, tentang Islam yang inklusif. Kang Jalal mempunyai kharisma tersendiri di hadapan Cak Nur, saat bagaimana perdebatan dengannya mengenai berbagai macam isu fiqh.  

Selanjutnya Kang Jalal mengalami perubahan dari yang tadinya fiqh oriented di kemudian hari berubah menjadi seorang Sufi, yang mendalami ilmu tasawuf. Spiritualitas dan tasawuf mazhab cinta sangat mewarnai perjalanan intelektualnya. Belakangan, Kang Jalal juga mengapresiasi Teori Pembelajaran. Ia mengkritik pendekatan neuro-science terhadap kebahagiaan, karena menurutnya neuro-science itu dipakai oleh orang-orang yang mempromosikan tentang kebahagiaan untuk tujuan komersalisasi. 

Neng Dara Affiah, menceriterakan pada 1992 di mana saat itu gelombang kesetaraan gender dan Islam di Indonesia sedang merangkak. Pada tahun itu Paramadina sedang mengundang salah seorang tokoh femionisme Islam, Rifat Hasan dari Amerika, untuk berbicara tentang “Kesetaraan Gender dan Islam di dalam Alquran”. Untuk membandingi pemikiran Rifat Hasan, maka mengundanglah Kang Jalal sebagai pembicara dengan peserta sangat terbatas. Dan saat itu, tutur Neng Dara, Kang Jalal membuat paper yang sangat brilian tentang perspektif kesetaraan gender dan Islam dengan skema Alquran—padahal Kang Jalal sebelumnya tidak pernah menulis satu pun isu feminis. Kang Jalal menerangkan tentang ayat-ayat Alquran dan kesetaraan gender, dan menjabarkan bahwa persamaan kesetaraan Gender antara perempuan dan laki-laki itu sama dalam soal keimanan. Perspektif yang dipakainya adalah sufistik bukan perspektif fiqhiyah. 

Juga, pada tahun 1988. Di UIN Ciputat, saat itu cukup marak kajian pemikiran-pemikiran Persia (Iran) terutama filsafat kontemporer, sepertinya pemikiran itu mewarnai terjadinya Revolusi Iran pada tahun 1979. Bagi Neng Dara, Kang Jalal berkontribusi besar terhadap populernya Filsafat Persia (Iran) untuk mengimbangi filsafat Barat pada masa itu.  

Di tahun yang sama, UIN menyelenggarakan seminar dialog Sunni dan Syiah, dengan menghadirkan Kang Jalal. Namun, amat sangat disayangkan seminar itu bukan untuk mendialogkan melainkan menghakimi, mempermalukan dan menjatuhkan Kang Jalal. “Saya kira peran Gus Dur dalam membela Kang Jalal harus kita apresiasi. Gus Dur pernah bilang kalau Syiah itu mencintai Ali, mencintai Fatimah. Ya, kami ini orang NU Syiah, jadi jangan digeneralisir bahwa yang mencintai Ali mencintai Fatimah itu Syiah”, tutur Neng Dara. Neng Dara mengaku telah mengkonsumsi pemikiran Kang Jalal terutama pemikiran sufistik yang indah dan sangat dalam. Baginya, Kang Jalal adalah ilmuan dengan pengetahuan umum paripurna 100 persen. Dan Ulama dengan pengetahuan agama yang 100 persen. 

Sementara Musdah Mulia, mengaku mengenal Kang Jalal di Televisi tahun 1997. Saat itu, kata Musdah, Kang Jalal ditantang Ahli Hadis dari Bandung, betapapun Ahli Hadis dari pihak sebelah menyerang Kang Jalal, tapi wajah Kang Jalal tetap senyum, tetap adem, dan ini, lanjut Musdah, salah satu yang harus ditiru bahwa kita harus bisa menahan amarah. Yang kedua, Kang Jalal mengundangnya di markas dan memperkenalkannya ke teman-teman Syiahnya, dan berdiskusi bersama mereka. Kang Jalal berusaha membuat teman-teman Syiahnya ini berpikir kritis mendengarkan pandangan-pandangan yang baru, meskipun itu tidak menyenangkan untuk mengubah sebuah kebiasaan yang sudah ribuan tahun terpatri di dalam hati Umat. “Kang Jalal juga pernah bilang kepada saya bahwa saya sebenarnya lebih Syiah dari pada mereka, karena pikiran saya dianggap sangat maju”, jelas Musdah. Dari situ, lanjut Musdah, ia mengaku hubungannya dengan komunitas Syiah terjalin dengan akrab. 

Buku Kang Jalal yang sangat inspiratif berjudul “Dahulukan Akhlak di Atas Fikih”. Dalam buku ini mengajarkan kepada kita bahwa beragama itu harus mengedepankan akhlak, meskipun ibadah shalat dan puasa itu kita penuhi tapi jika tidak direfleksikan dengan akhlak dalam relasi antar sesama, maka itu akan jadi percuma. Jadi, ujung dari beragama adalah akhlak. Begitupun juga, Kang Jalal mengajarkan kita beragama dengan cinta kasih, di mana kita beragama mengedepankan ahlak. Inilah yang membedakan cara beragama dengan mengedepankan fikih yang hanya bermuatan halal dan haram, dan tidak jarang melakukan penghakiman terhadap orang lain.   

Begitulah. Kang Jalal adalah potret intelektual beriman. Pemikiran Kang Jalal memang bukan sepenuhnya untuk telinga zaman ini; zaman di mana populisme menggertak; hoaks menyerbu; post-truth mencengkeram; dan sosmed menjebak kehidupan kita semua. Memang, butuh hati yang terbuka, akal yang jernih, dan wawasan yang luas untuk bisa mengambil manfaat dari kembara pemikiran Islam Kang Jalal.  

Haidar Bagir, menggambarkan begitu apik pengembaraan Kang Jalal. Menurutnya, pemikiran/aliran lah yang mencari pemeluknya sendiri. Menurut Ibn Arabi, setiap orang memiliki isti’dad, predisposisi. Jadi ketika Gusti Allah itu menebarkan kebenaran di banyak hal, di dalam berbagai agama, budaya, termasuk madzhab, dan aliran pemikiran. Maka, pengembaraan yang luas lah yg memungkinkan seseorang bertemu dengan aliran dan pemikiran yang sedang mencari pemeluknya dengan predisposisi yang dimilikinya. “Kang Jalal menjadi syiah itu bukan karena menjadi objek pengaruh pemikiran syiah, atau dibentuk oleh seseorang tokoh syiah. Tetapi karena Kang Jalal memiliki predisposisi sebagai pencinta tasawuf, di saat yang sama beliau juga memiliki predisposisi sebagai seorang rasionalis, dan memiliki predisposisi sebagai pembela mustad’afin (kelompok tertindas). Predisposi-predisposisi tersebutlah yang kebetulan sejalan dengan pemikiran madzhab syiah, terutama syiah yang revolusioner, yang membela mustad’afin”, terangnya. 

Haidar Bagir mengaku, sejak 40 tahunan lalu ketika mulai mengenalnya, saat Kang Jalal masih berusia 30-an, ia sudah melihat karya-karya Martin Buber, Jean Paul Sartre, dan para pemikir eksistensialis lain di rak buku rumahnya. “Saya yakin Kang Jalal sudah membaca Heidegger pada masa itu. Karena ketika masih guru muda SMP Muhammadiyah, Kang Jalal sudah membaca karya-karya Spinoza. Ini luar biasa! Sebab Kang Jalal pun, sejak kecil sudah belajar “mengaji” di pondok pesantren sehingga menguasai kitab-kitab kuning — khasanah ilmu keislaman klasik. Kenyataannya, tidak sedikit karya-karya buku tasawuf Kang Jalal, termasuk berbagai ceramahnya mengulas soal wahdatul wujud ini. Tema wahdatul wujud juga tertera dalam tulisan-tulisan Kang Jalal pada “Renungan-Renungan Sufistik”, “Reformasi Sufistik”, “Madrasah Ruhaniah”, dan lain-lain. 

Tidak mengherankan jika Yudi Latif, menggambarkan Kang Jalal seperti Elang yang merambah ke banyak dunia, dan ketika Elang ini terbang maka semua mata akan melotot ke atas karena kicauannya begitu menarik. Kang Jalal, menurut Yudi adalah seorang peziarah dalam arti keagamaannya maupun keilmuannya. Bagi Yudi, Kang Jalal adalah pembaca yang sangat tekun, menjelajahi banyak ilmu dan juga pemikir yang sangat subur, sehingga saking jauhnya jangkauan, maka ia tidak melahirkan legasi magnum opus di dalam keagamaan. Magnum opusnya ada di ilmu komunikasi. Kang Jalal adalah penjelajah setia. 

Searah dengan Yudi, Lukman Hakim Syaifudin—Mantan Menteri Agama RI—mengatakan Kang Jalal adalah penggugah sekaligus pencerah karena wawasannya yang sangat luas dan artikulasinya yang sangat menarik. Dari sisi akhlak, ia menyaksikan tidak pernah melihat Kang Jalal marah atau melampiaskan emosinya, bahkan berhadapan dengan lawan debatnya pun, ia punya kemampuan mengendalikan diri yang luar biasa. “Ketika saya mendapatkan amanah sebagai Menteri Agama, saya diminta Kang Jalal memberikan pengantar buku yang berjudul “Syiah Menurut Syiah”. Saya juga memfasilitasi muktamar ABI di kantor Kementerian Agama dan saat itu juga saya dihujat oleh banyak kalangan Muslim”, ujarnya. Lukman mengenang saat ia dinasehati oleh Kang Jalal, “Jangan terlalu jauh memfasilitasi Syiah. Biarlah kami yang menjelaskan ke masyarakat tentang Syiah. Jangan Anda!” Bagi Lukman, Kang Jalal adalah sebuah pribadi yang memesona dan akhlaknya mulia.  

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, Komaruddin Hidayat juga tidak menafikan bahwa Kang Jalal adalah sang peziarah sejati selain juga seorang Intelektual dan Spiritual. Komar melihat gaya Kang Jalal dalam beragama yang seperti bercanda dengan rasa cinta dan akrobatik intelektual tetapi bertanggungjawab, sehingga menurutnya, terlalu sederhana kalau kita menganggap dia seorang Sunni maupun seorang Syiah, karena pada hakekatnya pencarian yang Absolute itu tidak akan pernah berhenti, dan hanya kematianlah yang membuatnya berhenti. 

Beragama adalah sebuah pencarian yang indah dan penuh cinta tapi serius dan produktif. Kang Jalal, menurut Komar, melakukan Pasing Over/lintas batas, melewati tembok-tembok batas-batas agama. Ia seorang peziarah yang tak pernah berhenti pada satu titik. Selalu melanjutkan perjalanan ke tempat entah dan tidak pernah puas lama singgah pada sebuah wilayah. Mazhab sebagai sebuah jazirah bukan untuk menetap selamanya, tapi medan pergumulan pencarian atas kebenaran.  

Ahmad Gaus AF. Salah satu narasumber dalam kegiatan webinar Doa Bersama Mengenang Kang Jalal ini, membacakan puisi berjudul “Taqiyyah”. Sebelum membacakan puisi, ia mengucapkan: “Selamat jalan Kang Jalal, salah satu bintang cendekiawan, putra terbaik bangsa ini. Titip salam untuk Cak Nur, Gus Dur, Mas Tom, Mas Djohan, Mas Dawam, dll yang mungkin sedang menunggumu di Klub Kajian Agama (KKA) atau Majelis Reboan. Kita semua akan menyusulmu…”

Berikut puisi yang dibacakannya di malam itu: 

Taqiyyah

Requiem untuk Kang Jalal

 

Iman itu rahasia antara manusia dengan Tuhan

Tempatnya di dalam penghayatan

Iman itu mungkin sejenis pepohonan gaib yang tumbuh di kalbu mukasyafah

Yang terlihat hanya buahnya berupa amal saleh

Memang benar taman-taman menjadi indah dengan aneka ragam pepohonan

Tetapi kita harus hati-hati, karena di sini banyak orang yang tidak rela atas keragaman

Mereka akan menebang pohon-pohon itu dan menjadikannya kayu bakar

Selama golongan yang tidak rela itu merajalela

Maka pohon-pohon keimanan yang lain tumbuh secara taqiyyah menjadi pohonan gaib

Engkau mungkin salah satu dari pohonan gaib itu

Tapi buah-buahan dari pohonmu telah menjadi makanan bergizi bagi bangsa ini.

Selamat jalan Kang Jalal, tokoh pemikir Syiah paling brilian

Cendekiawan Sufi tiada tandingan

Amal jariyahmu warisan ilmu pengetahuan

Insya Allah engkau min ahlil Jannah

(Prof Dr KH Jalaludin Rakhmat wafat pada hari Senin, 15 Februari 2021)

Kang Jalal, selain dikenal sebagai cendekiawan alim yang tulus, juga seorang komunikator ulung. Ia menjadi magnet tersendiri bagi pengagum karya-karya dan pemikirannya. Dengan gaya retorikanya yang khas dan memikat, ia mengubah cara pandang banyak orang. Siapapun yang pernah mendengar ia bicara, atau membaca artikel dan buku-buku karyanya, tidak mungkin menyimpulkan lain kecuali bahwa ia seorang yang brilian. Keunggulan lisannya setara dengan kecanggihan tulisannya.

Pendeta Albertus Patty termasuk salah seorang pengagum Kang Jalal. Ia menceriterakan, “Saya suka dengan kecerdasan dan cara beliau menyampaikan orasinya. Orang orang ini sebetulnya yang menjadikan saya dituduh sesat oleh Kristen karena lintas iman saya. Ketika saya berjumpa dengan Kang Jalal seperti saya berjumpa dengan beberapa mazhab. Semua percakapan dengannya adalah gabungan dari itu semua. Semua berujung pada cinta dan kemanusiaan.” 

Albertus menuturkan, pada tahun 1987 ia meminta Kang Jalal sebagai pembicara di Gereja GKI, karena Kang Jalal adalah tokoh lintas Agama. Dari perjumpaan dengan Kang Jalal, ia mengaku belajar banyak bagaimana menjadi rohaniawan atau agamawan dan sekaligus Intelektual. Kang Jalal, menurutnya bukan cuma berkontribusi dalam keislaman saja, tetapi juga dalam kenegaraan dan kemanusiaan. 

Romo Franz Magnis-Suseno juga mengamini bahwa Kang Jalal adalah sosok cendekiawan dan tokoh Islam beraliran Syiah, tetapi juga seorang yang berpikiran terbuka, berwawasan luas, berspiritualitas dan bahkan tak jarang bertukar pikiran dalam beberapa aliran agama. “Sebagai Kristen Katolik tentu saya berhadapan dengan Islam Sunni dan Islam Syiah—sebagaimana setiap hari kami berhadapan dengan Kristen Protestan. Perang antara Katolik dan Protestan berlangsung selama 500 tahun yang membawa pada sikap saling mencurigai, tidak saling menyukai dan saling bersaing. Pengalaman-pengalaman itu membawa kami bisa membangun hubungan saling menghargai dan menghormati, bahkan saling memperkaya. Dulu kami berkelahi atas nama Tuhan Yesus. Saya selalu mengharapkan hubungan kami dengan saudara-saudara dari Muslim juga berkembang semakin baik.” 

Sementara Bante Dhammasubo menceriterakan pengalamannya bersama Kang Jalal. Saat itu tahun 1988 Kang Jalal mengirim mahasiswinya ke Wihara dalam rangka menyusun skripsi. Baginya, Kang Jalal ini seorang ilmuwan dan cendekiawan. Banyak orang yang ilmuwan tapi tidak cendekiawan. Kang Jalal adalah orang yang disayang dan di rawat oleh alam. Orang orang seperti Kang Jalal, lanjut Bhante, bisa menempatkan harga hidup di atas harga diri, menempatkan harga diri di atas harga materi. 

Bagi Philips Vermonte, Kang Jalal telah membuka cakrawala bagi generasi muda. Pada awal tahun 90an adalah awal Internet masuk ke Indonesia. Waktu itu, LIPI Bandung mengadakan seminar tentang Internet, dan pembicaranya Cak Nur dan Kang Jalal. Cak Nur maupun Kang Jalal, mengatakan bahwasanya Islam harus embrace terhadap ilmu pengetahuan. Dari manapun datangnya sumber ilmu pengetahuan, ia adalah hikmah. Karena itu, tak heran jika Muhammad Ali menyebut Kang jalal sebagai penjelajah intelektual dan spiritual. “Sebagai orang yang pernah berguru secara langsung maupun tidak langsung kepada Kang Jalal, saya harus akui percik-percik pemikirannya bagai spektrum pemikiran yang memantulkan beragam pola pemikiran Islam kritis dan sufistik.  

Gagasan Kang Jalal dalam bidang keilmuan dan pemikiran Islam merambah banyak tema, mulai fikih, teologi, filsafat dan berakhir di tasawuf”, jelas Ali. Karena itu, lanjut Ali, “Kang Jalal bukan merepresentasikan Sunni atau Syiah karena ia selalu mengutip berbagai pendapat dari kalangan keduanya dan kemudian mencari benang merah, persamaan dan perbedaannya, meskipun kemudian cenderung kepada pemikiran tertentu tapi Kang Jalal selalu melakukan sintetis dari berbagai pemikiran itu.” 

Tidak berhenti di situ. Kang Jalal juga berinteraksi dengan umat agama lain dan dalam sejumlah tulisannya Kang Jalal mengatakan bahwa dengan berinteraksi dengan umat lain, maka keimanannya menjadi lebih kuat. Selain dengan umat agama lain, Kang Jalal juga berinteraksi dengan pemikiran anti agama atau ateisme. Namun demikian, Kang Jalal berusaha untuk mempertahankan dan membela Iman dan agama di tengah ancaman ateisme di belahan Dunia Barat. 

Dalam suatu kesempatan, seperti dituturkan Ali, Kang Jalal pernah bilang, “Jangan bandingkan saya dengan pemikir, sebab saya ini orang sederhana, tetapi saya memang ingin berbicara dengan banyak orang. Saya hanya ingin mengekspresikan dan mengungkapkan kecintaan saya kepada Allah, kecintaan saya kepada Nabi Muhammad, kecintaan saya kepada Ahlul Bait dengan mencintai sesama dan ke siapa saja.” 

Bahwa ada sebagian orang yang membenci Kang Jalal itu sebenarnya bukan karena orangnya, tapi karena ada pengaruh dari seseorang atau beberapa orang yang menjadikan kebencian yang bisa diperjualbelikan. Bagi Najib, Kang Jalal memiliki peran besar, sehingga kita bisa mengetahui tentang Syiah melalui Islam cinta Tasawuf. Bahwa sebagian orang memiliki pandangan Syiah itu Mut’ah dan lain-lain, tetapi Kang Jalal mencoba untuk mengubah itu dan menunjukkan bahwa dengan cara mengenal keluarga Nabi itu dengan tasawuf atau jalan cinta. Yang menarik lagi, Syiah yang dikenalkan Kang Jalal ke masyarakat itu berbeda dengan Syiah yang lain, yakni Syiah yang Indonesia, Syiah yang beradaptasi dengan tradisi di masyarakat. 

Sementara Fachry Ali, melihat bahwa Kang Jalal adalah tokoh yang sistem gagasannya dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan global. Menurut Fachri, pada tahun 80an pikiran Kang Jalal cukup otoritatif. Di dalam pengertian bahwa ketika Negara baru begitu kuat, maka yang menjadi juru bicara Orde Baru umumnya diragukan pendapatnya dan mereka yang berada di luar Negara itulah yang lebih dicari. Nah, dalam situasi itulah, lanjut Fachry, Kang Jalal tampil sebagai seorang pemikir dalam hal ini. Fachry menggambarkan kedekatannya dengan sosok Kang Jalal, “Saya kenal secara pribadi dengan Kang Jalal. Kang Jalal adalah seorang pemikir dan pengagum Revolusi Iran. “Jadi saya menganggap Kang Jalal adalah tokoh yang sistem gagasannya dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan global. Kang Jalal pernah mengatakan Revolusi Iran itu adalah satu satunya revolusi yang didorong oleh kekuatan agama dalam abad modern ini”, jelasnya. Bagi Fachry, Kang jalal adalah kultur, politik dan di atas itu semua, ia seorang intelektual yang gagasannya dibutuhkan oleh masyarakat terutama kelas menengah kota yang terpelajar, dan inilah posisi struktural Kang Jalal. 

Selain Fachry, Ulil Abshar Abdalla, membagi dua periode dimulai sejak Orde Baru sampai sekarang. Periode pertama adalah periode “Mencari Islam”, dan yang kedua adalah periode “Pembela Islam”. Periode mencari Islam dimulai sejak tahun 70an era ketika Ahmad Wahid mencari dan merenungkan tentang Islam yang kemudian lahirlah buku “Pergolakan Pemikiran Islam”. Periode ini mewakili suasana kebatinan para mahasiswa aktivis tahun 80an dan 90an. Inilah era mencari Islam. Kang Jalal tumbuh sebagai intelektual di periode ini. Ulil juga menjadi bagian di dalamnya karena ia merasa dibentuk oleh periode ini. Periode ini ditandai dengan pemikiran-pemikiran yang sangat kreatif dan banyak pemikir Indonesia yang tumbuh berkembang pada periode ini.

Kedua, Periode Pembela Islam dimulai sejak era Reformasi, tahun 2000an sampai sekarang. Era ini, menurut Ulil, bukan ditandai oleh pencarian ide-ide dan ekplorasi gagasan penjelajahan seperti yang dilakukan oleh Kang Jalal, tapi ditandai oleh orang yang ingin membela Islam dari ancaman luar. Ini misalnya, ditandai dengan orang yang dengan mudah saling memurtadkan dan mengkafirkan orang atau kelompok lain yang dinilai tidak seideologi dengan kelompoknya. Amat sangat disayangkan bahwa Indonesia sekarang memasuki era Pembela Islam ini. Inilah era yang memusuhi pemikiran, memusuhi perbedaan dan memusuhi Kang Jalal dan yang lain-lain. Meninggalnya Kang Jalal, lanjut Ulil, perlu kita kenang sebagai sosok yang mewakili periode yang Mencari Islam—yang dikenang sebagai periode keemasan pemikiran Islam di Indonesia. 

Sedangkan putra sulung Kang Jalal, Ustadz Miftah Fauzi Rahmat yang tampil mewakili keluarga di sesi penutup, menceritakan bahwa sang Ayah adalah orang yang sangat perfeksionis dalam menyampaikan segala sesuatu, dia akan mempersiapkan dengan sebaik-baiknya apa yang akan disampaikan. “Saya menyaksikan dengan jelas paper yang akan disampaikan itu hasil dari berbagai buku bacaan. Sebagai seorang guru beliau menyampaikan itu dengan cara sebaik-baiknya. Bahkan sekiranya akan mengajar anak SMP sekalipun Bapak akan mempersiapkan presentasi dengan sangat baik”, terangnya. 

Apa yang disampaikan oleh para sahabat, kolega dan murid-muridnya dalam kegiatan webinar ini, menurutnya, adalah proses dari renungan-renungan, bacaan-bacaan sehingga bisa dishare sehingga dapat diketahui dampak-dampaknya dan jejak-jejaknya. 

“Bagi kami pribadi, Ayah adalah ujian integritas bagi tokoh, lembaga untuk dapat menerima pendapat dan memberikan ruang, kesempatan berbicara, dan tentu ini tidaklah mudah karena di sana masih ada lembaga yang mungkin masih ada pertimbangan—bahkan lembaga akademik sekalipun—yang tidak memberikan ruang… Dalam candaan, Ayah pernah bilang Cak Nur itu sebenarnya Syiah, karena dalam perjuangan Cak Nur itu ada tauhid dan yang kedua ada keadilan dari Allah. Pokok pokok pemikiran Cak Nur berlandaskan Keesaan Tuhan ini, bahwa sumber kebaikan ini satu, sumber ilmu itu satu, sumber cahaya itu satu, sumber segala yang indah itu satu. Itu juga yang sering diucapkan Cak Nur, tauhid dan keadilan yang meliputi kasih sayang Tuhan bagi semua Mahluk apapun latar belakang pemikirannya dan agamanya. Dan Bapak sangat bahagia dengan keyakinannya.” ***

 SUMBER https://www.facebook.com/groups/Islamilmiahindonesia/

 

Mon, 29 Mar 2021 @10:19

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved