Minat beli buku klik covernya
image

Minat BUKU hubungi WA Misykat

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Mengenal Ali bin Abu Talib, Amirul Mukminin as (bagian 1)

image


Nama: Ali

Gelar: al-Murtada

Julukan: Abu ' l-Hasan

Nama Ayah: Abu Talib bin 'Abdul-Muttalib

Nama Ibu: Fatimah binti Asad

Lahir: Di Ka'bah, Mekah pada hari Jumat, 13 Rajab 23 tahun sebelum Hijrah

Meninggal: Pada umur 63 tahun, di Kufah (Iraq) Senin, 21 Ramadhan 40 H. dibunuh oleh seseorang dengan pedang beracun di sebuah mesjid di Kufah pada saat sholat Subuh tanggal 19 Ramadhan; dimakamkan di an-Najaf al-Ashraf (Iraq).

Imam Ali adalah saudara sepupu Rasulullah saw. Beliau dilahirkan di Kabah. Allah yang membimbing ibunya pergi ke Ka’bah. Ketika sang ibu sampai di Ka’bah, ia  merasa akan melahirkan. Ia berlutut di depan bangunan suci itu dan berdoa dengan khusuk kepada Allah Swt. 'Abbas bin 'Abdul Muthalib, melihat ibunda Ali berdoa kepada Allah.

Tak lama setelah ia bangkit dari sujudnya, kemudian dinding Rumah Suci tersebut membuka. Fatimah memasuki Ka’bah dan dinding Ka’bah kembali menutup seperti semula. ‘Abbas dan teman-temannya berkerumun di depan gerbang Ka’bah yang terkunci dan mencoba untuk membukanya tetapi gagal. Kemudian mereka memutuskan untuk menyerah, mengingat telah terjadinya hal yang ajaib atas Kehendak-Nya. 

Kabar tentang kejadian ajaib tersebut dengan segera menyebar ke seluruh Mekah. Imam ‘Ali lahir di dalam Ka’bah dengan mata tertutup dan tubuh bersujud kepada Sang Maha Kuasa. Fatimah tetap tinggal di dalam Ka’bah selama tiga hari dan pada hari keempat ia keluar sambil menggendong putranya. Fatimah pun terkejut ketika ia mendapati Rasulullah saw telah menunggu untuk menggendong anak yang baru lahir tersebut. Merasakan sentuhan lembut dari sang nabi, ‘Ali membuka mata dan memberi salam kepada Rasulullah,: "as-Salamu 'alayka ya Rasulallah" (Damai padamu ya utusan Allah).

Kelahiran Imam 'Ali di Ka'bah unik dalam sejarah. Belum pernah ada nabi atau orang suci yang diberkahi dengan kehormatan seperti itu. Beliau dibesarkan di bawah perhatian dan kasih sayang Rasulullah. Seperti yang Imam ‘Ali katakan: “Rasulullah menggendongku dan menyuapiku dengan makanannya sendiri. Kuikuti beliau kemanapun beliau pergi seperti anak unta mengikuti induknya. Tiap hari satu hal baru akan keluar dari pribadinya yang agung dan aku menerimanya dan mengikutinya seperti sebuah perintah.” (Nahju 'l-balaghah).

Sepuluh tahun mengikuti Rasulullah membuat beliau sangat dekat dan tak terpisahkan, sehingga membuatnya menyamai karakter, pengetahuan, pengorbanan diri, kesabaran, keberanian, kebaikan, kedermawanan, kepandaian berpidato dan kefasihan berbicara Rasulullah. 

Semenjak masih sangat muda, beliau bersujud di hadapan Tuhan bersama Rasulullah. Seperti yang beliau katakan: “Aku adalah yang orang pertama yang berdoa kepada Allah bersama Rasulullah.” “’Ali selalu mengikuti Rasulullah,” kata al-Mas'udi, "sepanjang masa kecilnya."

Allah menciptakan beliau suci dan murni dan menjaganya tetap istiqamah  di jalan yang benar. Walaupun Imam ‘Ali, tidak diragukan lagi, termasuk yang pertama memeluk Islam ketika Rasulullah mengajak para pengikutnya untuk melakukannya, tapi karena dibesarkan oleh Rasulullah dan selalu mengikuti setiap tindakannya termasuk dalam berdoa kepada Allah, dapat dikatakan bahwa beliau terlahir sebagai seorang Muslim seperti Rasulullah sendiri. Imam ‘Ali selalu menemani Rasulullah untuk membantu dan melindungi dari musuh-musuhnya. Beliau pernah menulis ayat-ayat Al Qur’an dan mendiskusikannya dengan Sang Nabi segera setelah diwahyukan melalui Malaikat Jibril. 

Beliau sangat dekat dengan Rasullulah sehingga segera setelah sebuah ayat diwahyukan kepada Rasulullah pada waktu siang atau malam, Imam ‘Ali-lah yang pertama kali mendengarnya. Rasulullah bersabda kepada Imam ‘Ali: “Oh ‘Ali, engkaulah saudaraku di dunia dan di akhirat. Jika aku adalah kota ilmu pengetahuan maka ‘Ali adalah gerbangnya. Tiada seorang pun yang tahu ‘Ali kecuali Allah dan aku. Tiada seorang pun yang tahu aku kecuali Allah dan ‘Ali. Jika kau ingin tahu pengetahuan Nabi Adam, kesalehan Nabi Nuh, ketaatan Nabi Ibrahim, kekuatan Nabi Musa dan pelayanan dan kekuatan menahan nafsu Nabi Isa, lihatlah wajah ‘Ali yang bercahaya. 

Ketika Rasulullah saw tiba di Yathrib (Madinah) dan menemui para pengikutnya yang datang dari Mekah menuruti panggilannya, beliau dengan segera menunjuk untuk tiap pengikutnya, orang dari Yathrib, yang dikenal sebagai Ansar (Penolong), yang telah menerima kenabian Rasulullah, sebagai saudara bagi mereka. Penunjukan tersebut sangat membantu para pengungsi, yang dikenal sebagai Muhajirin (Emigran), yang meninggalkan rumah mereka dan hijrah ke Yathrib. Penunjukan sebagai saudara tersebut membuat kaum Muhajirin dapat bekerja dengan segera. 

Ketika Rasulullah sedang menunjuk tiap-tiap orang Ansar untuk menjadi saudara tiap-tiap orang Muhajirin Imam ‘Ali, yang juga ikut hadir, tidak diberikan seorang saudara pun dari kaum Anshar. Ketika ditanyakan alasannya, Rasulullah menjawab: “Ia harus menjadi saudaraku.”

Karakter dan kaliber Imam ‘Ali, seperti dikatakan oleh al-Mas’udi, adalah, “Jika nama yang harum sebagai Muslim pertama, sahabat Nabi di pengasingan, teman terpercaya Nabi pada perjuangan keimanan, kawan dekat Nabi pada kehidupan sehari-hari dan persaudaraannya dengan Nabi; jika pengetahuan nyata akan semangat dari ajaran Rasulullah dan Kitab; jika pengendalian diri dan praktik keadilan; jika kejujuran, kemurnian dan kecintaan pada kebenaran; jika pengetahuan akan hukum dan ilmu alam, merupakan suatu klaim untuk keutamaan, maka semua itu adalah bukti bahwa Imam ‘Ali adalah muslim yang paling utama. 

Tidak ada, di antara para pendahulu atau penerusnya, sifat-sifat sedemikian tersebut.” Gibbon berkata: “Kelahiran, persekutuan, karakter dari Imam ‘Ali yang membuat ia lebih agung dari orang-orang lain di negaranya, bisa menjadi suatu pembenaran dari klaimnya terhadap tahta Arab yang kosong. Putra Abu Talib mempunyai hak sebagai pimpinan Bani Hashim dan putra mahkota atau penjaga dari kota suci dan Ka’bah.”

“Imam ‘Ali mempunyai kualifikasi sebagai sastrawan, tentara dan orang suci; kebijaksanaannya masih berhembus dari kumpulan perkataan moral dan religiusnya; dan semua musuh-musuhnya, dalam berdebat atau berperang, dikalahkan oleh kepandaian berbicara dan keberaniannya. Dari awal perjuangannya sampai saat meninggalnya, Rasulullah tidak pernah ditinggalkan oleh teman setianya, yang dengan senang hati disebutnya sebagai saudara, wakil dan bagaikan Harun terhadap Musa.” (bersambung)

Artikel merupakan terjemahan dari buku A Brief History of The Fourteen Infallibles (page 59-69). Publisher: Ansariyan Publications Next day Shipping from Maryland; Fifth edition (January 1, 2005).


Tue, 13 Jul 2021 @15:51

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved