Minat beli buku klik covernya
image

Minat BUKU hubungi WA Misykat

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Lingkaran Setan Dunia Pendidikan

image

Pendidikan merupakan kebutuhan umat manusia karena pendidikan bisa membentuk manusia yang berbudi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Sebagaimana yang kita ketahui, tujuan dari pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia agar beriman dan bertakwa terhadap Allah, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap, mandiri, jujur, serta memiliki rasa tanggung jawab. Itu sebabnya, pendidikan harus mampu mempersiapkan warga Indonesia agar bisa berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, terampil, jujur, berdisiplin, bermoral, dan toleran. Karena itu, pendidikan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia umumnya.

Pendidikan Indonesia kian hari tampaknya tidak terlalu menggembirakan. Selain dikarenakan anggaran, rendahnya kualitas sumber daya manusia yang bergelut dalam pendidikan, dan sistem pendidikan yang sering berganti-ganti serta banyak disiplin ilmu yang dijejalkan. Juga mahalnya biaya pendidikan yang harus ditanggung masyarakat Indonesia, terutama bagi kaum dhuafa dan orang-orang miskin yang tidak masuk negeri, dan persoalan-persoalan kenakalan remaja yang marak terjadi di kota-kota besar.

Jika dibandingkan dengan Jepang, pendidikan di negeri kita sangat jauh tertinggal. Apalagi jika berbicara hasil, sumber daya manusia Indonesia sangat rendah. Mengapa Jepang bisa maju? Jawabannya karena Jepang sadar perihal pendidikan. Pemerintah Indonesia tampaknya tidak menganggap penting sebuah pendidikan. Hal ini terlihat dari pengelolaannya yang tidak serius dan profesional dan proses manajemen yang tidak transparan dan kebijakan yang tidak tepat sasaran, semakin membuat dunia pendidikan bangsa kita dirundung persoalan.

Bahkan, setiap ada perubahan menteri, yang muncul menjadi persoalan adalah berkutat pada masalah undang-undang, kurikulum, kebijakan ujian, honor para guru dan keterbatasan anggaran. Padahal bila melihat sumber daya alam yang begitu melimpah dan baru terolah sebagian, seharusnya masyarakat Indonesia bisa sejahtera. Namun kenyataannya kemiskinan dan pengangguran tetap mejadi musuh utama serta terus merasa kurang dalam masalah dana. 

Kurangnya perhatian pemerintah untuk membangun manusia Indonesia yang berkualitas menyebabkan terjadinya kemerosotan di dunia pendidikan. Sehingga terjadi peningkatan kemiskinan, pengangguran dan merebaknya tindakan kejahatan di tengah masyarakat. Mungkin bisa dibenarkan ungkapan orang bahwa kebodohan menyebabkan kemiskinan. Kemiskinan menyebabkan terhalangnya mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Karena tak berpendidikan, tak punya keterampilan, dan tak memiliki pengalaman hidup yang dapat menunjang kehidupannya, maka menjadi pengangguran dan biasanya terlibat dalam melakukan tindakan-tindakan asosial, amoral, dan menyimpang dari aturan.

Jelas, persoalan di atas bila terus menerus tidak disikapi dengan cepat dan tidak ada tindakan yang mengarah ke perbaikan, yang tampak adalah “lingkaran setan” di dunia pendidikan yang tidak berakhir. 

Pengamat pendidikan, Lidus Yardi, dalam tulisan yang berjudul “Potret Dunia Pedidikan: Menakar Sumber Daya Manusia Indonesia” menceritakan tentang “lingkaran setan” tersebut. Menurutnya, adanya tuduhan yang menyebabkan rendahnya mutu sumber daya manusia Indonesia disebabkan Perguruan Tinggi (PT) yang tak berkualitas. PT menyalahkan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tidak becus memproduksi calon mahasiswa. Pihak SMA menyalahkan Sekeloh Menengah Pertama (SMP) yang tak berhasil mendidik muridnya. Pihak SMP pun menyalahkan Sekolah Dasar (SD) yang tak becus mendidik anak-anaknya. Lalu pihak SD pun menuduh pihak PT tidak becus memproduksi calon guru yang berkualitas dalam mengajar. Begitulah seterusnya, saling menyalahkan. 

Mengapa “lingkaran setan” ini terjadi? Guru Besar Ilmu Pendidikan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung, Prof Dr H Ahmad Tafsir, mengungkapkan bahwa hal itu dapat dimengerti karena semua orang berkepentingan dengan pendidikan. Setiap orang yang ingin memperbaiki hidup, negara, dan dunia, pasti akan melakukannya melalui pendidikan. Bahkan, orang yang akan merusak negara juga akan melakukannya melalui pendidikan. Jadi, semua orang yang hidup di dunia ini berkepentingan dengan dunia pendidikan. Tidak heran carut marutnya pendidikan di Indonesia ini disebabkan banyaknya kepentingan, terutama kepentingan politik. 

Menurut Ahmad Tafsir, ada tiga yang salah dalam pendidikan nasional Indonesia. Pertama, kurang fokus kepada pendidikan Imtaq (Iman dan Taqwa) sehingga basis untuk akhlak itu lemah. Yang kedua, kurang fokus kepada penajaman kompetensi. Yang ketiga, kurang fokus pada pempraktekkan demokrasi dan dan terkesan menyalahgunakan demokrasi.

Kalau melihat sejak tahun 2003, menurut Tafsir ada perubahan sedikit. Yakni perubahan sistem pendidikan nasional, yang memasukan pesantren atau madrasah ke pendidikan nasional. Dampaknya banyak bermunculan sekolah umum plus (agama) yang didirikan yayasan-yayasan Islam. Fenomena ini memang cukup menggembirakan karena itu menjadi syiar agama dan kehidupan masyarakat terbingkai dengan nilai-nilai agama, yang merupakan hasil dari pendidikan.  

Tapi, apakah semua masyarakat Indonesia bisa mendapat pendidikan yang layak dan mencerahkan masa depan? Belum lagi persoalan tenaga pengajar yang kurang mumpuni dalam ilmunya, dan  sarana pendidikan pun sangat memprihatikan. Begitu juga pesoalan warga miskin atau dhuafa yang seharusnya mendapatkan pendidikan. Harus disadari memang kita tidak bisa mengandalkan pemerintah yang hanya bisa mengalokasikan dana pemdidikan di bawah negara tetangga.

Harapan mewujudkan masyarakat yang cerdas, beradab, bermoral, dan terampil, hanya tinggal harapan jika tidak ada yang ikut peduli dalam menyelesaikan persoalan-persoalan pendidikan. Karena itu, kita secara bersama harus berbuat dan berkontribusi dalam pendidikan. *** (ahmad sahidin/artikel ini pernah dimuat pada majalah Swadaya)

 

Mon, 30 Aug 2021 @21:49

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved