Minat beli buku klik covernya
image

Minat BUKU hubungi WA Misykat

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Mimikri Gerakan Radikal dan Ekstremis dari Masa ke Masa: Bagaimana Solusinya? [by Neng Nuraeni]

image

Modus atau strategi yang dilakukan oleh gerakan radikal dan ekstremis relatif berbeda dari masa ke masa. Mereka memiliki beragam cara seperti bunglon ketika mengubah warna kulit sesuai lingkungan yang ditempatinya.

Dulu, sekitar tahun 2013-an waktu saya masih menjadi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), saya pernah diajak oleh Ibu Staf Perpustakaan untuk mengobrol di sela-sela jam istirahat atau ketika sedang mencari buku ke perpustakaan. Hal yang sama terjadi pada teman-teman saya, beberapa dari mereka saya temukan seringkali mengobrol dengan Ibu Staf Perpustakaan tersebut.

Pernah dalam beberapa waktu, saya temukan Ummi (panggilan guru Bahasa Sunda kami waktu itu) sedang mengobrol juga bersama mereka. Singkat cerita, ternyata Ibu Staf Perpustakaan dan guru Bahasa Sunda itu aktif mengkader siswa-siswa yang direktrut untuk dicekoki paham-paham Hizbut at-Tahrir Indonesia (HTI). Saya menyadari hal ini setelah saya memasuki Perguruan Tinggi.

Beberapa strategi yang mereka lakukan di sekolah, pertama, mereka melakukan pendekatan emosional terhadap beberapa siswa yang menurut mereka layak untuk dijadikan target dakwah. Dulu saya termasuk salah satu target mereka, dan saya sempat mengikuti mentoring di sebuah tempat (semacam kosan) tepat di sebrang sekolah.

Jika saya perhatikan, mereka mendekati siswa-siswa polos, labil, dan sedang mencari jati diri. Kemudian setelah berhasil mendapatkan hati siswa yang mejadi target dakwahnya, hal selanjutnya yang mereka lakukan adalah fokus membina mereka secara masif dengan membuat jadwal pertemuan mentoring. Di dalamnya para target seperti di-brain wash dan diajak berpikir sesuai alur pikiran para aktivis HTI itu. Dalam pertemuan mentoring yang saya ikuti waktu itu, hal yang dibahas adalah terkait batasan pergaulan antar lawan jenis seperti keharaman pacaran.

Saya rasa ini strategi yang cukup cerdas untuk diterapkan kepada para calon aktivis HTI, mengingat fenomena yang terjadi pada para siswa yang kebanyakan terserang virus bucinisme. Agar para calon aktivis HTI bisa fokus pada paham-paham HTI, para mentee HTI sengaja mengawali bahasan tersebut sebagai pintu awal untuk membentuk sebuah militansi pada jiwa para calon aktivis HTI sehingga mereka mentaati setiap doktrin yang diberikan oleh mentee tanpa mengkritisinya.

Saya pribadi menjadikan mentoring tersebut menjadi pertemuan terakhir saya dengan mereka, karena menurut saya di dalamnya terdapat doktrin janggal yang tidak rasional, misalnya mereka mengharamkan untuk hormat kepada bendera merah putih. Namun amat disayangkan, teman-teman saya yang lain, mengikuti setiap doktrin mereka dengan cepat dan sekarang ada yang sudah menjadi aktivis HTI. Walaupun secara administrasi kelembagaan HTI sudah dibubarkan, namun saya yakin para aktivis HTI tetap aktif menyuarakan ideologi kekhilafahan. 

Fenomena yang saya ceritakan di atas menjadi salah satu bukti dari penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2018, bahwa memang gerakan radikalisme dan ekstrimisme yang berkeliaran di Indonesia hampir masuk ke semua lini, salah satu di antaranya lembaga pendidikan, yakni sekolah dan universitas. Infiltrasi radikalisme di sekolah masuk melalui berbagai cara, diantaranya melalui kegiatan ekstrakurikuler, ustadz atau alumni yang berafiliasi dengan gerakan-gerakan radikal tertentu, hingga buku ajar Pendidikan Agama Islam yang diproduksi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam kasus sekolah saya pada waktu itu, gerakan mereka masuk melalui guru dan staf perpustakaan.

Adapun di universitas tempat saya kuliah, para aktivis HTI membentuk sebuah komunitas bernama Lembaga Studi Politik Islam (LSPI). Mereka bersembunnyi di balik nama LSPI untuk menarik perhatian para mahasiswa. Kajian-kajian politik ekonomi menjadi strategi cukup ampuh untuk menebarkan virus radikalisme kepada para mahasiswa yang sedang mencari arah hidup. Setelah beberapa mahasiswa berhasil direkrut, maka doktrin kekhilafahan mulai diberikan sebagai solusi dari setiap permasalahan yang ada. Saya amati beberapa teman saya yang tergabung ke dalam LSPI dan menjadi aktivis HTI sangat militan mengkampanyekan khilafah sebagai sistem ideal di semua Negara, termasuk Indonesia.

Adapun contoh lain dari gerakan kelompok ekstrimis yaitu sekitar tahun 2015-an kampus saya pernah mengadakan seminar Nasional yang menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang, di antaranya Miftah Fauzi Rakhmat dan Ulil Abshar Abdalla. Karena terjadi demo besar-besaran oleh kelompok tersebut, yang beberapa di antara mereka ada teman saya dari aktivis HTI ikut terlibat di dalamnya, sisanya adalah orang-orang yang tidak saya kenal, maka seminar pun gagal dilaksanakan.

Beberapa waktu setelah itu juga pernah diadakan seminar yang menghadirkan almarhum Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat dan Dr. Bambang Q. Anees, M. Ag sebagai pembicara, dan kebetulan saya menjadi panitia.

Saya sempat kebingungan waktu itu, karena H-1 sebelum acara, terpampang spanduk penolakan terhadap pembicara yang disebutkan pertama, tetapi alhamdulillah hal tersebut dapat diamankan dan acara tetap dapat dilaksanakan.

Meskipun begitu, saya mendapati ada dua selonong boys yang hanya datang pada acara tersebut untuk mengambil foto dan merekam bagian-bagian tertentu dari materi yang disampaikan pembicara, setelah itu keluar ruangan. Tak hanya sampai disitu, setelah acara selesai, saya sebagai panitia mendapatkan pernyataan tak mengenakkan dari salah satu dosen yang menghadiri acara tersebut. Dia seakan merendahkan saya, karena saya turut menyukseskan acara seminar tersebut.

Di era teknologi canggih seperti sekarang ini, tentunya strategi kelompok ekstremis sudah kita ketahui bersama, yaitu mengadakan perekrutan calon-calon “jihadis” melalui media sosial. Sistem mereka sudah canggih, menyebarkan narasi-narasi ekstremisme yang diframing seolah gerakan ekstrem mereka merupakan perintah agama, tentunya dengan kemasan kekinian dan menarik.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menampilkan data bahwa sejak 2015 lalu sudah ada 17 kasus terorisme yang memanfaatkan Telegram sebagai alat komunikasinya. Salah satunya, digunakan dalam kasus teror di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Januari 2016 lalu.

Dalam sebuah diskusi daring pada hari Sabtu (3/4/2021), mantan narapidana teroris, Haris Amir Falah mengatkan bahwa kelompok ekstremis menggunakan beberapa media seperti Telegram dan Facebook sebagai alat untuk melakukan pembinaan kepada calon-calon ekstremis. Implikasi dari masifnya gerakan-gerakan ekstremisme di media soial sangat mengkhawatirkan, karena selain dapat mempermudah seseorang untuk tergabung ke dalam organisasi teroris, fenomena sekarang juga menunjukkan bahwa sosial media dapat melahirkan lone wolf teroris, seperti kasus yang kita dengar beberapa bulan terakhir, yakni aksi teror bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar yang dilakukan oleh seorang suami berinisial L dan istrinya berinisial YSRpada hari Minggu (28/3/2021). Lalu aksi penyerangan di Mabes Polri Jakarta yang dilakukan oleh perempuan berinisial ZA berusia 25 tahun pada hari Rabu (31/3/2021).

Lalu adakah solusi Pemeritah melihat melihat keadaan tanah air kita yang sedemikian parahnya terpapar virus radikalisme dan ekstremisme? Kabar baiknya adalah Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarahpada Terorisme Tahun 2020-2024 (RAN PE), di dalamnya memuat serangkaian program yang akan dilaksanakan oleh berbagai kementerian dan lembaga terkait untuk mencegah ekstremisme berbasis kekerasan. Semoga saja adanya Perpres tersebut tidak hanya sekedar formalitas dan dapat diterapkan sebagai mana mestinya.

Sebagai seorang pemuda, apa yang bisa saya tawarkan untuk para pemuda yang sedang membaca ini agar terhindar dari paparan virus radikalisme dan ekstremisme?

Pertama, gunakan akal kita untuk berpikir kritis dalam menyikapi berbagai informasi yang datang pada kita. Jika kita menemukan guru dosen, alumni, ustadz, atau siapapun mengajarkan kebencian terhadap kelompok/golongan lain yang berbeda dengan kita, apalagi sampai memberikan label kafir, sesat, halal darahnya dan lain sebagainya, segera hindari mereka. Jangan bergaul dengan lingkaran orang-orang seperti itu, karena sejatinya agama itu adalah cinta. Agama tidak mungkin mengajarkan kebencian apalagi sampai melakukan tindakan-tindakan ekstrem yang menyakiti sesama manusia. Gunakan prinsip Sayyidina Ali dalam bergaul dengan manusia, “Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”. Artinya, bukan masalah jika kita berteman dengan yang berbeda kelompok/golongan dengan kita, selama mereka tidak mengganggu kita dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Ingat pula sebuah prinsip di dalam Islam tentang Maqasid al Syari’ah yang salah satunya adalah Hifdzu al Nafs yaitu menjaga jiwa manusia. Jadi sangat jelas bahwa agama tidak mengajarkan pembunuhan apalagi bunuh diri, karena agama sangatlah melindungi jiwa manusia.

Kedua, sadari betul bahwa kita ini adalah orang beragama yang hidup dalam tanah air bernama Indonesia. Artinya, jangan sampai kita beragama tetapi kita membenci atau bahkan sampai ingin menghancurkan tanah air kita dengan hal-hal yang menimbulkan pertengkaran dan perpecahan di antara warga Negara. Indonesia, kita tahu adalah Negara yang serba beragam dalam semua aspek, dan Pancasila adalah dasar Negara yang telah disepakati oleh semua warga Negara dari berbagai latar belakang sebagai nilai uiversal yang harus dihormati dan diamalkan bersama. Jangan mudah terhipnotis dengan ideologi-ideologi khilafah yang dikemas dengan framing agama padahal sebenarnya secara esensi ia sangat jauh dari nilai-nilai agama. Kita bisa lihat fakta sejarah, sepanjang sejarah Islam, justru khilafah itu proyek politik yang banyak merugikan manusia bahkan sampai menumpahkan darah manusia. Jadi ketika disuguhi paham- paham khilafah, kembalilah pada saran pertama, gunakan akal sehat untuk berpikir kritis, lihat gerakan-gerakan radikal seperti ini dari beragam perspektif, ilmu geopolitik misalnya.

Ketiga, bergabunglah dalam positive circle yang dapat meningkatkan produktifitas kita. Jangan sampai kita menjadi sampah masyarakat yang tidak berguna di Negeri sendiri. Minimalnya kita dapat memberikan sebuah kontribusi atau dedikasi terbaik kepada Negeri. Di tengah banyaknya gerakan radikalisme dan ekstremisme, saya sarankan para pemuda untuk terlibat dalam komunitas perdamaian dan komunitas lintas iman seperti Jakaratub, Peace Gen, YIPC Indonesia, dan masih banyak lagi. Dengan kita berbaur bersama mereka yang berbeda latar belakang dengan kita, persahabatan antar golongan akan dengan mudah terjadi.

Dengan begitu, kita telah membantu Negeri ini untuk meminimalisir angka intoleransi, karena seperti yang kita tahu, kasus intoleransi masih tinggi di Negeri ini. Dengan menjalin persahabatan antar-intra umat beragama, maka dialog antar-intra umat beragama pun akan dengan mudah dilakukan. Jika suatu saat kita masuk dalam dunia kampus, bagi kita yang muslim ikutilah organisasi-organisasi moderat seperti HMI, PMII, dan IMM. Saya juga sebenarnya mengharapkan organisasi seperti HMI dan PMII menjadikan masjid sebagai basis kajian rutinan, sehingga masjid tidak dikuasasi oleh organisasi-oganisasi radikal dan intoleran. Bagi kita yang non muslim bisa bergabung juga pada organisasi GMKI, PMKRI, GMNI, KMHDI.

Terakhir, cerdaslah dalam bersosial media. Jika kita ingin terhindar dari pemahaman negatif yang tidak menyehatkan jiwa kita, jangan mengikuti akun-akun yang penuh narasi kebencian dan provokasi, apalagi hoax. Ikutilah akun-akun yang sarat informasi positif dan mengajak kita untuk melakukan tindakan-tindakan baik, sehingga jiwa kita lebih sehat dan lebih produktif dari hari ke hari. Menghindari akun-akun negatif itu sangat penting, karena sosial media akan menampilkan sesuatu yang sering kita ikuti, sehingga bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika kita sering membuka akun-akun radikal misalnya, karena sering muncul di beranda kita, maka besar kemungkinan kita akan menganggap informasi tersebut sebagai sebuah kebenaran. Itulah kenapa sangat penting untuk menghindari akun-akun negatif, bahkan saya sarankan untuk melaporkan akun tersebut agar tidak dapat diakses sosial media. Jika kita serius mau berkontribusi, kita bisa membuat konten-konten tandingan yang lebih positif, tentunya dengan kemasan kekinian, menarik, dan tidak terkesan menyerang kelompok sebelah.

Sekian yang dapat saya sampaikan. Dari paparan yang telah saya sampaikan, dapat disimpulkan bahwa modus atau strategi yang dilakukan oleh kelompok radikal dan ekstremis sangatlah beragam di setiap waktu dan tempat. Kita jangan sampai lengah dan tetap harus waspada.

Semoga kita semua turut berkontribusi dalam menebarkan nilai-nilai persatuan dan perdamaian, sehingga radikalisme dan ektremisme dapat segera pergi dari bumi Indonesia ini. Wassalam. ***

Neng Nuraeni adalah Alumna Studi Agama-agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Referensi

Rangga Eka Saputra, Survei Nasional: Sikap dan Perilaku Keberagamaan di Sekolah dan di
Universitas, Convey Indonesia, Vol.1 No. 1 Tahun 2018, (Jakarta: Pusat Pengkajian Islam dan
Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 15-16.
Sania Mashabi, https://nasional.kompas.com/read/2021/04/03/14233951/media-sosial-masih-
digunakan-untuk-rekrut-teroris-dan-sebar-doktrin?page=all
Fitria Chusna Farisa, https://nasional.kompas.com/read/2021/01/20/07301501/5-poin-penting-
perpres-pencegahan-ekstremisme-dari-pelibatan-influencer?page=all

SUMBER artikel https://salamdamaisite.wordpress.com/2021/07/11/mimikri-gerakan-radikal-dan-ekstremis-dari-masa-ke-masa-bagaimana-solusinya/

Tue, 13 Jul 2021 @15:28

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved